Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, kawasan Pasar Pagi Asemka, Jakarta Barat, kembali dipenuhi pedagang musiman yang menjual aneka atribut merah putih.
Di balik semarak bendera yang berkibar, tersimpan kisah perjuangan para perantau yang rela meninggalkan keluarga demi mencari rezeki.
Salah satunya adalah Ibnu Sahara (36), pedagang asal Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Selama sekitar satu bulan, ia menetap di Jakarta untuk berjualan bendera, umbul-umbul, hingga berbagai aksesori kemerdekaan.
Ibnu mengaku mulai membuka lapaknya sejak sekitar 20 Juli 2026 untuk menyambut meningkatnya permintaan menjelang peringatan 17 Agustus.
"Awal jualan dari bulan Juli, sekitar tanggal 20-an," ujar Ibnu saat ditemui Wartakotalive.com, Rabu (5/8/2026).
Rela Tinggalkan Istri dan Anak
Selama berdagang di Jakarta, Ibnu menyewa kamar kos di kawasan Perniagaan yang lokasinya tak jauh dari Pasar Asemka.
Untuk satu kamar, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp700 ribu per bulan.
Bersama rekan-rekannya, ia menyewa lima kamar sebagai tempat tinggal sementara.
"Per bulannya sampai Rp700.000 yang satu kamar. Kita pesan lima kamar," katanya.
Sementara itu, istri dan anaknya tetap tinggal di kampung halaman di Cirebon.
"Di kampung. Saya ke sini memang musiman," ujarnya.
Sudah 16 Tahun Jualan Bendera
Menjadi pedagang atribut kemerdekaan bukan pekerjaan baru bagi Ibnu. Ia telah menekuni usaha tersebut sejak 2010, bahkan sebelum berkeluarga.
Awalnya ia berjualan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun, sekitar 2016 ia memutuskan pindah ke Pasar Asemka karena jumlah pembeli di lokasi lama mulai berkurang.
"Awal-awal di Tanah Abang. Pindah karena peminatnya sudah jarang. Alhamdulillah pas pindah ke Asemka lumayan," katanya.
Menurutnya, Asemka menjadi salah satu pusat penjualan atribut kemerdekaan yang selalu ramai didatangi pembeli dari berbagai daerah setiap menjelang HUT RI.
Produksi Sendiri dari Cirebon
Sebagian besar barang dagangan yang dijual Ibnu merupakan hasil produksi sendiri di Cirebon.
Mulai dari bendera, umbul-umbul, background dekorasi hingga berbagai ornamen perayaan dibuat di kampung halamannya jauh sebelum musim kemerdekaan tiba.
Sementara produk bergambar Garuda didatangkan dari perajin di Garut.
Umbul-umbul Paling Laris
Dari berbagai produk yang dijual, umbul-umbul masih menjadi barang yang paling banyak dicari pembeli.
Harga umbul-umbul ukuran 2,5 meter dibanderol mulai Rp15 ribu, sedangkan ukuran lima meter dijual Rp60 ribu.
Pembelinya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari warga, sekolah, instansi pemerintah, perusahaan hingga toko ritel modern.
Bahkan, saat ditemui, Ibnu baru saja mengirim pesanan 105 lembar background dekorasi ke Semarang.
Penjualan Belum Seramai Tahun Lalu
Meski pengunjung mulai berdatangan, Ibnu mengaku penjualan tahun ini belum seramai periode yang sama pada 2025.
Ia berharap permintaan akan meningkat mendekati 17 Agustus.
Bagi Ibnu, musim kemerdekaan bukan sekadar momentum berjualan, tetapi juga kesempatan mencari nafkah untuk keluarga.
Usai musim kemerdekaan berakhir, ia akan kembali ke Cirebon. Jika masih ada stok yang tersisa, barang-barang tersebut akan disimpan dan dijual kembali pada tahun berikutnya.