Selat Hormuz Mencekam, Harga Minyak Dunia Tembus 89 Dolar per Barel, Pasar Dibayangi Krisis Pasokan
Eri Ariyanto August 12, 2026 03:13 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Harga minyak dunia kembali melonjak di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda di Timur Tengah.

Pada perdagangan Rabu (12/8/2026), harga minyak mentah Brent bahkan menembus 89 dolar AS per barel.

Brent kontrak Oktober tercatat naik hingga 89,61 dolar AS per barel.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat menjadi 83,91 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran pasar terhadap kondisi Selat Hormuz yang masih belum aman.

Jalur strategis tersebut menjadi salah satu pintu utama distribusi minyak dunia dari kawasan Timur Tengah.

Ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz membuat investor kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi global.

Situasi semakin rumit setelah terjadi sejumlah serangan terhadap kapal yang melintas di jalur perdagangan strategis kawasan.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz pun dilaporkan turun drastis dibandingkan kondisi sebelum konflik.

Di sisi lain, negosiasi terkait pembukaan kembali jalur tersebut antara Iran dan pihak terkait belum menunjukkan titik terang.

Kondisi itu membuat premi risiko dalam harga minyak semakin tinggi dan pasar kembali diliputi kekhawatiran.

Jika gangguan berlangsung lama, harga minyak dunia berpotensi tetap tinggi dan menekan stabilitas ekonomi global.

Baca juga: Iran Tak Gentar Ditekan Donald Trump, 47 Tahun Hadapi Sanksi Jadi Modal Bertahan di Tengah Konflik

Berdasarkan perdagangan Rabu (12/8/2026), harga minyak mentah Brent kontrak Oktober naik ke 89,61 dollar AS per barel. 

Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 71 sen atau 0,85 persen menjadi 83,91 dollar AS per barel.

Secara keseluruhan, harga minyak telah naik lebih dari 2 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya dan sekitar 24 persen dibandingkan sebelum pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama setelah terjadi serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran strategis kawasan. 

ILUSTRASI KAPAL KONTAINER - Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan tarif tol untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
ILUSTRASI KAPAL KONTAINER - Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan tarif tol untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. (freepik.com/Slon.Pics)

Di saat yang sama, pasar juga mulai meragukan peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Situasi tersebut membuat pelaku pasar memasukkan risiko geopolitik dalam perhitungan mereka.  Akibatnya, harga minyak terus terdorong naik.

Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Sahide, menilai dampak konflik di Timur Tengah tidak hanya dirasakan negara-negara yang terlibat secara langsung, tetapi juga mempengaruhi stabilitas ekonomi dunia.

Menurutnya, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui lebih dari 20 persen perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan keamanan di kawasan tersebut akan langsung mempengaruhi harga energi internasional.

"Jelas konflik ini mempunyai pengaruh global sebab lebih dari 20 persen minyak dunia melewati Selat Hormuz. Iran menjadikan Selat Hormuz sebagai senjata dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat," ujar Ahmad Sahide saat dihubungi Tribunnews Solo.

Selat Hormuz Masih Jadi Titik Panas Konflik

Lonjakan harga minyak juga dipengaruhi oleh memburuknya situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menuduh kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan rudal terhadap sebuah kapal dagang di Selat Bab al-Mandeb. 

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan enam orang, termasuk dua anggota pasukan keamanan yang sedang menjalankan misi penyelamatan.

Pada hari yang sama, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyerang dan melumpuhkan sebuah kapal kargo berbendera Panama yang dituding berusaha menerobos blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Rangkaian insiden tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa jalur perdagangan energi dunia masih jauh dari kondisi normal.

Padahal sebelum konflik pecah, Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak global. 

Setiap harinya, sekitar 130 kapal melintasi selat tersebut dengan total pengangkutan mencapai 20 juta barel minyak dan produk petroleum.

Namun berdasarkan data perusahaan intelijen maritim Windward, aktivitas pelayaran kini turun drastis. Pada Senin lalu, hanya 10 kapal yang tercatat melintasi Selat Hormuz.

Penurunan tajam tersebut menunjukkan bahwa gangguan terhadap rantai pasok energi global masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Negosiasi Masih Buntu

Di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar, Qatar sebelumnya menyampaikan bahwa pembicaraan antara Oman dan Iran mengenai Selat Hormuz telah memasuki tahap lanjutan dan diharapkan dapat menghasilkan pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut dalam waktu dekat.

Namun, Iran menegaskan bahwa pembicaraan dengan Oman merupakan proses yang terpisah dari negosiasi pembukaan Selat Hormuz.

Teheran juga tetap mempertahankan sejumlah syarat utama sebelum membuka kembali jalur strategis tersebut. 

Di antaranya adalah pencabutan sanksi ekonomi Amerika Serikat, pembayaran kompensasi perang, serta pemenuhan beberapa tuntutan lain yang diajukan Iran.

Perbedaan sikap tersebut membuat pasar semakin pesimistis terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Analis: Harga Minyak Berpotensi Tetap Tinggi

Kepala Analis Pasar KCM Trade Australia, Tim Waterer, mengatakan investor sebenarnya belum sepenuhnya kehilangan harapan terhadap proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Meski demikian, menurutnya, tingkat kepercayaan pasar terus menurun karena pembicaraan berjalan lambat dan belum menghasilkan perkembangan yang nyata.

Ia menjelaskan bahwa semakin lama negosiasi berlangsung tanpa kepastian, ditambah munculnya berbagai tuntutan baru dari kedua belah pihak, maka semakin kecil peluang tercapainya kesepakatan yang dapat segera diterapkan.

Akibat kondisi tersebut, optimisme yang sempat muncul pada awal bulan kini berubah menjadi sikap hati-hati. Premi risiko terhadap harga minyak pun terus meningkat.

Sementara itu, Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) memperkirakan produksi minyak di Timur Tengah baru akan kembali mendekati kondisi sebelum konflik pada awal 2027.

EIA juga memproyeksikan harga rata-rata minyak Brent sepanjang 2026 berada di kisaran 87 dolar AS per barel.

Pandangan serupa disampaikan analis pasar minyak senior Sparta Commodities, June Goh, yang memperkirakan harga Brent akan tetap bertahan di kisaran 85 hingga 90 dolar AS per barel selama arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz belum kembali normal.

Menurutnya, produksi minyak negara-negara OPEC baru dapat meningkat apabila jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali beroperasi secara penuh.

Dengan belum adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, pasar diperkirakan akan terus memberikan premi risiko terhadap harga minyak.

Kondisi tersebut membuat fluktuasi harga energi global diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia.

(TribunNewsmaker.com/TribunNews/Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.