SRIPOKU.COM,PALEMBANG — Berbatasan langsung di bagian tengah Pulau Sumatera, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan Jambi secara ekonomis bak saudara kembar.
Kedua daerah bertetangga ini sama-sama menyandarkan urat nadi perekonomiannya pada tumpuan yang serupa, hamparan perkebunan kelapa sawit dan karet, subsektor pertanian, potensi pertambangan dan energi yang melimpah seperti migas dan batubara, serta geliat sektor perdagangan.
Namun, ketika masuk ke dalam peta dinamika pasar tenaga kerja, bagaimana performa kedua daerah serumpun ini dalam menyerap angkatan kerjanya?
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Rabu (12/8/2026) mengungkap potret komparatif yang menarik.
Baca juga: Kabut Asap Kepung Bumi Sriwijaya: Muara Beliti Terparah, 5 Daerah Masuk Zona Merah
Meski sama-sama mencatatkan kenaikan tipis pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dibanding periode Februari 2026, Sumsel berhasil menjaga persentase TPT di level yang lebih rendah. Di sisi lain, Jambi unggul dalam hal proporsi penyerapan tenaga kerja di sektor formal.
Di atas kertas, Sumatera Selatan mencatatkan capaian TPT yang relatif lebih ramah, yakni berada di angka 3,60 persen per Mei 2026.
Angka ini hanya naik tipis 0,01 persen poin dari posisi Februari 2026.
Meskipun persentase pengangguran terbukanya tergolong rendah, struktur ketenagakerjaan di Bumi Sriwijaya tengah menghadapi tantangan ciutnya skala angkatan kerja.
BPS mencatat jumlah angkatan kerja Sumsel menyusut sebanyak 175 ribu orang menjadi 4.587,57 ribu orang, yang berdampak pada penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 2,82 persen poin ke posisi 68,07 persen.
Baca juga: Adu PAD 2 Daerah di Sumatera: Pesisir Barat Andalkan Laut, OKU Bertumpu pada Bumi
Dari total 4.422,47 ribu penduduk bekerja di Sumsel, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi juru selamat utama.
Sektor agraris ini menyerap 2.070,02 ribu orang atau menguasai 46,81 persen dari seluruh ruang kerja yang ada.
Kabar baiknya, kualitas lapangan kerja formal di Sumsel merambat naik 1,19 persen poin menjadi 38,32 persen (1.694,80 ribu orang).
Tingkat setengah pengangguran pun sukses ditekan turun 0,68 persen poin menjadi 8,67 persen, meskipun kelompok pekerja paruh waktu naik tipis menjadi 27,12 persen.
Menyeberang ke Bumi Sepasangan Serempak Regam, Provinsi Jambi mencatatkan TPT sebesar 4,10 persen pada Mei 2026, atau mengalami kenaikan 0,12 persen poin jika dibandingkan dengan data Februari 2026.
Berbeda dengan Sumsel yang mengalami penciutan angkatan kerja, pasar kerja di Jambi justru menunjukkan ekspansi pasokan tenaga kerja.
Jumlah angkatan kerja Jambi naik 18 ribu orang menjadi 1,89 juta orang, yang berimbas positif pada naiknya TPAK sebesar 0,41 persen poin.
Sejalan dengan tren tersebut, jumlah penduduk bekerja di Jambi bertambah 15,3 ribu orang menjadi 1,81 juta orang.
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan kembali menjadi kontributor pertumbuhan terbesar dengan tambahan penyerapan mencapai 9,3 ribu orang.
Keunggulan Jambi terlihat pada porsi penyerapan sektor formal. Sebanyak 800,28 ribu orang atau 44,16 persen tenaga kerja di Jambi berkiprah di kegiatan formal.
Angka ini secara proporsional lebih tinggi dibanding Sumsel (38,32 persen), meskipun daya serap formal Jambi ini sempat terkoreksi 3,62 persen poin dibanding periode sebelumnya.
Dinamika menarik lainnya di Jambi terlihat pada pola jam kerja. Tingkat setengah pengangguran di Jambi turun signifikan hingga 4,75 persen poin.
Namun, di saat yang sama, persentase pekerja paruh waktu melonjak tajam sebesar 17,82 persen poin.
Dua wilayah tetangga dengan denyut komoditas yang serupa ini memperlihatkan fokus perjuangan yang berbeda: Sumsel berupaya memperluas kembali ruang angkatan kerjanya sembari memperkuat basis agraris, sedangkan Jambi dituntut menahan laju TPT di tengah masuknya angkatan kerja baru dan melonjaknya proporsi pekerja paruh waktu.