TRIBUNJATENG.COM, PATI — Aktivis asal Kudus yang merupakan Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menegaskan gerakan perlawanan masyarakat di Kabupaten Pati tidak akan pernah padam.
Menurutnya, aksi konsolidasi yang terus menguat di tingkat akar rumput merupakan indikasi dari lahirnya gerakan kesadaran politik rakyat.
Baca juga: AMPB Bakal Gelar Reuni 13 Agustus dan Desak Pengesahan RUU Perampasan Aset Koruptor
Pernyataan tersebut disampaikan Tiyo saat menghadiri unjuk rasa Reuni Akbar Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan Gedung DPRD Kabupaten Pati, Kamis (13/8/2026).
Aksi unjuk rasa ini digelar dalam rangka memperingati satu tahun aksi massa besar-besaran menuntut pelengseran Bupati Pati yang saat ini nonaktif, Sudewo.
Tuntutan utama massa dalam aksi yang diikuti ratusan orang ini adalah mendesak pengesahan UU Perampasan Aset dan Hukuman Mati untuk Koruptor.
Tiyo menyampaikan bahwa gerakan yang tumbuh dari Pati memiliki tujuan jangka panjang untuk mewujudkan perubahan mendasar di Indonesia.
Menurutnya, konsep revolusi yang ia maksud bukan sekadar pergantian kepemimpinan nasional semata.
"Revolusi itu jangan dibayangkan sekadar menumbangkan presiden atau wakil presiden. Tidak. Revolusi itu artinya meretas suprastrukturnya Indonesia, yang menguasai ekonomi, yang menguasai politik, yang sejak dari merdeka sampai hari ini enggak akan berubah orangnya," ujar Tiyo di tengah kerumunan massa aksi.
Ia menilai saat ini Indonesia terancam dikuasai oleh kelompok elite tertentu maupun dinasti politik.
Oleh karena itu, ia mendorong agar seluruh lapisan masyarakat terus berkumpul dan saling bertukar gagasan untuk mencari solusi atas permasalahan bangsa secara mandiri, terutama ketika pemegang kekuasaan dinilai gagal memberikan kepastian hukum dan kesejahteraan.
Lebih lanjut, Tiyo menyoroti posisi strategis Kabupaten Pati dalam peta gerakan sosial di Indonesia.
Ia mengapresiasi keberanian rakyat Pati yang bergerak secara murni tanpa perlu sekat-sekat akademis atau jargon yang berlebihan.
"Pati punya sejarah yang harus membuat semua yang mengaku aktivis itu malu. Karena semua yang dilakukan ini enggak ada bahasa ndakik-ndakik, gagah-gahahan pakai almamater kampusnya, enggak ada. Ini rakyat Indonesia ya kayak gini," tegasnya.
Baca juga: AMPB Tuntaskan Aksi Unjuk Rasa di Depan Kejari Pati namun Kecewa Ada Pembatasan saat Audiensi
Mengakhiri keterangannya, Tiyo memberikan peringatan keras kepada para pemimpin politik di Indonesia agar segera membenahi tata kelola negara dan mendengarkan aspirasi masyarakat.
Jika tidak ada perubahan nyata, ia meyakini gelombang kesadaran rakyat akan terus membesar.
"Pemimpin ini kalau enggak mau berubah, hati-hati. Karena bibit-bibit revolusi sudah tumbuh. Yang dahulu pernah ditanam oleh sejarah, hari ini mulai tumbuh. Kalau tidak dipotong dengan cara memperbaiki Indonesia, maka akan tumbuh besar dan menghantam mereka," pungkasnya. (mzk)