Liputan6.com, Jakarta - Kedelai Malika merupakan salah satu varietas kedelai hitam unggul asal Indonesia yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kecap. Kehadirannya turut mendukung pemanfaatan hasil pertanian lokal sekaligus memenuhi kebutuhan industri pangan dalam negeri.
Dikenal memiliki karakteristik biji berwarna hitam, kedelai Malika menarik perhatian karena kualitasnya sebagai bahan baku produk olahan. Varietas ini juga dikembangkan untuk menyesuaikan dengan kondisi pertanian di Indonesia sehingga memiliki potensi untuk dibudidayakan di berbagai wilayah.
Selain digunakan dalam industri kecap, kedelai Malika memiliki nilai gizi dan potensi pemanfaatan yang menarik untuk diketahui. Karakteristik, keunggulan, hingga penggunaannya membuat varietas ini menjadi salah satu kekayaan pangan lokal yang layak dikenali lebih jauh.
Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang kedelai malika, Selasa (18/8/2026).

Perjalanan kedelai Malika bermula dari penelitian terhadap kedelai hitam lokal yang dilakukan oleh Dr. Ir. Setyastuti Purwanti, M.S., dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Melansir laman UGM, benih kedelai hitam lokal yang awalnya hanya sekitar satu genggam kemudian ditanam dan dikembangkan melalui proses pemurnian atau purifikasi. Penelitian dan pengujian tersebut dilakukan untuk mendapatkan varietas dengan karakter yang lebih unggul dan stabil.
Dalam proses pengembangannya, kedelai hitam tersebut diuji di sejumlah lokasi dan musim tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas ini memiliki potensi produksi yang lebih tinggi dibandingkan beberapa kedelai hitam lokal lainnya, dengan rata-rata hasil sekitar 2,74 ton per hektare. Kedelai tersebut juga diketahui memiliki kemampuan bertahan pada kondisi kekeringan maupun kelebihan air. Setelah melalui serangkaian uji varietas dan uji lokasi, Setyastuti kemudian mendaftarkannya untuk dilepas sebagai varietas unggul.
Nama Mallika kemudian dipilih untuk varietas tersebut. Menurut laman UGM, nama Mallika berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "kerajaan". Pada Februari 2007, Mallika resmi dilepas sebagai varietas unggul nasional melalui penetapan Menteri Pertanian. Pengembangannya selanjutnya melibatkan UGM, petani, pemerintah, dan industri, termasuk Unilever Indonesia yang memanfaatkan kedelai hitam tersebut sebagai bahan baku kecap.
Pengembangan Mallika juga tidak berhenti pada penelitian di laboratorium. UGM mencatat bahwa Setyastuti mengajak ribuan petani di sejumlah wilayah Pulau Jawa untuk membudidayakannya. Pada 2012, laman UGM menyebut sekitar 7.000 petani telah menanam Mallika di berbagai daerah di DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hal ini menjadikan pengembangan kedelai tersebut sebagai contoh kolaborasi antara akademisi, petani, pemerintah, dan industri dalam memperkuat produksi kedelai hitam lokal.

Melansir artikel JEECOM Vol. 4 No. 2 (Oktober 2022) berjudul Klasifikasi Kualitas Citra Kedelai Hitam (Malika) Menggunakan Metode K-Nearest Neighbor, kedelai merupakan salah satu komoditas pertanian penting yang banyak dikonsumsi karena menjadi sumber nutrisi, terutama protein, serta mengandung minyak. Kedelai hitam Malika merupakan kedelai dengan kulit biji berwarna hitam dan memiliki batas pencampuran dengan jenis kedelai lain maksimal 10 persen.
Sebagai varietas kedelai hitam lokal, Malika mampu beradaptasi di dataran tinggi maupun dataran rendah, baik pada musim hujan maupun kemarau. Dari sisi kualitas biji, kedelai Malika dapat memiliki biji belah atau kulit biji terlepas dengan persentase maksimal 5 persen. Sementara itu, butir rusak, seperti biji berlubang akibat serangan hama, pecah, berkecambah, busuk, atau mengalami perubahan warna dan bentuk, memiliki batas maksimal 5 persen.
Dari segi kandungan, artikel tersebut menyebut kedelai hitam Malika mengandung sekitar 37 persen protein dan 20 persen lemak. Tanaman ini juga memiliki polong yang lebat dan relatif tidak mudah pecah. Malika memiliki umur panen sekitar 85–90 hari serta disebut toleran terhadap ulat grayak dan ulat jengkal, sehingga menjadi salah satu karakter yang mendukung potensinya untuk dibudidayakan.

