Pastikan Api Benar-benar Padam, Tim Gabungan Sisir Titik Kebakaran Kawasan Rinjani di Maletan
Wahyu Widiyantoro August 09, 2026 06:20 PM

TRIBUNLOMBOK.COM — Setelah kobaran api berhasil dikendalikan, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra) bersama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) dan tim gabungan tidak serta-merta menghentikan operasi di lokasi kebakaran hutan di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Serangkaian tindak lanjut pascapemadaman terus dilakukan guna memastikan api benar-benar padam sepenuhnya.

Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani Jumat(7/8/2026) tersebut berhasil dikendalikan pada area seluas kurang lebih 30 hektare pada Sabtu (8/8/2026). 

Namun, penanganan tidak berhenti di titik tersebut, melainkan berlanjut dengan kegiatan penyisiran atau mopping-up yang berlangsung hingga pukul 01.30 WITA dini hari.

Penyisiran dan Pendinginan

Setelah api utama berhasil dijinakkan, personel gabungan segera melanjutkan kegiatan mop-up atau penyisiran dan pendinginan di seluruh area terdampak. 

Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara maupun sumber api tersisa yang berpotensi kembali menyala, mengingat kawasan tersebut didominasi tutupan savana dan semak belukar kering yang rentan terbakar ulang.

Selain kegiatan penyisiran, tim juga melakukan pemantauan lanjutan di seluruh titik lokasi kebakaran hingga benar-benar dipastikan padam total, sebagai bagian dari prosedur standar penanganan kebakaran hutan di kawasan konservasi.

Baca juga: Penyebab Kebakaran di Kawasan Maletan Rinjani Cepat Meluas dan Sulit Dipadamkan dengan Segera

Respons Cepat Jadi Kunci 

Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, menegaskan bahwa kecepatan respons serta kolaborasi lintas pihak menjadi faktor kunci yang mencegah kebakaran ini berkembang menjadi lebih luas. 

Begitu informasi kebakaran diterima dari pengelola kawasan, Balai Dalkarhut Jabalnusra Seksi Wilayah III Mataram langsung mengerahkan personel dan sarana prasarana pemadaman untuk memperkuat upaya tim gabungan yang sudah lebih dulu bergerak di lapangan.

"Setiap kejadian kebakaran di kawasan konservasi harus direspons sedini mungkin. Kecepatan Manggala Agni bersama pengelola kawasan dan seluruh unsur di lapangan dalam melakukan pemadaman menjadi kunci penanggulangan dini kebakaran hutan. Kolaborasi ini harus terus diperkuat, karena keberhasilan pengendalian kebakaran merupakan tanggung jawab bersama," tegas Bambang.

Kewaspadaan Tetap Diperlukan 

Bambang menekankan bahwa penanganan kebakaran hutan tidak boleh berhenti begitu api dinyatakan padam. 

Menurutnya, pemantauan dan kewaspadaan tetap harus dipertahankan, khususnya pada kawasan bervegetasi savana yang dikenal mudah terbakar kembali selama kondisi musim kemarau masih berlangsung.

Pentingnya Sinergi Lintas Instansi di Lapangan

Keberhasilan pengendalian kebakaran di Sembalun ini, menurut Bambang, tidak lepas dari sinergi berbagai pihak yang terlibat langsung dalam operasi pemadaman, mulai dari Manggala Agni, pengelola kawasan, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA)/Masyarakat Mitra Polhut (MMP), hingga masyarakat sekitar dan unsur terkait lainnya.

"Operasi pemadaman di Sembalun menunjukkan pentingnya sinergi antara Manggala Agni, pengelola kawasan, TNI, Polri, MPA/MMP, masyarakat, dan unsur terkait lainnya. Kerja bersama di lapangan memungkinkan api segera dilokalisasi dan dipadamkan sebelum berkembang lebih luas," tegasnya.

Nilai Ekologis dan Sosial Budaya Kawasan Rinjani

TN Gunung Rinjani merupakan salah satu kawasan konservasi penting di NTB yang memiliki fungsi ekologis krusial dalam menjaga keanekaragaman hayati, habitat berbagai jenis flora dan fauna, tata air, serta keberlanjutan ekosistem secara menyeluruh. 

Di luar fungsi ekologisnya, kawasan ini juga memiliki nilai sosial budaya penting bagi masyarakat sekitar yang telah menjadikannya bagian dari kehidupan turun-temurun.

Mengingat nilai strategis tersebut, upaya pelestarian di dalam kawasan konservasi dinilai harus terus dilakukan, salah satunya melalui pencegahan kebakaran hutan dengan melibatkan partisipasi seluruh pihak, guna menjamin kelestarian ekosistem beserta segala nilai esensial di dalamnya.

Kementerian Kehutanan mengingatkan seluruh jajarannya maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama selama musim kemarau yang tengah berlangsung saat ini. 

Masyarakat yang melihat kemunculan asap atau tanda-tanda kebakaran di dalam maupun sekitar kawasan hutan diimbau segera melapor kepada petugas atau pengelola kawasan setempat agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni turut menyampaikan pesan khusus terkait langkah antisipasi ke depan, dengan menekankan pentingnya pemanfaatan sistem peringatan dini dalam mendeteksi potensi kebakaran sebelum meluas.

"Jangan menunggu api membesar. Manfaatkan sistem peringatan dini kita melalui pantauan hotspot Sipongi+ dan teknologi lainnya, lakukan deteksi awal, dan lakukan penanganan sedini mungkin. Setiap upaya pencegahan dan penanggulangan dini merupakan langkah penting untuk menjaga hutan tetap lestari," pesan Raja Juli.

Dengan berbagai langkah tindak lanjut yang telah dan akan terus dilakukan, mulai dari penyisiran, pemantauan berkelanjutan, hingga penguatan sistem deteksi dini, diharapkan potensi kebakaran susulan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani dapat diminimalisasi, sekaligus menjaga kelestarian ekosistem penting ini bagi generasi mendatang.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.