Laporan wartawan Serambi Indonesia Muhammad Nasir I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Di sebuah ruang berukuran 3x4 meter, di kompleks rumah singgah milik Pemko Banda Aceh, tangis NN, perempuan paruh baya asal Sabang, pecah.
Dadanya terasa sesak. Ia seperti tak bisa menerima kenyataan mengenai apa yang baru saja didengarnya.
Di ruang itu, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, berbicara dari hati ke hati. Ia menyampaikan bahwa putra NN yang berinisial F dinyatakan positif mengidap HIV.
Hal itu berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Medis di bawah naungan Pemko Banda Aceh.
Mendengar kenyataan itu, NN langsung menangis. Ia meratapi mengapa persoalan tersebut bisa menimpa keluarganya.
Sang putra, F, yang duduk di sampingnya hanya bisa terpaku dan terdiam, mengetahui dirinya menjadi salah satu pengidap penyakit menular yang kini paling ditakuti.
“Badannya kekar, gagah kayak gini, tapi kenapa harus menjadi bencong? Kenapa harus kayak gini? bukan suka sama cewek,” ujar NN sambil menangis di hadapan Illiza.
Melihat ibunya menangis, F hanya bisa terpaku dan menatap kosong. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Dirinya sepertinya juga terkejut mengetahui bahwa ia kini dinyatakan positif HIV.
Baca juga: Oknum Pejabat Banda Aceh Ditangkap Bersama Pasangan Sejenis, Illiza: Kita Tidak Akan Tebang Pilih
Diketahui F merupakan satu dari empat pria yang diamankan oleh petugas Satpol PP dan WH dari salah satu warung kopi di Banda Aceh.
Saat itu terdapat empat pemuda yang sedang nongkrong. Salah satu teman F datang mengenakan jilbab dan pakaian duster layaknya perempuan.
Mengetahui ada satu tongkrongan yang tampil nyeleneh, petugas WH pun datang. Mereka kemudian dibawa ke kantor WH untuk didata dan selanjutnya dibawa ke rumah singgah.
Di sana mereka menjalani pemeriksaan kesehatan.
Hasilnya diketahui bahwa dua orang dari empat pemuda tersebut positif HIV. Keduanya tercatat sebagai warga Sabang, namun saat ini berdomisili di Banda Aceh.
Sedangkan dua lainnya yang merupakan warga Banda Aceh dan Aceh Besar telah dinyatakan aman dari penyakit menular tersebut.
Pada Jumat, 14 Agustus 2026, Wali Kota Illiza sengaja datang ke rumah singgah.
Keputusan berat itu diumumkan Illiza di ruang khusus. Mereka dipanggil satu per satu, anak dan orang tuanya duduk berhadapan langsung dengan sang wali kota.
Kepada sang ibu, Illiza memberikan pengertian bahwa kondisi tersebut merupakan kenyataan yang sangat berat bagi seorang ibu.
Melihat putra kesayangannya mengalami persoalan perilaku seksual dan mengidap HIV, tentu bukan perkara mudah.
Namun, ia meminta agar orang tua tetap menerima kejadian itu dengan lapang dada dan menyayangi sang anak.
“Kalau bukan ibu yang sekarang menyayangi dia, siapa lagi? Jadi ibu harus memberi perhatian ke dia, dia harus berobat, harus menerima semua ini,” ujar Illiza.
Illiza menguatkan sang ibu, NN, agar bisa menjalani hari-hari yang berbeda bersama anaknya sambil rutin menjalani pengobatan.
Ia juga meminta sang ibu agar tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah dan meminta jalan terbaik untuk anaknya.
“Jangan ibu doakan yang buruk-buruk untuk dia, walaupun dia sudah begini. Doakan yang terbaik, minta kepada Allah yang terbaik untuk dia,” tambah Illiza.
Illiza mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan petugas, sang anak ternyata pernah mengalami pelecehan seksual saat masa kanak-kanak ketika ia bersekolah di TK.
Sehingga, kemungkinan trauma masa lalu tersebut juga memengaruhi perubahan perilakunya.
Meskipun sudah diminta dan dikuatkan oleh Illiza, tangis NN tak kunjung berhenti.
Ia tak bisa membayangkan hari-hari ke depan yang harus dihadapi.
Salah satunya, ia tidak mengerti dan mengetahui cara memberi tahu kondisi tersebut kepada sang suami maupun keluarga lainnya.
Ia takut jika suaminya mengetahui hal itu, kondisinya justru akan semakin buruk.
Apalagi sebelumnya mereka juga memiliki anggota keluarga yang terkait dengan persoalan narkoba.
Suaminya termasuk sosok yang keras, bahkan melarang orang tersebut mendekati anak-anaknya.
Namun Illiza meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan secara perlahan.
Katanya, nanti sang ayah dan ibu akan pergi bersama untuk berkonsultasi dengan psikolog yang sudah disiapkan oleh Pemko Banda Aceh.
Setelah kejadian itu, Illiza menekankan agar NN menjadi lebih kuat karena ia harus menjadi sosok yang memberikan perhatian kepada anaknya yang kini mengidap HIV.
Dengan begitu, anaknya memiliki semangat menjalani pengobatan dan berkonsultasi dengan psikolog, sehingga ia dapat mengubah jalan hidup yang telah salah ia pilih.
Sementara seorang pemuda lainnya yang juga positif HIV, berinisial RJ, asal Sabang, tidak didampingi oleh orang tua kandungnya.
Diketahui, saat ini HIV memang menjadi ancaman tersendiri di Banda Aceh karena tingginya angka pengidap.
Sejak 2008 tercatat ada sekitar 918 kasus HIV di Banda Aceh.
Tingginya angka tersebut menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Banda Aceh. Tahun ini saja sudah ditemukan 43 kasus baru.
Namun, dari jumlah itu hanya sebagian kecil yang tercatat sebagai warga Banda Aceh.
Sementara lainnya merupakan pendatang atau warga luar daerah yang melakukan pemeriksaan di Kota Banda Aceh.
Hal itu karena fasilitas pemeriksaan HIV memang lebih banyak tersedia di Kota Banda Aceh.(*)