Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memperkirakan program Motor Listrik Nasional (Molinas) mampu menghemat subsidi BBM hingga Rp 82,2 triliun pada periode 2027–2037. Angka ini dihitung dengan asumsi sebanyak 11 juta unit motor listrik telah beroperasi pada 2037.
Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian, Atong Soekirman, menjelaskan bahwa Molinas juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi hingga Rp 150 triliun sepanjang 2026–2031, sekaligus menyerap sekitar 215.000 tenaga kerja di sektor manufaktur, komponen, baterai, hingga infrastruktur pengisian daya.
"Penghematan subsidi BBM, asumsi 11 juta unit beroperasi di 2037 Rp 82,2 triliun," kata Atong dalam diskusi Navigating the Challenges of the Motor Vehicle Industry di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Pemerintah menargetkan kapasitas produksi Molinas mencapai 100.000 unit per tahun. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dipatok minimal 40% pada tahap awal dan ditargetkan naik bertahap hingga 60%. Selain itu, program ini diproyeksikan mampu memperkuat neraca perdagangan lewat substitusi impor minyak senilai Rp45 triliun.
Program Molinas sendiri resmi diluncurkan pada 13 Agustus 2026 melalui kolaborasi BPI Danantara dan PT Len Industri. Kemitraan ini bertujuan membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang terintegrasi, mulai dari manufaktur, industri baterai, skema pembiayaan, hingga penyerapan pasar.

Atong menambahkan, ada empat kriteria utama yang harus dipenuhi oleh produsen agar dapat masuk dalam kategori Molinas: TKDN di atas 60%, desain dan rekayasa buatan dalam negeri, penggunaan baterai berbasis nikel, serta penetapan harga yang terjangkau bagi masyarakat.
"Molinas harus membangun kemampuan desain, engineering, manufaktur, teknologi, dan rantai pasok di dalam negeri," tegas Atong.
Peluang pasar motor listrik di Indonesia dinilai masih sangat besar. Dari total 145,25 juta unit populasi motor konvensional saat ini, penetrasi motor listrik baru menyentuh angka 229.554 unit per Desember 2025. Lewat Molinas, pemerintah optimistis dapat mempercepat migrasi dari kendaraan fosil sekaligus mematangkan rantai pasok industri EV nasional.