SERAMBINEWS.COM - Buku mewarnai untuk orang dewasa semakin populer sebagai cara sederhana untuk meredakan stres dan membuat pikiran lebih rileks.
Penelitian menunjukkan bahwa terapi mewarnai berpotensi membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi serta meningkatkan emosi positif pada penderita GAD.
Aktivitas ini bekerja dengan mengalihkan perhatian pada proses mewarnai sehingga memiliki kemiripan dengan konsep mindfulness.
Selain itu, mewarnai juga menjadi bentuk ekspresi kreatif yang mudah dilakukan tanpa tuntutan menghasilkan karya yang sempurna.
Rasa puas setelah menyelesaikan gambar dapat membantu memperbaiki suasana hati.
Meski menjanjikan, terapi mewarnai masih memerlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar.
Baca juga: KPK Hentikan 6 Kasus Korupsi Hingga Pertengahan 2026, Termasuk Perkara Putra Aceh Indra Iskandar
Mewarnai dapat dijadikan bagian dari perawatan diri sehari-hari selama sekitar 20–30 menit.
Namun, aktivitas ini bukan pengganti psikoterapi atau pengobatan, sehingga konsultasi dengan psikolog atau psikiater tetap diperlukan bila kecemasan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Seperti diketahui, beberapa tahun terakhir, buku mewarnai untuk orang dewasa atau adult coloring book semakin populer sebagai salah satu cara untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas yang padat.
Tak sedikit orang memilih menghabiskan waktu dengan mengisi pola-pola gambar menggunakan pensil warna atau spidol karena dianggap mampu membuat pikiran lebih rileks.
Kini, anggapan tersebut mulai didukung oleh sejumlah penelitian ilmiah.
Salah satunya adalah studi yang diterbitkan dalam jurnal Animal Models and Experimental Medicine.
Baca juga: Tertibkan PKL Depan Sekolah, Satpol PP-WH Banda Aceh Tegaskan Bukan Halangi Cari Nafkah
Penelitian tersebut menemukan bahwa terapi mewarnai berpotensi membantu mengurangi kecemasan sekaligus meningkatkan suasana hati pada pasien dengan Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau gangguan kecemasan menyeluruh.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa aktivitas mewarnai bukanlah pengganti pengobatan atau psikoterapi.
Sebaliknya, kegiatan ini dapat menjadi terapi pendamping untuk mendukung penanganan gangguan kecemasan.
Penelitian melibatkan 88 orang dewasa berusia 18 hingga 65 tahun yang telah didiagnosis mengalami GAD.
Seluruh peserta mendapatkan terapi standar sesuai kondisi masing-masing. Namun, sebagian peserta juga mengikuti terapi mewarnai selama tiga minggu.
Baca juga: El Nino Berisiko Kebakaran hingga Krisis Air, Ini Pesan Kapolresta Banda Aceh
Dalam sesi tersebut, mereka diminta mewarnai pola-pola tertentu menggunakan berbagai pilihan warna sebagai bagian dari intervensi yang telah dirancang peneliti.
Selama penelitian berlangsung, peneliti mengukur tingkat kecemasan, depresi, serta emosi positif dan negatif menggunakan instrumen psikologis yang telah tervalidasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang mengikuti terapi mewarnai mengalami penurunan gejala kecemasan dan depresi yang lebih besar dibandingkan kelompok yang hanya menjalani terapi standar.
Selain itu, mereka juga melaporkan peningkatan emosi positif setelah program selesai.
Temuan ini menunjukkan bahwa terapi mewarnai berpotensi menjadi pelengkap dalam penanganan gangguan kecemasan, meski masih diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar untuk memperkuat hasil tersebut.
Baca juga: VIDEO Gedung Perbankan di Pejompongan Tanah Abang Jakarta Dipasang Pagar Emas
Menurut peneliti, mewarnai melibatkan perhatian penuh pada aktivitas yang sedang dilakukan.
Saat memilih warna, mengikuti pola gambar, dan menggerakkan tangan secara berulang, perhatian seseorang beralih dari pikiran yang dipenuhi kekhawatiran menuju tugas yang ada di hadapannya.
Proses tersebut memiliki kemiripan dengan konsep mindfulness, yaitu memusatkan perhatian pada momen saat ini tanpa menghakimi apa yang sedang dirasakan.
Selain itu, mewarnai juga menjadi bentuk ekspresi kreatif yang tidak menuntut kemampuan menggambar. Siapa pun dapat melakukannya tanpa tekanan untuk menghasilkan karya yang sempurna.
Aktivitas sederhana ini juga dinilai mampu memberikan rasa kendali, terutama bagi orang yang sedang mengalami tekanan emosional.
Ketika seseorang berhasil menyelesaikan satu gambar, muncul perasaan puas yang dapat membantu memperbaiki suasana hati.
Di tengah kesibukan sehari-hari, meluangkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit untuk mewarnai dapat menjadi salah satu bentuk self-care.
Aktivitas ini dapat dilakukan sambil mendengarkan musik yang menenangkan atau di ruang yang minim distraksi agar tubuh dan pikiran lebih rileks.
Namun, penting untuk dipahami bahwa manfaat mewarnai tidak serta-merta menghilangkan gangguan kecemasan.
Bila rasa cemas berlangsung terus-menerus, sulit dikendalikan, atau mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater tetap menjadi langkah yang paling dianjurkan.
Dengan kata lain, mewarnai dapat menjadi pelengkap yang membantu seseorang merasa lebih tenang, tetapi bukan pengganti terapi maupun pengobatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan profesional. (*)
Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2026/08/03/220000920/aktivitas-mewarnai-ternyata-bisa-membantu-meredakan-kecemasan-ini