Devie Walangitan Semangat Mengenalkan Kolintang sebagai Musik Tradisi Minahasa 
M Syofri Kurniawan August 10, 2026 07:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suara ketukan kayu yang bersahutan menjadi bagian dari keseharian Devie Walangitan (52).

Lelaki asal Minahasa, Sulawesi Utara yang sudah menetap di Kota Semarang sejak tahun 1994 itu menjadi sosok penting dalam eksistensi musik tradisional Kolintang yang kerap disuguhkan di sejumlah ajang di Kota Lumpia.

Kepada TribunJateng.com, Devie menceritakan, ia membentuk Sanggar Kalooranta pada 2018 silam.

Saat itu, Devie yang memang gemar dengan musik dan tarik suara mulai tertarik menghidupkan kembali musik kolintang di Semarang bersama sejumlah pegiat musik kolintang. 

Ia kemudian mendirikan Sanggar Kolintang Kalooranta. Nama sanggar tersebut kini menaungi sejumlah kelompok musik kolintang yang tumbuh dan berlatih di Semarang.

Di antaranya Grup Pinasungkulan yang beranggotakan para pelatih, Grup Kolintang Gratia yang dihuni anak-anak SMP hingga SMA, serta sejumlah kelompok lainnya.

devie kolintang
MAINKAN KOLINTANG - Pelopor Sanggar Kolintang Kalooranta, Devie Walangitan, memainkan kolintang saat ditemui di Pudakpayung Kota Semarang. Ia konsisten mengenalkan alat musik asal Sulawesi Utara tersebut kepada masyarakat Kota Lumpia.

"Sanggar itu ada beberapa anggota kelompok yang bersama-sama membentuk grup baru, grup musik kolintang," kata Devie.

Dari awalnya hanya sebuah upaya memperkenalkan alat musik tradisional Minahasa, aktivitas Kalooranta kemudian berkembang menjadi wadah pembinaan.

Saat ini terdapat sekitar 60 hingga 70 pemain yang aktif dalam tujuh sampai delapan kelompok. Mereka tidak hanya berlatih untuk tampil, tetapi juga ikut menjaga keberadaan kolintang sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Devie mengatakan, langkah pertama yang dilakukannya adalah memperkenalkan kolintang melalui berbagai kegiatan di Kota Semarang.

Ia kemudian berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kota Semarang agar kolintang bisa ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan kebudayaan.

Kolintang Kalooranta pun mulai tampil dalam sejumlah agenda, seperti Semarang Night Carnival, Festival Wayang Semesta, kegiatan folklore Kota Lama hingga berbagai acara kebudayaan lainnya.

Bagi Devie, panggung-panggung tersebut bukan sekadar kesempatan untuk tampil. 

Setiap pertunjukan menjadi cara untuk membuat masyarakat Semarang semakin akrab dengan bunyi kolintang. Sebab, ia menyadari tantangan memperkenalkan alat musik dari luar Jawa Tengah tidaklah ringan.

"Awal-awal memang kesulitan sekali dan berat. Rata-rata orang itu belum langsung menyenangi alat musik itu karena bukan alat musik tradisi di lingkungannya. Kalau di Jawa Tengah kan orang lebih mengenal gamelan," ujarnya.

Karena itu, Devie memilih memperkenalkan kolintang secara perlahan melalui pertunjukan dan kegiatan budaya.

Lagu-lagu yang dimainkan pun tidak selalu berasal dari Sulawesi Utara. Kalooranta membawakan sejumlah lagu yang dekat dengan masyarakat Semarang dan Indonesia, seperti Gambang Semarang, lagu-lagu etnik, lagu daerah hingga lagu nasional.

Dengan cara itu, kolintang tidak ditempatkan sebagai musik yang hanya milik satu daerah. Sebaliknya, alat musik berbahan kayu tersebut dikenalkan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang bisa dinikmati siapa saja.

Generasi Muda

Bagi Devie, mempertahankan kolintang di Semarang juga berkaitan dengan identitas. Sebagai orang yang berasal dari Sulawesi Utara, ia ingin tetap membawa bagian dari budaya daerah asalnya ke tempat ia tinggal sekarang.

