Surya Metu Festival Nusa Penida  Angkat Isu Laut: "Sagara Raksha, Perlindungan Laut untuk Kesucian"
Putu Kartika Viktriani August 08, 2026 12:37 PM

SEMARAPURA, TRIBUNBALI.COM- Surya Metu Festival Vol. III kembali digelar di Nusa Penida.

Festival yang berlangsung di kawasan pesisir Pantai Tanjung Kerambitan, Desa Adat Dalem Setra Batununggul, mulai 6 hingga 9 Agustus 2026 itu mengangkat tema "Sagara Raksha, Perlindungan Laut untuk Kesucian", yang memadukan pelestarian lingkungan laut dengan penguatan seni dan budaya Bali.

Pembukaan festival dilakukan langsung oleh Bupati Klungkung, I Made Satria, pada Kamis 6 Agustus 2026. 

Bendesa Adat Dalem Setra Batununggul, I Dewa Ketut Anom Astika menjelaskan, Surya Metu Festival Vol. III dirancang sebagai ruang kolaborasi antara desa adat, pemerintah, komunitas lingkungan, akademisi, seniman, serta pelaku pariwisata.

Berbagai kegiatan disiapkan selama empat hari penyelenggaraan, mulai dari aksi konservasi berupa penanaman terumbu karang dan pelepasan tukik sebagai simbol kepedulian terhadap ekosistem laut Nusa Penida.

Baca juga: 22 Tahun Menanti, Persebaya Akhirnya Angkat Trofi Piala Presiden 2026 di Bali

Selain itu, festival juga menghadirkan sejumlah perlombaan seni seperti Baleganjur Ngarap Sebali, Gebogan, serta Tapel Ogoh-ogoh.

"Pelaku UMKM lokal juga dilibatkan untuk memasarkan berbagai produk unggulan daerah. Sehingga  memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Nusa Penida melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan," ungjapnya.

Sementara Bupati Klungkung I Made Satria menilai keberadaan festival budaya menjadi bagian penting dalam menjaga identitas Nusa Penida di tengah perkembangan sektor pariwisata.

Bupati Satria mengatakan, Nusa Penida  memiliki kekayaan adat, budaya, dan nilai spiritual yang menjadi daya tarik tersendiri. 

Karena itu, penyelenggaraan Surya Metu Festival dinilai mampu menjadi ruang untuk merawat sekaligus memperkenalkan warisan budaya tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.

Ia mengapresiasi keterlibatan masyarakat adat, komunitas seni, pelaku usaha, hingga berbagai elemen yang bersama-sama menyukseskan festival tahunan tersebut.

Menurutnya, kolaborasi seperti ini penting agar budaya Bali tetap hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

"Festival ini menjadi wadah untuk menjaga dan mengembangkan seni, budaya, serta kearifan lokal yang menjadi kekuatan Bali," ujar Satria.

 

Dalam sambutannya, Satria memberi perhatian khusus kepada generasi muda.

Ia berharap festival tersebut menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengambil peran dalam menjaga tradisi Bali.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat adat, tetapi juga membutuhkan keterlibatan generasi penerus agar seni dan tradisi tetap lestari di tengah perubahan zaman.

Ia juga menilai tema yang diusung festival sejalan dengan visi pembangunan Pemerintah Provinsi Bali melalui konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali, sekaligus mendukung program Pemerintah Kabupaten Klungkung dalam mewujudkan Kepulauan Nusa Penida sebagai Green Island. (mit)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.