TRIBUNSORONG.COM, AIMAS - Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit kusta dan frambusia melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di seluruh wilayah Kabupaten Sorong.
Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Kusta dan Frambusia bagi Pengelola Program Kusta dan Frambusia yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong, Rabu (12/8/2026).
Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 29 petugas kusta dan frambusia dari puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Sorong.
Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemeriksaan, penemuan kasus secara dini, pengobatan, investigasi kontak, hingga pencatatan dan pelaporan kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong, Agustinus Wabia, mengatakan kusta dan frambusia merupakan penyakit yang masih menjadi perhatian karena termasuk penyakit tropis terabaikan (neglected tropical diseases).
Menurutnya, pemerintah menargetkan eliminasi kusta dan eradikasi frambusia.
Karena itu, penemuan kasus secara dini menjadi salah satu kunci utama dalam memutus mata rantai penularan sekaligus mencegah kecacatan.
“Walaupun angka kematiannya kecil, keberhasilan kita justru apabila menemukan kasus secara dini sehingga dapat mencegah terjadinya kecacatan. Tujuan kita adalah menemukan kasus dengan cepat, memberikan pengobatan secara kontinu sampai pasien sembuh dan tidak mengalami kecacatan,” ujar Agustinus.
Baca juga: Dinas Kesehatan Kota Sorong: Temuan 1.003 Kasus TB Adalah Bukti Keberhasilan Program Skrining Aktif
Ia mengungkapkan, hingga saat ini terdapat kasus kusta sebanyak 113 pasien dan kasus frambusia sebanyak 15 pasien di Kabupaten Sorong.
Melalui pelatihan ini, petugas akan dibekali keterampilan mulai dari proses pemeriksaan hingga pengobatan serta pencatatan dan pelaporan. Pelatihan dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu, 15 Agustus 2026.
Agustinus berharap setelah mengikuti pelatihan, para petugas mampu bekerja lebih optimal di wilayah kerja masing-masing sehingga masyarakat Kabupaten Sorong dapat terlindungi dari ancaman kusta dan frambusia.
Selain menemukan dan mengobati pasien, Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong juga menekankan pentingnya investigasi kontak untuk mencegah penyebaran kusta di lingkungan keluarga.
Agustinus menjelaskan, ketika ditemukan satu pasien positif kusta, petugas akan melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien tersebut.
“Minimal satu pasien harus dilakukan pemeriksaan terhadap 10 kontak eratnya. Misalnya suami yang terkena, maka istri, anak dan anggota keluarga yang tinggal serumah harus diperiksa,” katanya.
Apabila hasil pemeriksaan tidak menunjukkan tanda dan gejala penyakit, petugas dapat memberikan obat pencegahan atau kemoprofilaksis sesuai ketentuan program.
Namun, ia mengakui masih terdapat masyarakat yang menolak mengonsumsi obat pencegahan karena merasa tidak sedang sakit.
Padahal, pemberian obat pencegahan kepada kontak erat merupakan bagian penting dari upaya memutus mata rantai penularan dan melindungi anggota keluarga lainnya.
Baca juga: Dinas Kesehatan Kota Sorong Perkuat Layanan Kesehatan Jiwa Gratis di Puskesmas
“Ini adalah salah satu upaya bagaimana kita mencegah terjadinya penularan dan melindungi keluarga dari penyakit,” ujarnya.
Sementara dalam pengendalian frambusia, petugas akan melakukan pemeriksaan terhadap masyarakat berdasarkan temuan tanda dan gejala, termasuk luka yang dicurigai mengarah pada frambusia.
Jika ditemukan satu kasus positif dalam suatu desa, wilayah tersebut dapat masuk dalam kategori daerah endemis sehingga diperlukan langkah pengendalian lebih lanjut.
Salah satunya melalui pemberian obat pencegahan secara massal kepada masyarakat sesuai sasaran program.
Baca juga: Wabup Maybrat Sidak Dinas Kesehatan, Soroti Kualitas Pelayanan dan Tingginya Angka Kematian
Agustinus menjelaskan, upaya tersebut membutuhkan partisipasi masyarakat karena keberhasilan pengendalian tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga kesediaan masyarakat mengikuti pemeriksaan dan pengobatan yang diberikan.
Setelah cakupan pengobatan mencapai target yang ditetapkan, akan dilakukan survei serologis untuk memastikan keberhasilan pengendalian frambusia. Proses verifikasi dapat melibatkan tim dari tingkat pusat maupun lembaga terkait.
Untuk kusta, pemerintah menargetkan angka prevalensi berada di bawah 1 kasus per 10.000 penduduk sebagai salah satu indikator eliminasi.
Agustinus mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Kabupaten Sorong karena jumlah kasus yang ditemukan masih membutuhkan perhatian serius.
“Bagaimana kita menemukan kasus, mengobati sampai sembuh, kemudian memberikan terapi pencegahan supaya masyarakat kita terlindungi dari ancaman penyakit menular,” katanya.
Ia menilai keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak pasien yang ditemukan, tetapi juga dari kemampuan petugas melakukan penanganan secara tepat, mencegah kecacatan, melakukan pemeriksaan kontak serta memastikan pengobatan berjalan sampai tuntas.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong, Fiyanti Tallane, mengatakan pelatihan tersebut diikuti 29 petugas yang menangani program kusta dan frambusia dari puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Sorong.
“Setelah pelatihan ini diharapkan petugas dapat menangani kasus kusta dan frambusia di wilayah kerja masing-masing,” ujarnya.
Menurut Fiyanti, peserta tidak hanya diberikan pemahaman mengenai cara menemukan kasus, tetapi juga dibekali kemampuan menghadapi berbagai kondisi yang dapat terjadi dalam proses penanganan pasien, termasuk ketika terjadi reaksi maupun alergi terhadap pengobatan.
“Petugas harus lebih terampil dalam mengenali penyakit kusta dan frambusia di wilayah kerja mereka masing-masing,” katanya.
Dengan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong berharap penemuan kasus dapat dilakukan lebih cepat, pengobatan dapat diberikan secara tepat dan berkelanjutan, serta penularan kusta dan frambusia dapat ditekan.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam melindungi masyarakat dan mewujudkan Kabupaten Sorong yang lebih sehat, terutama dari ancaman penyakit menular yang masih membutuhkan perhatian bersama. (tribunsorong.com/taufik nuhuyanan)