Prabowo Klaim Pendapatan Ojol Naik 2-3 Kali Lipat, Driver di Bandung: Itu Ojol yang Mana?
Seli Andina Miranti August 15, 2026 05:45 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Presiden Prabowo Subianto menyatakan penghasilan pengemudi ojek online (ojol) meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat, setelah pemerintah menetapkan sistem bagi hasil baru antara perusahaan aplikasi dan driver.

Hal tersebut disampaikannya dalam Pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR, Jumat (14/8/2026) lalu. 

Menanggapi hal tersebut, pengemudi ojek online di Kota Bandung, Jawa Barat, Muhammad Ridwan (37) mengatakan pernyataan orang nomor satu di Indonesia ini bertolak belakang dengan realita yang ada.

Baca juga: Prabowo Usul Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Pasar Soroti Stabilitas Rupiah

"Enggak tahu itu ojol yang mana? Yang di Jakarta? menurut saya setelah aturan baru pendapatan biasa-biasa saja, bahkan beberapa teman lain mengeluh pendapatannya berkurang," kata dia, saat ditemui di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Sabtu (15/8/2026).

Soal aturan baru, kata dia, pembagian pendapatan antara pengemudi dan perusahaan aplikasi membatasi potongan atau komisi aplikator maksimal 8 persen. 

Meski demikian, aturan tersebut tidak menjawab secara keseluruhan keresahan pengemudi ojol selama ini. 

"Mungkin pada mikirnya porsi pendapatan yang diterima driver jadi lebih besar, padahal enggak sesimple itu," tuturnya.

Ridwan mengaku mengapresiasi Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Pelindungan Pekerja Transportasi Online, sebagai langkah nyata pemerintah atas aspirasi pihaknya selama ini. 

"Tapi, kan setelah berjalan belum tentu jadi solusi atas permasalahan selama ini. Aturan baru itu, misal penumpang bayar Rp20 ribu, itu dipotong driver pakai aplikasi potongannya Rp500, jadi Rp19.500 kita dapat sekitar Rp22.500 dan perusahaan Rp1.960," jelasnya. 

Namun, saat ini, kata Ridwan, penumpang cenderung stagnan.

"Intinya mau potongan bagaimana pun, kalau sepi untuk apa. Inginnya penumpang ramai terus, saat ini kan biasa," ujarnya.

Menurutnya, dengan ramainya penumpang biaya bensin hingga kebutuhan harian bisa terpenuhi. 

"Apalagi Bahan Bakar Minyak (BBM) kemarin naik, saya pakai Pertamax karena untuk menjaga mesin. Memang kemarin udah turun berapa ratus perak. Belum lagi perawatan bulanan seperti oli itu harus diakomodasi," ucapnya. 

"Sedangkan kita yang sehari-hari ngojol hanya mengandalkan dari ini saja untuk biaya rumah tangga," katanya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Jamin Korban Begal Bebas Biaya Medis, Polda Jabar Rangkul Pengemudi Ojol Jaga Keamanan

Dalam sehari, kata dia, jika penumpang ramai bisa mengantongi hingga Rp250 ribu untuk pendapatan bersih. Meski demikian, saat ini diakuinya sulit didapat di tengah banyak aplikator dan pengemudi ojol. 

"Itu kalau ramai wisatawan, keluar dari pagi sampai sore. Sekarang paling besar Rp150 ribu, memang lagi turun, enggak tahu karena apa. Padahal mobile juga," ucapnya. 

Sementara itu, pengemudi ojol lainnya, Angga Kosasih (48) menyebut pendapatan harian yang didapatnya memang naik, namun tidak sampai melonjak tiga kali lipat. 

"Harapannya sih begitu, naik kayak seperti Pak Presiden. Naik juga karena sekolah udah mulai masuk, jadi rame lagi," ujarnya, saat ditemui di Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung. 

Menurut warga Andir tersebut, pendapatan naik karena ia memakai dua hingga tiga aplikasi sekaligus. 

"Jadi enggak pakai satu aplikasi, ada beberapa. Dari sana lumayan ada tambahan, tapi enggak terlalu berkali-kali lipat. Ada pengemudi lain yang mengeluh juga saat aturan baru (Perpres) waktu bulan Juli disahkan. Katanya, jadi susah dapat penumpang, tapi menurut saya itu bagaimana history perjalanan kita, kalau sering (keluar) ya ada saja," jelasnya. 

Setiap hari, bapak tiga orang anak ini bekerja di jalanan lebih dari tiga belas jam. 

"Kalau saya lumayan lama, keluar jam 7.00 pagi ke rumah bisa jam 20.30-21.00 WIB. Kemudian track record saya juga sering perjalanan jauh, mungkin kebantu sama itu," tuturnya.

Dia menilai aturan Perpres mendorong agar hasil bagi pengemudi dan perusahaan transportasi seimbang. Meski demikian, terdapat persoalan yang belum terpenuhi, yakni layanan tarif hemat di aplikasi juga masih berjalan. 

"Tarif hemat ini kalau masuk hitungan, ya tidak apa-apa. Ini misal jarak lebih dari lima kilometer sama seperti bawa penumpang dua atau tiga kilometer," katanya. 

Dia berharap mekanisme tarif ini bisa jadi pertimbangan untuk dirumuskan pemerintah dan perusahaan transportasi ke depannya. 

Baca juga: Penghasilan Di Bawah UMK, Warga Bandung Keluhkan Data Desil 10 dan 9 Tak Sesuai Kondisi Ekonomi

"Harapan pemerintah mungkin ingin semuanya sejahtera, ya kita juga mendambakan itu. Jadi ketika Pak Presiden bilang pendapatan ojol naik, inginnya duduk bareng lagi dengan kami, sebetulnya realita di lapangannya itu seperti apa," ucap Angga. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.