Tembus Keterbatasan Hidup, Anak Tukang Kebun FISIP Undip Lulus Cumlaude Magister Ilmu Komunikasi
M Syofri Kurniawan August 04, 2026 06:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Prosesi wisuda selalu menghadirkan sisi cerita yang berkesan buat para lulusan.

Selain berdiri di atas panggung, ada mereka yang berhasil menembus berbagai keterbatasan. 

Mereka mampu membuktikan bahwa ketekunan dan semangat pantang menyerah mampu mengantarkan mimpi menjadi kenyataan.

Hal itu turut dirasakan salah satu lulusan magister Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip), pada pelaksanaan Wisuda ke-183 Universitas Diponegoro yang digelar dalam lima tahap pada 27–31 Juli 2026 lalu.

Sosok tersebut adalah Kristiyawanto, anak tukang kebun FISIP Undip, yang sukses menyelesaikan studi Magister Ilmu Komunikasi dengan memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,89 dengan predikat Cumlaude.

BERFOTO BERSAMA - Kristiyawanto bersama ayah dan ibunya usai Wisuda ke-183 Universitas Diponegoro. Dukungan kedua orang tua yang bekerja sebagai perawat taman di FISIP Undip menjadi penyemangat hingga ia berhasil meraih gelar magister dengan predikat cumlaude.
BERFOTO BERSAMA - Kristiyawanto bersama ayah dan ibunya usai Wisuda ke-183 Universitas Diponegoro. Dukungan kedua orang tua yang bekerja sebagai perawat taman di FISIP Undip menjadi penyemangat hingga ia berhasil meraih gelar magister dengan predikat cumlaude. (TRIBUN JATENG/kristiyawanto)

Kris, sapaan akrabnya, sehari-hari bekerja sebagai Koordinator Produksi Video di media Tribun Jateng.

Ia pun mampu membuktikan diri, kesibukannya dalam pekerjaan mampu dilakukan berbarengan dengan menempuh pendidikan tinggi di bangku perkuliahan.

Tak cuma status cumlaude kemudian yang menjadi momen berharga bagi lelaki asal Bandungan, Kabupaten Semarang itu. Yang menarik adalah kedua orang tuanya merupakan pekerja pembersih taman di kompleks FISIP Undip, tempat Kris melanjutkan studi S2. Kisah inspiratif tersebut juga dibagikan Kris di media sosial instagram pribadinya.

"Bersenang-senang di Taman Bikinan Bapak Ibu, Anaknya kuliah di dalam, Bapak dan Ibu Memperindah. Salah satu keajaiban @fisipundip.official . Anak tukang taman FISIP Undip, akhirnya wisuda S2!," tulis Kris mengawali cerita singkatnya di Instagram.

Kris mengungkapkan bahwa kedua orangtuanya merupakan pekerja lepas di lingkungan FISIP Undip yang bertugas merawat taman. Karena berada di lokasi kampus yang sama, saat bapak dan ibunya ada pekerjaan garap perawatan taman, maka Kris pun bisa bertemu mereka.

"Status bapak ibu saya sebagai tenaga panggilan, saat pihak fakultas membutuhkan perawatan taman, mereka dipanggil untuk membenahi. Beberapa kali ada momen bisa saling bertemu bersama di kampus, saya beraktivitas kuliah, bapak ibu saya kerja garap taman," kata dia yang pendidikan sarjananya ia tempuh di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan beasiswa Bidikmisi.

Karena keunikan kisah hidupnya ini, sesaat setelah mengikuti prosesi wisuda, Kris pun mengabadikan foto dengan kedua orang tuanya dengan latar taman hasil perawatan tangan dingin orangtuanya tersebut.

Tak lupa, ia mengabadikan momen bersama kedua orang tuanya dengan mengenakan toga.

Kata Kris, foto itu jauh lebih berharga dibandingkan sekadar dokumentasi wisuda.

"Mereka enggak pernah ngerti apa itu SKS, apa itu tesis, apa itu cumlaude. Apalagi ngebayangin, gimana rasanya kuliah S2 sambil kerja, bolak-balik kantor-kampus, begadang ngerjain tesis sehabis pulang kerja," tulisnya dalam unggahan yang kemudian menarik perhatian netizen di media sosial.

Selama menempuh pendidikan, ia harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan.

Hari-harinya diisi dengan rutinitas bekerja, menghadiri kelas, hingga menyelesaikan tesis larut malam.

Di tengah kelelahan itu, dukungan orang tua menjadi penyemangat terbesar.

Menurutnya, sang ayah dan ibu mungkin tidak memahami istilah-istilah akademik. Namun keduanya selalu memahami satu hal, yakni mendoakan anaknya agar dimudahkan dalam setiap ujian kehidupan.

"Yang mereka tahu cuma satu, mereka puasa, berdoa dan salat malam untuk mendoakan anaknya menghadapi ujian, sejauh dan seberat apa pun itu," ungkapnya.

Setiap kali ia mengeluh kelelahan karena harus bekerja sambil kuliah, kedua orang tuanya hanya memberikan pesan sederhana dalam bahasa Jawa.

"Terusno, ojo mandheg, lanjutkan, jangan berhenti," kenangnya.

Kris menambahkan, pencapaian tersebut bukan semata tentang gelar akademik atau predikat cumlaude.

"Bukan gelar S2 ini yang paling aku banggakan. Tapi punya orang tua yang percaya dengan anaknya, walau mereka sendiri enggak pernah dikasih kesempatan itu, dan tetap support meski anaknya kuliah sambil kerja," tulisnya.

Pada pelaksanaan Wisuda ke-183 Universitas Diponegoro yang digelar dalam lima tahap pada 27–31 Juli 2026.

Dalam laporannya, Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan Undip, Heru Susanto, menyampaikan, sebanyak 5.925 lulusan mengikuti wisuda kali ini. Jumlah tersebut terdiri atas 109 lulusan program doktor, 553 program magister, 103 program spesialis, 378 program profesi, 4.106 program sarjana, dan 677 program sarjana terapan.

Di antara ribuan wisudawan tersebut, kisah anak tukang kebun yang mempersembahkan gelar magister untuk kedua orang tuanya menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya lahir dari kecerdasan, tetapi juga dari doa yang tak pernah putus dan ketulusan orang tua yang selalu percaya pada mimpi anaknya. (F Ariel Setiaputra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.