Hasil Skrining Dini, Pelajar dan Remaja di Sleman Banyak Alami Hipertensi hingga Gejala Depresi 
Muhammad Fatoni August 18, 2026 07:02 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengungkap data memprihatinkan dari hasil skrining kesehatan fisik dan mental pada ribuan anak usia sekolah di Bumi Sembada tahun ini.

Selain tingginya kasus tekanan darah tinggi (hipertensi) dan gula darah akibat pola makan buruk, Dinkes Sleman juga merekam adanya gejala depresi dan kecemasan pada usia remaja.

Lebih memprihatinkan lagi, angka kasus bunuh diri di Sleman hingga memasuki Agustus ini telah meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. 

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Seruni Angreni Susila, M.PH, menjelaskan upaya promotif dan preventif terus digencarkan untuk mempersiapkan generasi muda yang sehat sejak dini dan berprestasi untuk negeri.

Upaya mewujudkan itu dilakukan bukan hanya melalui proteksi imunisasi semata, pihaknya juga melakukan skrining kesehatan fisik dan mental bagi anak usia sekolah maupun remaja di Kabupaten Sleman. 

"Kami melakukan cek kesehatan bagi anak usia sekolah maupun remaja. Dan mengapa generasi di Kabupaten Sleman harus kita persiapkan, tidak hanya diproteksi dengan imunisasi, tetapi dipersiapkan secara fisik dan mental," kata Seruni, Selasa (18/8/2026). 

Hasil Skrining

Dari total 56.140 anak usia sekolah dan remaja yang menjalani skrining, baik di sekolah formal, non-formal, maupun anak-anak yang tidak bersekolah, Dinkes Sleman mencatat sejumlah data kesehatan fisik yang memerlukan perhatian.

Antara lain, tekanan darah tinggi ditemukan pada sekitar 18,42 persen anak usia sekolah.

Sebanyak 0,73 % anak mengalami gula darah tinggi meskipun belum terdiagnosis diabetes mellitus, sementara 3,62 % atau setara 674 anak berada dalam kondisi pre-diabetes.

Bukan hanya itu, pada skrining tahun ini juga menemukan data 4,14 % anak pemula di Sleman yang melakukan kegiatan merokok.

Menurut dr. Seruni, temuan kasus gula darah yang meningkat, bahkan sempat ditemukan mencapai angka 300 saat skrining di sekolah maupun komunitas seperti mal dan kampus, disebabkan oleh pola makan yang kurang seimbang.

"Penyebabnya karena pola makan yang cenderung hanya makan karbohidrat atau fast food saja, tanpa gizi seimbang dan tidak dibarengi dengan aktivitas fisik. Ini menjadi warning system bagi kita. Keluarga menjadi garda terdepan mengenalkan gizi seimbang bagi anak, dan pemilihan jajanan juga penting diutamakan dari makanan buatan lokal," katanya. 

Kesehatan Jiwa

Selain kesehatan fisik, Dinkes Sleman juga memprioritaskan skrining kesehatan jiwa menggunakan perangkat instrumen standar Kementerian Kesehatan yang terdiri dari 15 pertanyaan, serta pemanfaatan alat Heart Rate Variability (HRV) mesin skrining berbasis detektor.

Saat ini, mesin HRV telah tersedia di 4 Puskesmas dan 1 unit di Dinas Kesehatan.

Dari 18.845 anak yang menjalani skrining kesehatan mental, ditemukan 5,6 % mengalami gejala depresi ringan dan 2,38 % mengalami gejala depresi berat.

Adapun 5,25 % mengalami gejala kecemasan ringan dan 2,06 % mengalami gejala kecemasan berat.

Seruni menegaskan bahwa naiknya angka temuan ini bukan berarti kasus gangguan jiwa mengalami lonjakan drastis dari tahun-tahun sebelumnya, melainkan karena sistem deteksi dini dan literasi masyarakat yang kini jauh lebih aktif.

Baca juga: Viral Kurir Paket Diduga Lakukan Pelecehan di Minggir Sleman, Polisi Buka Suara

Kasus Bunuh Diri

Walau demikian, ia mengakui ada peningkatan kasus yang memicu kewaspadaan dini, terutama terkait angka bunuh diri. 

Tercatat hingga pertengahan Agustus ini, jumlah kasus bunuh diri di Kabupaten Sleman telah mencapai 15 kasus, atau naik dua kali lipat dibanding tahun lalu yang totalnya hanya 7 kasus.

