Musim Kemarau Tiba, Perhutani Bondowoso Ajak Warga Latihan Cara Cepat Padamkan Kebakaran Hutan
Pipit Maulidya August 07, 2026 05:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Memasuki musim kemarau yang panas, risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Bondowoso, Jawa Timur mulai diwaspadai.

Untuk mencegah kerusakan alam yang lebih parah, Perhutani KPH Bondowoso bersama warga menggelar latihan bersama atau simulasi memadamkan api di kawasan hutan.

Dalam latihan ini, puluhan petugas Perhutani dan warga desa hutan bahu-membahu mempraktikkan cara memadamkan api.

Mereka menggunakan alat sederhana seperti gepyok (pukulan dari bambu/karet) hingga mesin tiup khusus (blower) untuk menjinakkan si jago merah.

Latihan ini dibuat semirip mungkin dengan kejadian nyata. Misalnya, ada skenario warga yang membakar ubi lalu apinya merembet karena angin kencang.

Hal ini dilakukan agar petugas dan masyarakat tidak panik saat menghadapi kebakaran yang sesungguhnya.

Waspada Cuaca Panas dan Daun Kering

Pimpinan Perhutani (ADM) KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, mengatakan bahwa kegiatan ini adalah persiapan penting menghadapi kemarau panjang.

Apalagi saat ini ada fenomena El Nino yang membuat cuaca sangat terik, sumber air berkurang, dan banyak daun kering yang mudah terbakar.

"Kami secara internal mengadakan apel siaga Karhutla," kata Munir saat ditemui, Jumat (7/8/2026).

Untuk mempercepat penanganan, Perhutani sudah menyiapkan delapan Posko Bencana Alam yang tersebar di beberapa titik, mulai dari Bondowoso, Sukosari, Wonosari, Klabang, Prajekan, Penarukan, hingga Besuki.

"Total ada 8 posko, untuk wilayah Ijen bergabung dengan Sukosari," tambahnya.

Penyebab Kebakaran Sering Karena Kelalaian

Munir menjelaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir sudah mulai muncul titik api. Kebakaran paling parah sempat terjadi di kawasan Arak-arak, Situbondo, yang menghanguskan sekitar empat hektare lahan.

Kerugiannya pun tidak main-main, bisa mencapai ratusan juta rupiah karena pohon pinus yang siap panen ikut ludes terbakar.

"[Kebakaran di Arak-arak] terjadi hampir setiap tahun. Rata-rata area yang paling sering terbakar memang Hutan Produksi," ungkap Munir.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kebanyakan kebakaran hutan terjadi karena kecerobohan manusia. Contohnya seperti membuang puntung rokok sembarangan di pinggir jalan atau warga yang membakar sampah daun lalu ditinggalkan begitu saja.

Selain itu, ada juga faktor dari pemburu liar.

"Ada juga pemburu di daerah rimba pinus yang membuat perapian atau api unggun lalu lupa memadamkannya secara sempurna," jelasnya.

Minta Masyarakat Lapor Jika Melihat Api

Pihak Perhutani terus melakukan patroli rutin dan bekerja sama dengan Masyarakat Peduli Api (MPA). Munir sangat berterima kasih karena sejauh ini warga sekitar hutan sangat membantu petugas.

"Masyarakat sangat kooperatif. Begitu melihat ada titik api, mereka langsung mengabari kami dan warga sekitar," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.