Komisi D DPRD Sleman Dorong Alat Deteksi Makanan MBG Karya Pelajar Turi Diproduksi Massal
Hari Susmayanti August 05, 2026 06:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sleman melakukan kunjungan kerja ke SMPN 1 Turi untuk melihat dan menguji langsung bagaimana cara kerja alat deteksi kesegaran makanan yang diciptakan oleh pelajar sekolah tersebut.

Inovasi alat ini digunakan untuk mendeteksi makanan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tersebut sebelum dibagikan kepada siswa. Tujuannya untuk mencegah terjadinya kasus keracunan.

Setelah melihat cara kerjanya, Komisi D menilai alat tersebut luar biasa, meskipun masih membutuhkan pengembangan.

Mereka berencana mendorong Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sleman yang menangani penelitian, agar inovasi karya siswa ini dapat dijadikan standar pengujian di seluruh satuan pendidikan, baik tingkat SMP maupun SD di wilayah Bumi Sembada. 

"Nanti akan kami dorong supaya alat ini bisa menjadi standar di SMP seluruh Kabupaten Sleman. Tidak hanya SMP sih, kalau bisa juga SD juga nanti akan kami dorong ke sana," kata Ketua Komisi D DPRD Sleman, Arif Priyosusanto didampingi anggota komisi, Raudi Akmal, usai melihat cara kerja alat tersebut, Rabu (5/8/2026). 

Alat deteksi kesegaran makanan ini dibuat oleh dua pelajar kelas 9B SMPN 1 Turi, bernama Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho.

Alat yang dilengkapi dengan berbagai sensor ini dirancang untuk memastikan apakah makanan yang hendak dikonsumsi masih layak atau tidak. Terutama pada menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Baca juga: Soal Wacana Kenaikan Gaji Kepala Daerah, Begini Respon Sri Sultan HB X

Berawal dari riset daring dan diskusi bersama, kedua siswa ini memutuskan merancang perangkat praktis yang mampu mendeteksi kelayakan konsumsi suatu makanan hanya dalam waktu sekitar lima detik. 

Alat ini bekerja menggunakan sejumlah komponen sensor yang saling mendukung. Otak dari perangkat ini dikendalikan oleh mikrokontroler ESP32 yang dilengkapi konektivitas Wi-Fi dan Bluetooth.

Sementara kestabilan suhu di dalam kotak sampel dijaga menggunakan kipas.

Beberapa sensor yang ditanam meliputi Sensor MQ3 yang berfungsi untuk mendeteksi kandungan alkohol atau tingkat kesegaran makanan.

Kemudian sensor MQ135 yang digunakan untuk mengecek kualitas udara di sekitar sampel makanan.

Sensor DHT11 berfungsi untuk mengukur suhu di dalam ruangan kotak sampel dan Sensor TCS3200 digunakan untuk mendeteksi kandungan pestisida, misalnya pada buah atau bahan pangan lainnya.

Cara pengoperasian alat ini tergolong mudah. Sampel makanan yang akan diuji, misalnya sampel dari program MBG, dimasukkan ke dalam boks atau kotak khusus yang disediakan.

Layar indikator pada perangkat nantinya akan menampilkan informasi, apakah makanan tersebut dalam kondisi aman atau tidak layak konsumsi.

Arif mengapresiasi atas inovasi yang diciptakan oleh para siswa tersebut.

Menurutnya, penemuan detektor MBG ini merupakan langkah pencegahan yang luar biasa untuk memastikan kelayakan konsumsi makanan sebelum didistribusikan ke seluruh siswa.

"Detektor MBG ini merupakan sebuah inovasi baru. Karena kita tahu ini sebagai pencegahan untuk melihat atau mengecek makanan yang diberikan itu masih layak makan atau enggak. Dan ini merupakan penemuan yang luar biasa menurut saya," ujar Arif. 

Mengenai rencana produksi massal, Politisi Partai Gerindra ini menyatakan bahwa pendanaannya akan diupayakan melalui anggaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, sementara pembuatan prototipe dan pengolahan alat tetap dipercayakan kepada para siswa yang menciptakan alat.

Jika disetujui, dalam tahap awal, fokus utama adalah penyempurnaan fungsi alat serta penambahan indikator-indikator pengujian.

Selain itu, dewan juga berkomitmen mendorong Bappeda agar memproses hak paten atas temuan tersebut agar menjadi hak milik resmi para pelajar penciptanya.

"Yang paling utama kan dihak patenkan dulu, kita dorong Bappeda untuk membantu bagaimana paten ini bisa menjadi milik anak-anak yang menemukan alatnya itu," ujar Arif. 

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Turi, Hospita Henny menyambut baik kunjungan kerja dan dukungan penuh yang diberikan oleh Komisi D DPRD Sleman.

Pihaknya mengaku setuju dengan pengembangan inovasi alat deteksi makanan ini dengan tetap memprioritaskan legalitas hak paten atas karya siswanya sebelum disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain.

"Kami sangat mendukung, tapi yang jelas bahwa ini adalah penemuan dari anak-anak kami. Ibaratnya nanti ada hak patennya dari sekolah kami dulu, baru nanti bisa untuk kita tularkan ke sekolah-sekolah yang lain. Supaya nanti sekolah lain juga bisa menikmati hasilnya," ungkap Hospita.(*) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.