TRIBUNWOW.COM - Museum Tahir Solo kini telah menjadi ikon edukasi yang unik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Mengusung konsep dari masa lalu hingga masa depan, museum ini menghadirkan pengalaman belajar yang berhasil menarik perhatian masyarakat.
Dikutip TribunWow.com, Selasa (4/8/2026), Museum Tahir Solo memang sejak awal dirancang sebagai ruang edukasi yang menawarkan pengalaman baru nan unik.
Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur sekaligus Kurator Museum Tahir Solo asal Hong Kong, Sarah Law.
Menurutnya, konsep yang memadukan seni dengan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) memang dirancang untuk menginspirasi generasi muda Indonesia.
"Konsepnya memang harus maju untuk menyambungkan inovasi internasional dan inspirasi kepada seluruh pemuda di Solo dan Indonesia," ucap Sarah saat ditemui langsung.
Baca juga: Menjelajahi 5 Ikon Wisata Indonesia Paling Terpopuler, dari Bali hingga Raja Ampat
Baru melakukan soft launching pada Sabtu (25/7/2026), Museum Tahir Solo langsung mengalami lonjakan kunjungan dari wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menurut Sarah, museum ini telah menarik perhatian banyak penggiat seni dari berbagai negara.
"Kita dapat banyak sekali turis asing, ada dari Eropa seperti Belanda dan Inggris. Ada juga dari Arab Saudi, China, Hong Kong, sampai Singapura,"
"Bahkan dari Sabah, Sarawak, lalu Johor juga ada yang datang." tutur Sarah kepada TribunWow.com, Selasa (4/8/2026).
Ia menambahkan, meski saat ini pihak museum belum melakukan promosi besar-besaran ke luar negeri, minat wisatawan asing untuk datang sudah cukup tinggi.
Bagi para penggiat seni, tingginya minat wisatawan asing tidak terlepas dari keberadaan koleksi fosil dinosaurus yang menjadi daya tarik bagi pencinta paleontologi di Asia maupun di dunia.
Selain diminati oleh kalangan akademisi dan pencinta seni, mayoritas pengunjung museum saat ini merupakan keluarga yang datang bersama anak-anak.
Berbagai wisatawan domestik dari luar Solo hingga luar Jawa pun turut mendominasi kunjungan tersebut.
Baca juga: TB Hasanuddin Minta Wacana Penerima Amnesti Jadi Komcad Tetap Patuhi Undang-Undang
Konsep perpaduan STEM yang diusung Museum Tahir Solo diwujudkan melalui berbagai koleksi.
Hal tersebut mencakup artefak dinosaurus, replika satelit, berbagai lukisan, hingga instalasi tata surya sebagai representasi perjalanan kehidupan di Bumi.
"Ini seperti berkelana di bumi, menyatukan semuanya, dari tradisional hingga modern, alur pameran dimulai dari alam semesta sebagai awal mula kehidupan."
"Kemudian berlanjut ke dinosaurus, hingga evolusi kehidupan dari dinosaurus menuju mamalia dan hewan lainnya," ungkap Sarah.
Museum ini juga memiliki area bertema biodiversity atau keanekaragaman hayati.
Menurut Sarah, Selasa (4/8/2026), tema tersebut dipilih karena Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.
Baca juga: TOP! Koperasi Merah Putih di Solo Raup Omzet Rp300 Juta, Berawal dari Iuran Rp100 Ribu
Museum Tahir Solo juga menjadi wadah untuk menampilkan talenta, inovasi, dan inspirasi lokal.
Di area seni, museum bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta serta galeri seni yang berfokus pada bidang humaniora.
Selain itu, museum juga berkolaborasi dengan Fakultas Seni dan Desain Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk menghadirkan berbagai pameran seni.
Meskipun sama-sama menampilkan karya seni, kedua kolaborasi tersebut menghadirkan koleksi dan pendekatan interpretasi yang berbeda.
Pada lantai LG (Lower Ground) terdapat STEM Hub, dengan mitra yang terlibat, yakni Tim Bengawan serta Fakultas Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret.
"Kita juga bekerja sama dengan Tim Bengawan UNS untuk mengembangkan bagian robotika, dan juga teknik, termasuk dari Fakultas Teknik UNS," ujar Sarah.
Melalui ruang tersebut, museum menampilkan berbagai hasil penemuan, inovasi, serta kreativitas masyarakat lokal.
