Suhu Tembus 40 Derajat Celsius, Pesta Cosplay di Jepang Ditunda
Nasywa Fakhirah August 07, 2026 08:30 PM

Liputan6.com, Tokyo - Seorang peserta acara cosplay di Nagoya, Jepang bernama Shawn dan saudara perempuannya Whitney mengenakan kostum dari anime Demon Slayer menyampaikan dua kata untuk cuaca hari itu: “Panas gila.”

“Aku sudah minum lima botol. Aku memakai baju lengan panjang, kaos kaki, wah. Baru saja berjalan keluar, kami sudah banjir keringat,” tutur seseorang dari Houston, Texas, AS.

Dikutip dari Malaymail, Jumat (7/8/2026), kabar gembira akan segera datang untuk lebih dari 250,000 pengunjung dari seluruh dunia yang setiap tahun menghadiri World Cosplay Summit (WCS). Mulai tahun depan, acara tiga hari di Jepang Tengah ini akan diselenggarakan pada bulan November saat musim gugur. Sangat berbeda dengan suhu 40 derajat Celsius di acara tahun ini.

“Semenjak sekitar pandemi Covid berakhir, Jepang mulai menghangat,” tutur kepala eksekutif WCS, Tokumaru Oguri. “Cuaca panas ini benar-benar bisa membahayakan nyawa orang. Jadi, pertama-tama, kami meminta setiap orang untuk mengambil semua langkah pencegahan secara mandiri dengan memastikan kondisi fisik mereka prima, tidur yang cukup, dan tetap terhidrasi,” imbuhnya.

Kata cosplay dibuat oleh seorang jurnalis asal jepang setelah melihat orang-orang berdandan seperti monster dan alien di acara konvensi fiksi ilmiah tahun 1984 di Los Angeles. Cosplay dibuat dari kata costume dan play. Konsep ini akhirnya meledak di Jepang dan menjadi sensasi global di tahun 1990-2000-an. Biasanya, orang-orang berdandan seperti karakter berbentuk manusia ataupun yang lain dari film, buku, atau komik.

Para ilmuwan menyatakan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian panas ekstrem di Jepang dan berbagai tempat lainnya. Jepang mengalami musim panas terpanas dalam sejarah tahun lalu, dan dalam beberapa pekan belakangan banyak daerah yang mengalami kokushobi, sebuah klasifikasi resmi terbaru yang berarti “hari-hari yang sangat panas.” Ribua orang, banyak di antaranya adalah lansia, membutuhkan perawatan rumah sakit.

Walaupun beberapa orang di WSC masih tampil dengan memukau, salah satu peserta yang mengenakan kostum prajurit robot besar di film “Castle in the Sky” saat parade di tempat tertutup yang cukup pengap, banyak juga yang menyesuaikan kostum mereka. Seorang peserta bernama Orena asal Prancis berkata bahwa ia sengaja untuk membuat kostumnya sendiri dari bahan linen dan katun agar tetap sejuk.

“Di berbagai ajang besar seperti World Cosplay Summit, orang-orang memilih untuk memakai kostum yang rumit dan memiliki beberapa lapis,” ucap seorang teknisi listrik. “Saat cuaca panas, ada titik dimana tidak bisa melepas lapisan apapun. Ada risiko tidak enak badan, tapi bahkan saat memakai riasan dan wig, kita tetap berkeringat. Hal ini dengan cepat menjadi sulit.

“Hampir semua peserta yang ikut parade hari ini pasti memakai kostum yang lebih nyaman karena mereka harus berjalan di bawah teriknya matahari,” kata Jeoffry Quiban, yang memakai kostum Hiei dari anime Yu Yu Hakusho. Seorang guru yang membawa pedang dan memakai lensa kontak berwarna merah darah berkata bahwa kita harus menghadapi kostum tersebut dan mengenakannya dengan nyaman.

Mengadakan acara ini pada bulan November akan memungkinkan orang-orang untuk tampil habis-habisan, ucap rekan tampilnya, Krizel Guiral “Zhel” yang memakai kostum rubah Youko Kurama. Seorang perawat yang turut hadir juga berkomentar bahwa akan sangat menarik dan menyenangkan untuk melihat berbagai macam kostum.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.