Kedelai Malika memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya menarik untuk dikembangkan, baik dari sisi budidaya maupun pemanfaatannya sebagai bahan pangan. Melansir laman Universitas Gadjah Mada (UGM), varietas Mallika memiliki pertumbuhan yang stabil dan seragam, daya simpan yang lebih lama, serta kemampuan beradaptasi terhadap kondisi kekeringan dan kelebihan air.
Beberapa keunggulan kedelai Malika antara lain:
Berdasarkan uji varietas yang dilakukan UGM di 12 lokasi dengan dua musim tanam, Mallika memiliki rata-rata hasil sekitar 2,74 ton per hektare. Produksi terendah yang tercatat sekitar 1,92 ton per hektare. Hasil tersebut disebut lebih tinggi dibandingkan beberapa varietas kedelai hitam lokal lainnya, seperti Cikurai dan Marapi.
Kemampuan beradaptasi pada kondisi lingkungan menjadi salah satu keunggulan Mallika. Hasil pengujian UGM menunjukkan varietas ini memiliki daya tahan terhadap kekeringan maupun kelebihan air, sehingga berpotensi dibudidayakan pada kondisi lingkungan yang tidak selalu ideal.
UGM menyebut Mallika sebagai kedelai yang memiliki sumber protein tinggi. Sementara itu, angka sekitar 40,4 gram protein per 100 gram lebih tepat digunakan sebagai gambaran kandungan protein kedelai hitam secara umum, bukan angka spesifik Mallika. Beberapa literatur yang membahas kedelai hitam mencantumkan kandungan protein sekitar 40,4 gram per 100 gram.
Warna hitam pada biji kedelai berasal dari pigmen pada kulit biji, termasuk antosianin. Penelitian di Repository UGM terhadap varietas Mallika menunjukkan ekstrak kulit bijinya mengandung senyawa fenolik dan antosianin serta memiliki aktivitas antioksidan dalam pengujian laboratorium. Hasil tersebut menunjukkan potensi aktivitas antioksidan, tetapi tidak berarti konsumsi Mallika secara langsung dapat mencegah penyakit tertentu.
Kedelai hitam juga mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk isoflavon. Senyawa ini banyak diteliti karena aktivitas biologisnya, tetapi klaim seperti menjaga kesehatan jantung, menyeimbangkan hormon, atau mencegah penyakit degeneratif sebaiknya tidak ditulis sebagai manfaat pasti dari kedelai Malika, kecuali didukung penelitian klinis yang secara khusus mengujinya.

Kedelai hitam Mallika memiliki kandungan protein dan senyawa bioaktif yang menarik untuk dikembangkan sebagai bahan pangan. Namun, manfaat kesehatan sebaiknya disebut sebagai potensi, karena tidak semua klaim kesehatan telah dibuktikan secara khusus pada varietas Mallika.
Beberapa potensi dan pemanfaatannya antara lain:
Kedelai mengandung protein nabati dan isoflavon yang telah banyak diteliti terkait kesehatan kardiovaskular. Meski demikian, manfaat tersebut tidak dapat secara langsung dianggap sebagai efek khusus dari kedelai Mallika tanpa penelitian klinis yang spesifik.
Warna hitam pada kulit bijinya berasal dari pigmen, termasuk antosianin. Penelitian terhadap kulit biji Mallika menunjukkan adanya kandungan senyawa fenolik dan antosianin serta aktivitas antioksidan dalam pengujian laboratorium.
Kedelai memiliki protein, serat, dan berbagai senyawa bioaktif yang membuatnya menarik dalam penelitian mengenai metabolisme glukosa. Namun, konsumsi kedelai Mallika tidak dapat disebut sebagai pengobatan atau pencegahan diabetes.
Kandungan protein yang tinggi membuat Mallika dapat menjadi salah satu pilihan bahan pangan untuk menambah asupan protein, terutama ketika diolah menjadi berbagai produk seperti tempe atau tahu.
Kedelai Mallika tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap, tetapi juga berpotensi diolah menjadi tauco, tempe, tahu, susu kedelai, hingga camilan. Karakter biji hitamnya juga membuat produk olahan tertentu memiliki tampilan yang khas.
Untuk olahan sederhana di rumah, kedelai yang telah direndam dapat dipanggang hingga kering dan renyah. Kedelai juga dapat diolah menjadi camilan dengan cara digoreng setelah melalui proses persiapan yang sesuai.
Untuk membuat camilan panggang, kedelai yang sudah direndam dapat ditiriskan dan dikeringkan terlebih dahulu. Setelah itu, sebarkan di atas loyang yang telah diberi sedikit minyak, kemudian panggang pada suhu sekitar 177°C selama 40–45 menit. Aduk sesekali agar tingkat kematangannya lebih merata hingga biji berubah warna menjadi kecokelatan dan teksturnya renyah.
Selain menggunakan oven, kedelai juga dapat diolah menggunakan wajan atau alat pemanggang lainnya. Jika ingin dijadikan bahan masakan, biji dapat direbus hingga empuk setelah direndam. Cara pengolahan sebaiknya disesuaikan dengan jenis makanan yang akan dibuat agar tekstur dan cita rasa kedelai tetap optimal.
Kedelai Malika adalah varietas kedelai hitam unggul asli Indonesia yang dikembangkan melalui kolaborasi akademisi, petani, dan industri. Varietas ini dikenal karena kualitasnya yang tinggi dan perannya dalam mendukung kedaulatan pangan nasional, terutama sebagai bahan baku utama kecap manis.
Kedelai Malika dikembangkan oleh Dr. Ir. Setyastuti Purwanti, M.S. dari Fakultas Pertanian UGM, bersama timnya, melalui penelitian metode purifikasi terhadap calon benih unggul kedelai hitam lokal.
Kedelai Malika unggul dalam ketahanan terhadap kekeringan, genangan air, dan hama. Produktivitas rata-ratanya mencapai 2,74 ton per hektar, serta memiliki kandungan protein, antioksidan, polifenol, dan isoflavon yang tinggi dibandingkan kedelai kuning.
Kedelai Malika menjadi bahan baku utama untuk produk kecap Bango dari Unilever Indonesia. Kualitas warna hitam pekat, rasa gurih alami, dan kandungan antioksidannya menjadikannya ideal untuk kecap premium.
Kedelai Malika berpotensi membantu menjaga kesehatan jantung, mengelola diabetes dan gula darah, mendukung kesehatan tulang, membantu penurunan berat badan, serta berfungsi sebagai sumber antioksidan tinggi.