TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Anggota DPRD Kota Makassar William Laurin mengikuti Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga yang digelar di halaman Kompleks Persekolahan Rajawali, Jalan Arif Rate, Minggu (16/8/2026).
Ia bersama Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Sulawesi Selatan (Sulsel), Erika Tansil, menyambut kedatangan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin dan Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana dalam perayaan tersebut.
William menjelaskan, Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga merupakan perayaan yang diperingati umat Katolik setiap 15 Agustus.
Namun, pelaksanaan perayaan bersama umat Katolik di Makassar disesuaikan dengan hari Minggu terdekat.
"Perayaannya setiap hari Minggu terdekat dari 15 Agustus, baik sebelum maupun sesudah," jelas William saat diwawancarai wartawan.
Menurutnya, perayaan tersebut memiliki makna sebagai perjalanan umat dalam menemukan dan memperkuat iman.
Perayaan tahun ini mengangkat tema "Peziarahan Bersama Maria Menuju Kristus Raja Damai".
William menjelaskan, tema peziarahan mengingatkan umat bahwa kehidupan manusia di dunia merupakan sebuah perjalanan untuk mencari kedamaian bersama Tuhan dan sesama.
"Ketika kita berziarah di dunia ini, kita bersama dengan Bunda Maria untuk mencari, menemukan iman kita, untuk mencari kedamaian," ujarnya.
William menyebut jumlah umat yang hadir dalam perayaan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 6.000 orang.
Umat yang hadir berasal dari berbagai wilayah dalam lingkup Keuskupan Agung Makassar.
Selain itu, terdapat pula umat dari luar wilayah, termasuk dari Toraja dan Kendari.
"Kurang lebih kami estimasi ada sekitar 6.000 lebih," katanya.
Ia menambahkan, perayaan ini menjadi pengingat bagi umat Katolik untuk terus menemukan dan menguatkan iman selama menjalani kehidupan di dunia.
"Kita harus menemukan iman kita untuk tetap memeberikan kasih kepada sesama dan menjaga cinta," ujarnya.
Pelaksanaan Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Makassar selama bertahun-tahun memilih halaman Kompleks Persekolahan Rajawali sebagai lokasi perayaan bersama.
Penyelenggaraan misa setiap tahunnya dilakukan secara bergilir oleh setiap paroki yang tergabung dalam Keuskupan Agung Makassar.
Pada tahun ini, Paroki Kristus Raja Andalas (KAMS) mendapat kesempatan menjadi penyelenggara kegiatan.
Paroki merupakan wilayah komunitas umat Katolik yang dilayani oleh seorang pastor atau imam paroki dan berada di bawah suatu keuskupan.
Diketahui, terdapat 15 paroki yang tergabung dalam Keuskupan Agung Makassar, yakni Paroki Kristus Raja Andalas, Paroki Santo Yoseph Gotong-Gotong, Paroki Maria Ratu Rosari Kare, Paroki Katedral Hati Yesus yang Mahakudus, Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Mamajang, dan Paroki Santo Yakobus Mariso.
Kemudian Paroki Santo Fransiskus Assisi Panakkukang, Paroki Maria Rosa Mystica Sudiang, Paroki Santo Paulus Tello, Paroki Santo Albertus Agung Tanjung Bunga, Paroki Santo Petrus Rasul, Paroki Siti Fatima, Paroki Santa Perawan Maria Bunda Pengharapan Suci, Paroki Santa Faustina, dan Paroki Simon Petrus Gembala yang Baik.
Dari pantauan di lokasi, jemaat khusyuk mengikuti agenda Misa. Lantunan doa tak hentinya dirapalkan.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin dalam sambutannya mengatakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga bukan hanya menjadi momentum penting dalam kehidupan iman umat Katolik, tetapi juga mengandung nilai-nilai keteladanan yang universal.
Menurutnya, sosok Bunda Maria mengajarkan ketaatan, kerendahan hati, ketulusan, kesetiaan, kasih, dan penghargaan terhadap sesama.
"Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk kita implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam membangun Kota Makassar yang aman, damai, toleran, dan harmonis," kata Munafri.
Ia mengatakan Makassar merupakan kota yang dihuni masyarakat dari berbagai suku, agama, budaya, dan latar belakang.
Perbedaan tersebut, kata dia, bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kekuatan untuk saling mengenal, menghargai, dan bekerja sama.
Munafri juga menyampaikan apresiasi kepada Keuskupan Agung Makassar dan seluruh umat Katolik yang selama ini telah mengambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
"Kita membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan organisasi keagamaan untuk bersama-sama menciptakan Makassar yang aman, nyaman, inklusif, religius, dan berkeadaban," ujarnya.
Ia menegaskan Pemerintah Kota Makassar berkomitmen untuk terus menjaga kerukunan umat beragama, toleransi, serta kebebasan masyarakat dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing.
Menurut Munafri, pembangunan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa kuat persaudaraan dan kepedulian masyarakatnya.
Dalam momentum tersebut, Munafri mengajak seluruh umat Katolik untuk terus menjadi bagian penting dalam pembangunan kehidupan sosial yang penuh kasih dan kepedulian.
"Mari kita terus membangun semangat saling menghormati, saling membantu, bergotong royong, dan menjaga persaudaraan tanpa melihat perbedaan latar belakang," tuturnya.