TRIBUN-BALI.COM - Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, bukan hanya untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa. Kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui kemandirian ekonomi, kesempatan berusaha dan kesejahteraan yang semakin merata.
Trisno Nugroho, Pengamat Ekonomi dan Pariwisata, menjelaskan bagi Bali, kemerdekaan ekonomi akan terasa nyata ketika usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM mampu tumbuh, mandiri, dan naik kelas. "UMKM Bali tidak boleh hanya menjadi penonton, di tengah besarnya perputaran ekonomi pariwisata," katanya.
UMKM, kata pensiunan Bank Indonesia ini, harus menjadi pelaku utama sekaligus tuan rumah di daerah sendiri.Trisno mengatakan, UMKM mempunyai peran besar bagi perekonomian Bali. Di balik warung, pasar
tradisional, usaha kuliner, pertanian, kerajinan, fesyen, jasa, dan industri kreatif.
"Terdapat banyak keluarga yang menggantungkan kehidupannya," imbuhnya. UMKM Bali juga memiliki kekuatan yang tidak mudah ditiru, yaitu kreativitas, budaya, keterampilan, dan cerita lokal. Namun, keunggulan tersebut belum selalu menghasilkan nilai tambah yang optimal bagi masyarakat.
Baca juga: BRI Peduli Dirikan 3 Posko Logistik dan Dapur Umum, Direksi BRI Pantau Langsung Bencana NTT
Baca juga: 100 Persen Site Kembali Beroperasi, Telkomsel Tuntaskan Pemulihan Jaringan di Flores
UMKM naik kelas sering hanya dimaknai sebagai meningkatnya omzet. Padahal, usaha yang penjualannya meningkat belum tentu semakin sehat apabila biaya membesar, keuangan tidak tercatat, dan keuntungan terus menurun.
Naik kelas berarti usaha menjadi lebih tertib, produktif, profesional, dan berkelanjutan. Produknya semakin berkualitas, mereknya semakin dikenal, pasarnya semakin luas, pengelolaan keuangannya semakin baik, dan teknologinya semakin produktif.
Pertama, tertibkan keuangan usaha. Pisahkan uang usaha dari uang keluarga dan catat seluruh pemasukan serta pengeluaran. UMKM minimal harus mengetahui omzet, biaya, utang, piutang, dan laba bersih. Tanpa pencatatan, pelaku usaha tidak akan mengetahui kondisi usahanya yang sebenarnya.
Kedua, fokus pada produk unggulan. Tidak perlu menjual terlalu banyak jenis produk. Pilih produk yang paling diminati, paling menguntungkan, dan memiliki ciri khas. Jaga kualitas, rasa, ukuran, kebersihan, kemasan, dan pelayanan secara konsisten.
Ketiga, gunakan digitalisasi secara produktif. Manfaatkan WhatsApp Business, media sosial, lokapasar, QRIS, dan aplikasi pencatatan sederhana. Digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren, tetapi harus membantu meningkatkan penjualan, memperbaiki pelayanan, mencatat transaksi, dan mengenal pelanggan.
Keempat, aktif membangun pasar dan kemitraan. UMKM jangan hanya menunggu pembeli. Tawarkan produk kepada hotel, restoran, desa wisata, toko oleh-oleh, pusat perbelanjaan, koperasi, BUMDes, kantor pemerintah, dan penyelenggara kegiatan. Siapkan katalog, daftar harga, kapasitas produksi, legalitas, dan contoh produk secara profesional.
Kelima, gunakan pembiayaan untuk mengembangkan usaha. Kredit sebaiknya digunakan untuk membeli peralatan, menambah persediaan, meningkatkan kapasitas, atau memenuhi pesanan yang sudah jelas pasarnya. "Jangan menggunakan utang untuk menutup kerugian yang terus berulang tanpa memperbaiki
model usaha," sebutnya.
Bali dikunjungi jutaan wisatawan setiap tahun. Besarnya pasar tersebut harus memberikan manfaat yang lebih luas kepada UMKM lokal. Produk pertanian Bali dapat diserap hotel dan restoran. Produk kerajinan dapat menjadi bagian dari interior dan suvenir.
Kuliner serta produk kreatif Bali dapat dipasarkan melalui desa wisata, festival, dan kegiatan internasional.
Prinsipnya sederhana, ketika pariwisata Bali tumbuh, UMKM lokal harus ikut menikmati nilai tambah dan kesejahteraannya.
Pengusaha besar perlu membuka rantai pasok kepada UMKM, melalui kemitraan yang nyata, bukan hanya kegiatan seremonial. Bentuknya dapat berupa kontrak pembelian, pendampingan kualitas, kepastian pasar, dan pembayaran yang adil.
Sebaliknya, UMKM harus mampu menjaga kualitas, kapasitas produksi, harga, dan ketepatan waktu pengiriman. Perbankan juga tidak cukup hanya menyalurkan kredit. Bank perlu menjadi mitra pertumbuhan dengan memberikan edukasi keuangan, digitalisasi, pendampingan, dan akses pasar.
Pembiayaan harus disesuaikan dengan karakter usaha dan kemampuan arus kas, bukan hanya berdasarkan jaminan. Pemerintah daerah perlu mengubah pola pemberdayaan dari sekadar bantuan menuju transformasi.
Keberhasilan program UMKM jangan hanya diukur dari jumlah pelatihan, tetapi dari semakin banyaknya usaha yang memiliki pencatatan keuangan, memperluas pasar, meningkatkan laba, memperoleh pembiayaan, dan menciptakan pekerjaan.
Memasuki usia kemerdekaan ke-81, Bali memerlukan gerakan bersama agar UMKM naik kelas. Pelaku UMKM harus berani berubah dan terus belajar. Pengusaha harus membuka pasar. Perbankan harus menyediakan pembiayaan yang tepat. Pemerintah harus membangun ekosistem dan pendampingan yang berkelanjutan.
Naik kelas tidak berarti meninggalkan jati diri Bali. Budaya, kreativitas, kualitas, kelestarian lingkungan, dan kearifan lokal justru harus menjadi sumber keunggulan. Kemerdekaan ekonomi akan semakin bermakna ketika UMKM Bali tidak hanya mampu bertahan, tetapi berani tumbuh, menciptakan pekerjaan, memperluas pasar,
dan meningkatkan kesejahteraan.
Merdeka adalah ketika UMKM Bali tidak lagi menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama, tuan rumah di daerah sendiri, dan tumbuh bersama kemajuan Bali (*)