Memang tidak semua kasus bunuh diri ini dilakukan oleh warga asal Sleman. Katena ada juga kasus warga luar daerah yang tinggal dan berdomisili di Sleman. 

"Ini belum KLB. Karena ini masih berlangsung terus, karena kasus bunuh diri yang tercatat tidak hanya warga Sleman tapi kejadiannya di Sleman. Tapi ada juga dari warga mereka, berdomisili sementara, ngontrak kos kosan dengan latar belakang bervariasi," ujarnya. 

Kasus bunuh diri tersebut dipicu oleh berbagai latar belakang bervariasi, mulai dari permasalahan keluarga, terjerat utang, hingga masalah ekonomi lainnya.

Oleh karena itu, menghadapi tantangan kesehatan fisik dan mental di usia remaja ini, Dinkes Sleman menekankan pentingnya ketahanan keluarga dan pengawasan gaya hidup anak.

Orangtua diimbau untuk lebih peka terhadap aktivitas anak, termasuk membatasi dan mengecek perangkat media yang sering digunakan serta membangun komunikasi yang seimbang.

Pihaknya juga mengapresiasi inovasi Gerakan Ayah Sayang Anak (GASA) yang diusung oleh DPA3AP2KB, di mana para ayah diharapkan terlibat aktif berkomunikasi dengan anak remaja agar mereka memiliki tempat mencurahkan isi hati secara langsung kepada keluarga.

Selain itu, dr Seruni berpesan agar masyarakat dan media massa dapat membantu memberikan edukasi literasi yang benar.

Ia mengimbau agar warga atau remaja yang mengalami kebingungan psikologis tidak mencari solusi secara mandiri melalui browsing atau arahan kecerdasan buatan (AI), melainkan memanfaatkan fasilitas kesehatan resmi yang telah disediakan secara terjangkau dan gratis di Kabupaten Sleman.

"Kami dorong masyarakat Sleman, yang masih merasa konsultasi kesehatan jiwa ini mahal, di Puskesmas bisa diakses dan gratis. Silakan gunakan BPJS nya. Kalau tidak punya BPJS cuma bayar Rp26 ribu sudah bisa konsultasi (dengan psikolog) sepuasnya," kata dia.

Dispora Ikut Bergerak

Sejalan dengan upaya kesehatan tersebut, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman juga turut bergerak melalui program pembudayaan dan pembinaan olahraga. 

Kepala Dispora Sleman, Heru Saptono mengatakan, pihaknya telah menyusun strategi pembinaan yang terbagi dalam tiga bidang utama yakni pembinaan usia dini, pembinaan atlet prestasi, dan pembudayaan olahraga di masyarakat.

​"Pada Agustus ini, kami melakukan pembinaan usia dini untuk enam cabang olahraga, yakni bola voli, taekwondo, catur, panahan, tenis meja, dan senam SKJ," jelas Heru.

​Pemilihan cabang olahraga tersebut bukan tanpa alasan. Keenam cabang tersebut merupakan juara umum pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) sebelumnya, sehingga dipersiapkan secara intensif untuk menghadapi Popda tahun 2027.

Khusus untuk senam SKJ, Dispora Sleman berkomitmen membudayakannya kembali karena dianggap memiliki tahapan gerakan yang sangat lengkap dan aman bagi segala usia.

​"Kami juga akan mengaktifkan Pusat Pelatihan dan Pelajar (PPLP) pada Oktober mendatang dengan memfasilitasi 27 cabang olahraga. Tujuannya adalah menyiapkan atlet muda agar siap bersaing di level regional hingga nasional," tambah Heru.

​Dispora Sleman juga memastikan komitmennya dalam memberikan apresiasi kepada insan olahraga.

Setelah memberikan penghargaan kepada para atlet peraih prestasi di Popda, Dispora berencana mengalokasikan anggaran perubahan untuk memberikan apresiasi kepada para pelatihnya, maupun atlet berprestasi di luar itu. 

​"Misalnya memberikan apresiasi kepada atlet yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Sudah ada beberapa atlet yang kemarin juga sowan ke Pak Bupati, lomba di tingkat nasional dan mereka mendapatkan juara. Nanti setelah mereka pulang dari kejuaraan, akan kita berikan apresiasi dalam bentuk penghargaan untuk atlet," katanya.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.