Pedagang Bendera Musiman di Polman Menjerit Karena Sepi Pembeli
Abd Rahman August 07, 2026 03:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN-Pedagang bendera dan pernak-pernik Merah Putih mulai bermunculan di sejumlah titik di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekan Republik Indonesia (RI) ke-81, Jumat (7/8/2026).

Namun pedagang mengeluh, sebab melemahnya kondisi perekonomian masyarakat membuat omset yang diperoleh ikut menurun.

Seperti diungkapkan Jena Arifin (29), perantau asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang mangkal di pinggir jalan.

Baca juga: Disnaker Sulbar Klaim Hanya 9 Kasus Pekerja di PHK Sepanjang 2026

Baca juga: Berawal Bakar Lahan untuk Menanam, Kebakaran Lahan 1 Hektar di Gunung Kapal Mateng Meluas

Setiap tahun Jena Arifin datang ke Polman untuk berjualan bendera merah putih dan berbagai pernak-pernik kemerdekaan.

“Sekarang pembeli kurang, mungkin penyebabnya karena ekonomi masyarakat yang lemah,” kata Jena kepada wartawan.

Dia mengaku profesi musiman ini sudah dijalankan selama hampir satu dekade.

Setiap tahun menjelang bulan Agustus, dia sengaja ke Polman untuk mencari rezeki dari semangat masyarakat menyambut hari kemerdekaan.

Tahun ini, Jena berjualan bendera merah putih dan pernak pernik kemerdekaan lainnya di kawasan Alun-Alun Lampa.

Diakui, pembeli yang datang belum seramai tahun-tahun sebelumnya meski sudah dua pekan membuka lapak.

Di lapaknya, Jena menawarkan berbagai ukuran bendera merah putih, umbul-umbul, hingga sejumlah aksesories bernuansa merah putih lainnya. 

Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai Rp10 ribu hingga Rp350 ribu, tergantung ukuran dan jenis barang.

“Harganya macam-macam. Paling murah sepuluh ribu, paling mahal tiga ratus lima puluh ribu,” ungkapnya.

Bagi Jena, penurunan penjualan tahun ini cukup terasa. 

Sebab, modal yang dikeluarkan untuk mendatangkan barang dari Garut cukup besar. 

Apalagi, dia menempuh perjalanan jauh membawa ratusan bendera, umbul-umbul, dan berbagai aksesories kemerdekaan yang diproduksi di kampung halamannya.


“Modal saja sampai sekarang belum kembali, masih jauh dibanding tahun kemarin. Kalau dulu bisa dapat 20 juta sekarang baru dapat 4,5 juta jauh,” ucapnya.

Meski hasil penjualan yang diperoleh belum sesuai harapan, Jena memilih bertahan. 

Dia optimistis penjualan akan ikut membaik seiring semakin dekatnya peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang.(*)


Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.