Namun, ia tidak ingin kolintang berhenti sebagai simbol identitas orang Minahasa.

Ia justru ingin semakin banyak anak muda mengenal, memainkan, dan memahami alat musik tersebut. Hal itu terlihat dari keberadaan Grup Kolintang Gratia yang diisi anak-anak SMP hingga SMA.

Selain itu, sejumlah pelatih di bawah Kalooranta juga membina kelompok-kelompok lain di Semarang.

Latihan dilakukan secara rutin.

Ada kelompok yang berlatih pada akhir pekan, sementara kelompok yang berisi para pelatih memiliki jadwal latihan tersendiri sepanjang pekan.

Dia menambahkan, keberlanjutan kolintang tidak cukup hanya dengan memiliki pemain. 

Dalam ekosistem kolintang, menurutnya terdapat empat unsur penting, yakni pemain, pelatih, pengrajin, dan pemerhati kolintang.

"Harapan kita sangat besar sekali bahwa alat musik kolintang ini memang awalnya dari Minahasa, Sulawesi Utara. Cuma saat ini sudah menjadi alat musik nasional, bahkan menjadi alat musik dunia yang harus kita jaga, kembangkan dan pelihara," katanya.

Tidak berhenti di Semarang, kelompok yang berada di bawah naungan sanggar Kalooranta pernah meraih juara tiga lomba kolintang virtual tingkat nasional yang digelar Kementerian Kominfo pada 2022 melalui Grup Kolintang Gratia.

Devie juga beberapa kali dipercaya menjadi bagian dari perwakilan Jawa Tengah dalam berbagai kegiatan kolintang tingkat nasional.

Ia pernah mengikuti pertunjukan kolintang di Ibu Kota Nusantara (IKN) serta memenuhi undangan kegiatan promosi kolintang di Manado, Sulawesi Utara.

Kolintang juga membawanya ke berbagai panggung kolaborasi.

Salah satunya ketika musik kolintang dipadukan dengan gamelan dan orkestra dalam konser bersama komposer Dwiki Dharmawan.

Pertunjukan tersebut pernah digelar di Sam Poo Kong Semarang dengan melibatkan sekitar 150 pemain dan musisi.

Kolintang juga tampil dalam berbagai agenda di Borobudur International Festival.

Dalam ekosistem kolintang, Devie menyebut terdapat empat pilar yang saling mendukung, yakni pengrajin, pelatih, pemain kolintang, dan pemerhati.

Keempat unsur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kolintang sebagai warisan budaya sekaligus mengembangkan kreativitas dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

Kolintang kini telah menjadi bagian dari warisan budaya dunia. Kolintang tercatat dalam daftar Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO pada 5 Desember 2024 melalui mekanisme perluasan bersama Balafon.

Di sisi lain, Devie mendapat kesempatan untuk ikut membawa suara kolintang ke Paris. Ia bersama tim Kolintang dari Indonesia dijadwalkan tampil di sejumlah agenda di Prancis pada akhir September hingga awal Oktober mendatang atas undangan KBRI Paris.

Rencananya, pertunjukan digelar di Universitas Paris, pasar promosi wisata, serta dalam kegiatan kenegaraan di KBRI.

"Musik kolintang ini alat musik etnik atau seni dan budaya. Lokasi sanggar kami berada di Desa Wisata Pudak Payung, sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Harapan kita harus dikembangkan," ujarnya.

Ia pun membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar kolintang. Namun, karena kolintang merupakan musik ensambel, pemain tidak bisa berdiri sendiri.

Mereka idealnya datang dalam kelompok minimal tiga hingga lima orang atau bergabung dengan kelompok yang sudah ada.

Bagi Devie, semakin banyak orang yang bersedia belajar, semakin besar pula peluang kolintang bertahan.

Ketukan demi ketukan kayu yang dahulu mungkin terdengar asing bagi sebagian warga Semarang, saat ini telah menjadi bagian dari panggung budaya kota. (F Ariel Setiaputra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.