Baca juga: Mau Wisata di Provinsi Yogyakarta Besok Kamis 6 Agustus 2026? Simak Prakiraan Cuaca Selengkapnya
Museum Tahir Solo juga membuka kesempatan bagi masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, untuk mengembangkan karier profesional melalui program internship dan volunteer.
Seorang peserta full-time intern, Rebecca, mengungkapkan bahwa dirinya memperoleh banyak pengalaman berharga selama menjalani program tersebut.
"Seru sekali, dikelilingi banyak orang hebat di bidangnya masing-masing."
"Saya mendapatkan banyak insight, karena Tahir Solo Museum banyak berkolaborasi dengan pihak internasional maupun nasional," ujar Rebecca saat ditemui Kamis (6/8/2026).
Peserta intern lainnya, Yasmine, yang bertugas di divisi STEM, juga mengaku banyak memperoleh manfaat dari interaksi dengan wisatawan selama bekerja di museum.
"Ini sangat melatih public speaking dan kemampuan komunikasi karena setiap hari harus berbicara dengan banyak orang dan di depan orang banyak," ujar Yasmine.
Selain itu, Yasmine mengatakan bahwa bekerja di Museum Tahir membuat dirinya belajar menjadi pribadi yang lebih ramah.
Menurutnya, seluruh staf dilatih untuk menjadi wajah Museum Tahir dengan memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pengunjung tanpa membeda-bedakan.
Baca juga: Viral Jukir Liar Palak Turis Rp20 Ribu di Wisata Cibodas, Ancam Usir Wisatawan yang Tak Mau Bayar
Direktur Museum Tahir Solo, Sarah Law, juga mengungkapkan bahwa selain ingin menghadirkan karya seni yang bermakna, museum ini juga dirancang agar memberikan manfaat bagi anak-anak.
Ia menyoroti bagaimana paparan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) terhadap anak-anak saat ini sudah terlalu luas.
Melalui berbagai aktivitas yang disediakan, museum ingin membantu mengurangi dampak negatif tersebut.
"STEM dan seni budaya ini adalah hal-hal terbaik bagi anak-anak yang bisa dipelajari."
"Apalagi di zaman sekarang, anak-anak selalu scroll HP. Tujuannya adalah menghindarkan mereka dari hal itu dan membuat mereka lebih terinspirasi oleh keindahan Bumi," ujar Sarah.
Sementara itu, Ketua Bidang Pendidikan Museum Tahir Solo, Justin Kurniawan, turut menjelaskan program interaktif yang mereka miliki.
"Jadi, kita ada program gratis untuk semua pengunjung, seperti Universe Education Class."
"Jadi kita ajak anak-anak untuk berkumpul, lalu kita memberikan edukasi tentang solar system, kosmik, serta dinosaurus," tutur Justin saat ditemui Selasa (4/8/2026).
Selain itu, Justin juga mengatakan bahwa mereka menghadirkan mini show khusus anak-anak.
"Jadi, mini show kita ini nanti anak-anak menjadi astronot, lalu diberikan berbagai aktivitas seru dengan hadiah menarik," kata Justin.
Baca juga: Viral Truk KDMP Sragen Angkut Tebu sebelum Diresmikan Pemerintah
Berbicara mengenai program dan koleksi yang dimiliki, Museum Tahir Solo berencana memperluas kerja sama dengan berbagai institusi internasional.
Saat ini, museum tersebut telah resmi tergabung dalam International Council of Museums (ICOM).
Menurut Sarah, kolaborasi tersebut bertujuan memperluas jaringan serta membuka peluang kerja sama dalam penyelenggaraan pameran maupun peminjaman koleksi di masa mendatang.
Dikutip TribunWow.com, Selasa (4/8/2026), satu dari sekian banyak fosil yang dipamerkan saat ini bahkan merupakan fosil asli hasil kerja sama dengan Museum Zigong di China.
"Museum Dinosaurus Zigong di China pertama kalinya memberi kita kesempatan untuk menampilkan fosil asli mereka selama enam bulan di sini," ujar Sarah.
Selain itu, Museum Tahir Solo juga memperoleh hak resmi untuk merekonstruksi atap karya Gaudi Casa Batllo di Barcelona sebagai instalasi pameran mereka.
"Itu bentuknya kami ubah jadi reptil, namun inspirasi kulitnya adalah atap dari Gaudi di Barcelona, satu dari tujuh situs UNESCO karya Antonio Gaudi," kata Sarah.
"Dan ya, kita berkesempatan untuk diberikan hak legal untuk melakukan replika terhadap karya tersebut," lanjutnya.
(TribunWow.com/Peserta Magang Universitas Sebelas Maret/Meyra)