8 Bulan Pascapergerakan Tanah di Lebak, Belasan Warga Masih Bertahan di Rumah Rusak Terancam Ambruk
Ahmad Tajudin August 09, 2026 02:01 PM

 

TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK – Delapan bulan setelah bencana pergerakan tanah melanda Kampung Angsana, Desa Karyajaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, belasan warga masih bertahan di rumah-rumah yang mengalami kerusakan berat dan terancam ambruk.

Hingga kini, proses relokasi belum juga terealisasi meski pemerintah telah beberapa kali melakukan peninjauan dan lahan untuk relokasi telah dihibahkan.

Kondisi tersebut membuat warga terus hidup dalam kekhawatiran akan ancaman bencana susulan, terutama saat hujan turun. Retakan pada dinding rumah semakin melebar, lantai dan keramik pecah, sementara sebagian atap mulai roboh akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung.

Pantauan jurnalis TribunBanten.com di lokasi pada Sabtu (8/8/2026) menunjukkan kerusakan terlihat hampir di setiap sudut permukiman terdampak. Tembok rumah dipenuhi retakan besar, pondasi bergeser, dan sejumlah bagian dapur tampak miring hingga harus disangga menggunakan tiang bambu agar tidak ambruk.

Meski kondisinya membahayakan, sejumlah keluarga masih memilih bertahan karena tidak memiliki tempat tinggal lain maupun biaya untuk pindah.

Sedikitnya terdapat sembilan rumah yang terdampak pergerakan tanah. Dari jumlah tersebut, enam rumah mengalami kerusakan paling parah hingga rata dengan tanah.

Salah seorang warga terdampak, Maesaroh (45), mengaku masih tinggal di rumahnya meski setiap hujan turun selalu dihantui rasa takut.

"Awalnya terdengar suara 'bleduk' dan retakan. Bata-bata mulai berjatuhan. Sekarang tembok retak, plafon juga sudah banyak yang ambruk," kata Maesaroh saat ditemui di lokasi. 

Baca juga: Gelar Turnamen Sepak Bola di Cileles Lebak, Kolaborasi Pemuda, APDESI hingga Bil Group Dongkrak UMKM

Ia mengatakan, bencana tersebut terjadi sekitar delapan bulan lalu saat musim hujan. Hingga kini kondisi rumahnya terus memburuk.

Menurut Maesaroh, setiap kali hujan turun ia terpaksa mengungsi ke rumah anaknya karena khawatir bangunan roboh.

"Kalau hujan masih terdengar suara retakan. Saya takut ketimpa. Tapi kalau tidak hujan ya saya tetap tinggal di sini karena tidak punya biaya untuk pindah," ujarnya.

Ia mengaku bantuan yang diterima dari pemerintah sejauh ini baru berupa sembako berisi beras dan mi instan. Karena itu, ia berharap pemerintah segera merealisasikan relokasi.

"Kalau bisa saya minta tolong dibantu. Saya ingin pindah ke tempat yang lebih aman," katanya.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Masri (51), mengatakan sembilan rumah terdampak akibat pergerakan tanah dan enam di antaranya mengalami kerusakan berat.

Menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan agar warga segera direlokasi. Bahkan, ia bersama perangkat desa telah mendatangi Badan Geologi dan Baznas Provinsi Banten untuk memperjuangkan penanganan permukiman tersebut.

"Kami sudah ke Serang bersama perangkat desa. Katanya hanya diminta menunggu, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan," ujarnya.

Masri menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah melakukan asesmen ke lokasi. Bantuan darurat berupa sembako dan uang tunai juga sempat diberikan kepada warga terdampak. Namun, hingga kini relokasi belum dapat dilaksanakan.

Padahal, kata dia, lahan untuk relokasi sudah tersedia dan proses hibah tanah telah selesai. Kendala yang dihadapi saat ini adalah belum tersedianya anggaran untuk memindahkan warga.

"Lahannya sudah ada, surat hibah juga sudah selesai. Tinggal proses relokasinya saja, tetapi sampai sekarang belum terlaksana," katanya.

Masri khawatir kondisi akan semakin memburuk saat musim hujan kembali datang. Sebab, pergerakan tanah masih terus terjadi meski hujan hanya turun dengan intensitas ringan.

"Kalau nanti hujan deras lagi, kami khawatir longsornya semakin parah. Harapan kami hanya satu, warga segera dipindahkan sebelum ada korban jiwa," pungkasnya.

 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.