TRIBUNGORONTALO.COM – Kekeringan melanda Danau Limboto selama dua hingga tiga bulan terakhir. Kondisi ini tak hanya mengubah bentang alam danau, tetapi juga memukul mata pencaharian para nelayan setempat.
Secara geografis, danau ini berjarak sekitar 15–18 kilometer dari pusat Kota Gorontalo (dengan waktu tempuh sekitar 30–40 menit) dan berjarak cukup dekat dari salah satu ikon daerah, Menara Keagungan Limboto, yaitu sekitar 6–8 kilometer.
Meski lokasinya strategis dan berdekatan dengan pusat-pusat aktivitas warga, fenomena kemarau ekstrem ini memberi dampak nyata pada kawasan tersebut.
Berdasarkan pantauan TribunGorontalo.com pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 11.25 Wita, hamparan daratan yang sebelumnya tertutup air kini mulai mengering di sejumlah titik.
Rerumputan tumbuh di bekas genangan, sementara bibir danau semakin jauh dari lokasi perahu-perahu nelayan bersandar.
Danau Limboto menjadi muara utama bagi aliran Sungai Alo, Sungai Bionga, Sungai Molalahu, Sungai Bone Bolango, dan Sungai Daenaa. Namun, selama musim kemarau, pasokan air dari sungai-sungai tersebut ikut menyusut, bahkan mengering.
Data hidrologi Balai Wilayah Sungai (BWS) menunjukkan tinggi muka air di Stasiun AWLR SG Danau Limboto Dembe I berada pada elevasi 8,09 meter.
Sementara itu, tinggi muka air di AWLR Sungai Alo Isimu hanya tersisa 0,12 meter—menandakan debit air sungai pemasok Danau Limboto telah berada pada kondisi kritis.
Permukaan air yang terus menyusut membuat banyak nelayan memilih berhenti menjala. Berdasarkan pantauan di sepanjang jalan setapak menyusuri pinggiran Danau Limboto, TribunGorontalo.com mendapati banyak daratan baru terbentuk akibat kekeringan.
Bahkan, daratan tersebut membentang hingga 1,5 km ke tengah danau. Fenomena ini pun berdampak langsung pada hasil tangkapan ikan para nelayan di pinggiran Danau Limboto.
Yoseph Yusuf alias Om Ulu (57), warga asli Desa Dehuwalolo, Kelurahan Hutuo, Kabupaten Gorontalo, mengatakan dirinya telah menjadi nelayan sejak kecil karena mengikuti jejak orang tuanya. Namun, dalam dua bulan terakhir, kondisi Danau Limboto berubah drastis akibat kemarau yang menyebabkan air danau terus surut.
Baca juga: 5 Fakta Skandal Video Wall Gorontalo: Rekayasa HPS hingga Jerat Eks Pj Gubernur dan Kadis
"Sejak lahir memang torang hidup dari danau. Tapi sudah sekitar dua bulan ini susah sekali karena air surut," ujar Yoseph kepada TribunGorontalo.com.
Untuk sekali turun menjala, Yoseph harus menyiapkan modal sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu untuk kebutuhan operasional. Ia bersama rekannya biasanya berangkat sekitar pukul 18.00 hingga 19.00 Wita dan baru kembali ke daratan sekitar pukul 06.00 WITA keesokan harinya.
Menurutnya, waktu menjala yang lebih lama dilakukan agar biaya operasional dapat tertutupi.
"Kalau tidak seperti itu, kalah di ongkos menjala," katanya.
Ikan yang paling sering ditangkap adalah mujair dan manggabai. Aktivitas menjala pun harus dilakukan oleh dua orang.
Surutnya air membuat jarak dari bibir danau menuju lokasi penangkapan ikan semakin jauh. Untuk mencapai titik yang masih memiliki kedalaman air, nelayan harus menempuh perjalanan sekitar 1 hingga 1,5 kilometer.
Tak jauh dari lokasi Yoseph, nelayan lainnya, Rusli (46), mengungkapkan kondisi serupa. Ia mengatakan kekeringan telah berlangsung sekitar tiga bulan dan menyebabkan banyak nelayan memilih tidak lagi turun menjala.
"Sudah jalan tiga bulan. Banyak nelayan sekarang sudah tidak lagi turun karena kekeringan," ujarnya.
Rusli mengaku setiap pukul 05.00 WITA dirinya mulai menuju lokasi penangkapan ikan. Namun, karena permukaan air terus menyusut, perjalanan menuju tengah danau kini membutuhkan waktu lebih lama.
"Jam lima subuh turun, jam delapan baru sampai di tengah-tengah danau," katanya.
Berkurangnya jumlah nelayan yang turun menjala turut berdampak pada pasokan ikan di pasar. Harga ikan mujair yang sebelumnya sekitar Rp10 ribu per ekor kini naik menjadi Rp15 ribu per ekor.
Kondisi serupa dirasakan oleh Fikran (26), seorang pemancing asal Telaga, saat ditemui TribunGorontalo.com pada Jumat (7/8/2026) pukul 11.23 Wita. Ia mengatakan kekeringan yang telah berlangsung lebih dari sebulan membuat aktivitas memancing tidak lagi semudah biasanya.
"Sebulan lebih kekeringan di sini. Tergantung ikannya makan juga. Kalau lagi makan biasanya mudah didapat, tapi sekarang hasil pancingan tidak menentu, biasanya saya cuma mancing di pinggiran Danau. Bukan sampai agak ketengah sini" ujar Fikran sambil mengatur kail pancingannya.
Pantauan TribunGorontalo.com di kawasan Danau Limboto juga menunjukkan banyak ikan sapu-sapu terdampar dan mati akibat surutnya air. Di sejumlah titik, terlihat alat berat dan ekskavator disiagakan untuk membersihkan eceng gondok di kawasan pinggiran danau.
Ketika tidak turun menjala, Yoseph maupun Rusli memilih menjadi pengepul ikan hasil tangkapan nelayan lain agar tetap memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.