3 Singa Mati Diduga Heatstroke di Kebun Binatang Tokyo, Gelombang Panas Jepang Kian Mematikan
Facundo Chrysnha Pradipha August 05, 2026 09:14 AM

TRIBUNNEWS.COM - Gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang kini tak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga satwa liar.

Tiga ekor singa betina di Kebun Binatang Tama, Tokyo, dilaporkan mati akibat dugaan serangan panas (heatstroke) setelah suhu tinggi dan kelembapan ekstrem melanda wilayah tersebut, Channel News Asia melaporkan.

Sejak pertengahan Juli, 10 dari 16 singa yang dipelihara di Kebun Binatang Tama mengalami penurunan aktivitas, kehilangan nafsu makan, hingga menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.

Seekor singa mati pada Selasa (28/7/2026), disusul kematian dua singa lainnya pada Jumat (31/7) dan Minggu (2/8/2026).

Juru bicara kebun binatang mengatakan hasil pemeriksaan dokter hewan menemukan tanda-tanda dehidrasi berat dan kegagalan multi organ.

"Menurut dokter hewan kami, penyebab kematian diduga karena serangan panas," kata juru bicara Kebun Binatang Tama kepada AFP.

Pihak kebun binatang menjelaskan bahwa singa memang berasal dari wilayah panas seperti Afrika.

Namun, karakter panas di Jepang berbeda karena disertai kelembapan yang sangat tinggi.

"Panas di sini berbeda dengan panas kering di Afrika. Musim panas tahun ini juga datang sangat mendadak setelah musim hujan berakhir," ujar juru bicara tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, pengelola sebenarnya telah memasang kipas angin, meningkatkan ventilasi kandang, menyemprotkan air, hingga memasang pendingin udara di beberapa area.

Baca juga: Heatstroke Ancam Warga di Lokasi Gempa Jepang, PM Takaichi: Penyelamatan Masuki Fase Krusial

Langkah tersebut tidak mampu menahan dampak lonjakan suhu musim panas tahun ini.

Beberapa singa lainnya hingga kini masih menjalani perawatan intensif dan kandang singa masih ditutup untuk pengunjung.

The Independent melaporkan, ini merupakan pertama kalinya singa mati akibat dugaan heatstroke sejak Kebun Binatang Tama mulai memelihara satwa tersebut pada 1964.

Perwakilan kebun binatang, Miwa Kosaka, mengaku pihaknya tidak pernah menghadapi kondisi serupa.

"Ini pertama kalinya kami mengalami situasi seperti ini. Tahun lalu juga panas, tetapi tidak ada singa kami yang jatuh sakit seperti sekarang," ujarnya kepada BBC.

Kasus tersebut terjadi ketika Jepang kembali dilanda salah satu musim panas terburuk dalam sejarah modern.

Kokushobi

Badan Meteorologi Jepang bahkan memperkenalkan istilah baru, kokushobi atau "hari yang sangat panas", untuk hari-hari ketika suhu menembus 40 derajat Celsius.

Menurut data Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang, sebanyak 18.591 orang dilarikan ke rumah sakit akibat heatstroke hanya dalam periode 20-26 Juli.

Sebanyak 45 orang dinyatakan meninggal dunia saat tiba di rumah sakit.

Mayoritas korban merupakan warga lanjut usia.

Pemerintah Jepang sendiri menargetkan menurunkan angka kematian akibat heatstroke hingga 50 persen pada 2030.

Baca juga: Ciri-ciri Heatstroke yang Wajib Diwaspadai Jemaah Haji

Para ilmuwan juga terus mengingatkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan frekuensi sekaligus intensitas gelombang panas ekstrem di Jepang maupun berbagai negara lain.

Tips Cegah Heatstroke

Berikut adalah tips efektif untuk mencegah heatstroke (serangan panas) berdasarkan panduan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Mayo Clinic:

1. Jaga Tubuh Tetap Terhidrasi

  • Minum Air Tanpa Menunggu Haus

    Menurut CDC, jangan menunggu hingga merasa haus baru minum. Minumlah air putih secara berkala sepanjang hari.
  • Hindari Minuman Tertentu

    Batasi atau hindari alkohol, kafein, serta minuman berkarbonasi/tinggi gula karena dapat mempercepat dehidrasi.
  • Indikator Hidrasi

    Mayo Clinic menyarankan untuk mengecek warna urin; warna kuning muda atau jernih menandakan tubuh terhidrasi dengan baik.

2. Kenakan Pakaian dan Pelindung yang Tepat

  • Gunakan Pakaian Longgar dan Ringan

    Pakai baju berbahan ringan (seperti katun atau linen), berukuran longgar, dan berwarna cerah agar keringat dapat menguap serta mendinginkan tubuh.
  • Gunakan Tabir Surya (Sunscreen)

    Mayo Clinic mencatat bahwa kulit yang terbakar sinar matahari (sunburn) mengganggu kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri.

    Gunakan tabir surya berspektrum luas (broad-spectrum) minimal SPF 15 atau 30, serta aplikasikan ulang secara berkala.
  • Pakai Aksesori Pelindung

    Kenakan topi bertepi lebar (wide-brimmed hat) dan kacamata hitam saat berada di luar ruangan.

3. Atur Aktivitas Fisik

  • Jadwalkan di Waktu Sejuk

    Lakukan aktivitas fisik berat atau olahraga pada saat suhu udara lebih dingin, seperti pagi hari atau malam hari.
  • Istirahat Berkala

    Jika harus beraktivitas di bawah terik matahari, carilah tempat berteduh untuk istirahat secara rutin.
  • Aklimatisasi Diri

    Mayo Clinic mengingatkan untuk membatasi durasi latihan/kerja di tempat panas jika tubuh belum terbiasa.

    Tubuh membutuhkan waktu beberapa minggu untuk beradaptasi dengan cuaca panas yang ekstrem.

4. Cari Tempat Berpendingin (Cooling Center)

  • Manfaatkan AC

    CDC menekankan bahwa berada di ruangan ber-AC adalah perlindungan paling efektif terhadap penyakit akibat panas.
  • Batasan Kipas Angin

    Kipas angin listrik mungkin tidak dapat mencegah penyakit akibat panas ketika suhu udara sangat tinggi (di atas 32 derajat Celsius/90 derajat Fahrenheit), karena kipas hanya menghembuskan udara panas ke tubuh.

Baca juga: Kenali Tanda Dehidrasi untuk Cegah Heatstroke saat Ibadah Haji: Mulut Kering, Urine Berwarna Keruh

5. Peringatan Penting (Jangan Pernah Tinggalkan Siapa Pun di Mobil)

Peringatan CDC & Mayo Clinic:

  • Jangan pernah meninggalkan anak-anak, lansia, atau hewan peliharaan di dalam mobil yang terparkir, bahkan dengan kaca jendela terbuka sedikit.
  • Suhu di dalam kendaraan dapat melonjak hingga lebih dari 11 derajat Celsius dalam waktu hanya 10 menit dan berakibat fatal.

Kapan Harus Mencari Bantuan Medis?

Heatstroke adalah keadaan darurat medis (medical emergency). Segera hubungi layanan darurat jika melihat seseorang mengalami:

  • Suhu tubuh sangat tinggi (lebih dari 40 derajat Celsius)
  • Linglung, gelisah, atau bicara meracau
  • Kulit merah, panas, dan kering (atau berkeringat sangat deras)
  • Mual, muntah, atau pingsan

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.