TRIBUNNEWSMAKER.COM - Solo, Jawa Tengah, terus berkembang menjadi salah satu tujuan wisata yang ramai diperhitungkan wisatawan di Jawa Tengah.
Beragam penataan dan pembenahan kota membuat suasana Solo semakin menarik untuk dijelajahi.
Kota yang dikenal sebagai tempat kelahiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo ini memiliki banyak pilihan wisata, mulai dari budaya, sejarah, hingga kuliner.
Pesona tersebut membuat Solo kerap menjadi alternatif wisata budaya bagi masyarakat yang ingin berlibur selain ke Yogyakarta.
Selain warisan budaya, kekayaan kuliner tradisional menjadi alasan lain wisatawan datang ke Kota Bengawan.
Salah satu hidangan yang cukup populer dan banyak dicari wisatawan adalah timlo.
Kuliner berkuah ini menawarkan perpaduan rasa gurih dan segar yang khas.
Semangkuk timlo biasanya disajikan dengan beragam isian yang menggugah selera.
Baca juga: 6 Kuliner Legendaris di Solo Jawa Tengah yang Wajib Dicoba, Ada Timlo hingga Cabuk Rambak
Di dalamnya dapat ditemukan suwiran ayam, telur, sosis Solo, serta sejumlah pelengkap lainnya.
Kombinasi berbagai bahan tersebut membuat timlo memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan kuliner berkuah lainnya.
Menariknya, popularitas timlo ternyata tidak muncul secara instan seperti yang dikenal masyarakat saat ini.
Kuliner khas Solo tersebut memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner kota.
Beragam fakta unik mengenai timlo pun menarik untuk ditelusuri, terutama bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kuliner legendaris Solo.
Masyarakat Solo saat ini mengenal makanan tersebut dengan nama timlo.
Namun, nama tersebut ternyata mengalami perubahan dari nama awalnya, yakni kimlo.
Baca juga: 5 Tempat Makan Malam dekat Sekaten Alun-alun Utara Solo, Ada Timlo Mbak Tiek dan Penyetan 45
Mengutip laman Warisan Budaya Takbenda Indonesia, istilah kimlo merujuk pada makanan berupa sup yang berisi berbagai macam lauk.
Keberadaan kimlo di Indonesia bahkan sudah tercatat sejak masa sebelum kemerdekaan.
Salah satu bukti keberadaannya dapat ditemukan dalam buku resep masakan Poetri Dapoer yang memuat bahan dan cara penyajian hidangan tersebut.
Masyarakat Solo kemudian mengenal dan mempelajari cara membuatnya hingga kimlo berkembang menjadi salah satu makanan khas daerah.
Dalam perkembangannya, penyebutan kimlo mengalami perubahan.
Huruf "K" pada kata kimlo kemudian berubah menjadi "T", sehingga makanan tersebut lebih dikenal dengan nama timlo.
Perubahan nama tersebut kemudian melekat hingga sekarang.
Timlo juga memiliki sejarah yang berkaitan dengan masyarakat Tionghoa di Solo.
Sejarawan Kota Surakarta, Heri Priyatmoko, menyebut timlo memiliki akar dari tradisi kuliner Tionghoa.
Pada masa kolonial, makanan tersebut diperkenalkan oleh pedagang Tionghoa di Solo.
Pada masa awal perkembangannya, bahan yang digunakan dalam hidangan kimlo berbeda dengan timlo yang dikenal masyarakat Solo saat ini.
Salah satu bahan yang pernah digunakan adalah daging babi.
Namun, seiring berjalannya waktu, resep dan bahan timlo mengalami penyesuaian dengan kondisi masyarakat setempat.
Daging babi kemudian tidak lagi digunakan dan digantikan dengan bahan seperti daging ayam serta telur.
Perubahan tersebut membuat timlo semakin diterima oleh masyarakat Solo yang mayoritas beragama Islam.
Hingga kini, timlo yang banyak dijumpai di Solo menggunakan bahan-bahan yang telah disesuaikan dengan selera dan kebiasaan masyarakat setempat.
Cara menjajakan timlo pada masa lalu juga cukup berbeda dengan sekarang.
Para pedagang Tionghoa diketahui menjual makanan tersebut menggunakan pikulan sambil berkeliling di sekitar wilayah Surakarta.
Pembeli kemudian menikmati timlo di tempat sederhana sambil duduk atau berjongkok.
Suasana tersebut sekaligus menjadi ruang interaksi antara pedagang dan pembeli.
Tradisi berjualan dengan cara dipikul menunjukkan bagaimana timlo pada awalnya merupakan makanan rakyat yang mudah dijumpai di berbagai sudut Kota Solo.
Seiring perkembangan zaman, cara menjual timlo pun berubah.
Kini, masyarakat dapat menikmati timlo di berbagai warung, rumah makan hingga restoran yang menjadikan kuliner tersebut sebagai menu andalan.
Meski sekarang dikenal sebagai salah satu identitas kuliner Solo, perjalanan timlo untuk menjadi makanan populer tidak selalu berjalan mulus.
Pada masa kolonial, timlo disebut belum dianggap sebagai makanan yang layak disajikan bagi kalangan pembesar Keraton Surakarta.
Makanan tersebut lebih banyak berkembang di tengah masyarakat.
Dalam buku Indrukken van een totok karya Justus van Maurik, hidangan yang disebut "kimlo" bahkan pernah digambarkan sebagai makanan dengan harga yang sangat terjangkau.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kimlo pada masa itu merupakan makanan yang dapat dinikmati masyarakat dari berbagai kalangan.
Timlo juga melewati berbagai dinamika sosial dan politik sebelum akhirnya menjadi salah satu ikon kuliner Kota Solo.
Pada masa Orde Baru, makanan yang memiliki akar dari tradisi kuliner Tionghoa sempat menghadapi tantangan karena identitas Tionghoa di Indonesia ketika itu mendapat tekanan dan berbagai stereotip.
Meski demikian, timlo tetap bertahan.
Masyarakat Solo terus mengolah dan menikmati makanan tersebut hingga akhirnya timlo menjadi bagian dari identitas kuliner kota.
Resepnya pun berkembang mengikuti selera masyarakat, tanpa menghilangkan karakter utama berupa kuah yang gurih dan segar.
Perjalanan panjang timlo menunjukkan bagaimana sebuah makanan dapat mengalami perubahan sekaligus beradaptasi dengan masyarakat.
Dari kimlo yang memiliki pengaruh kuliner Tionghoa, makanan tersebut berkembang menjadi timlo yang lekat dengan identitas Kota Solo.
Perubahan bahan, cara penyajian hingga cara berjualan membuat timlo mampu bertahan melewati berbagai generasi.
Kini, timlo tidak hanya menjadi makanan yang dikonsumsi masyarakat Solo, tetapi juga menjadi salah satu kuliner yang dicari wisatawan ketika berkunjung ke Kota Bengawan.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal Solo melalui kulinernya, semangkuk timlo bisa menjadi salah satu pilihan.
Di balik kuah gurih dan berbagai isiannya, terdapat perjalanan sejarah panjang yang memperlihatkan pertemuan budaya dan kemampuan masyarakat dalam menjaga warisan kuliner.
Tak heran jika hingga kini timlo tetap menjadi salah satu kuliner khas Solo yang keberadaannya terus lestari di tengah perkembangan kota dan pariwisata.
(Tribunnewsmaker.com/ TribunSolo)