Tangani Kekeringan di Lampung, BBWS Bidik Sumber Cadangan Air
Daniel Tri Hardanto August 20, 2026 10:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung memperkuat penanganan kekeringan dengan membidik sumber cadangan air.

Baca juga: BBWS Mesuji Sekampung Bangun Pengaman Pantai Mandiri Sejati untuk Cegah Abrasi di Pesisir Barat

Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, mengatakan, Lampung membutuhkan lebih banyak sumber cadangan air sebagai solusi jangka panjang mengatasi puncak kekeringan. 

Menurut Elroy, masih banyak potensi embung yang belum dikembangkan.

Dia mengatakan, pembangunan waduk atau embung berukuran kecil dapat menjadi salah satu pilihan untuk menampung air dan menggunakannya kembali ketika musim kering.

"Banyak potensi embung yang belum dikembangkan. Nah ini yang harusnya kita coba bikin waduk-waduk kecil-kecil, itu yang harusnya bisa digunakan di waktu-waktu kering seperti ini," ujarnya, Kamis (20/8/2026).

Selain membangun tampungan air baru, BBWS juga menilai keberadaan rawa perlu dipertahankan. Menurut Elroy, rawa memiliki fungsi penting sebagai cadangan air alami yang dapat membantu ketika sumber air mulai berkurang. "Seharusnya rawa itulah cadangan air kita yang kita bisa pakai di saat kering seperti ini," katanya.

Ia menilai perubahan fungsi kawasan rawa dapat mengurangi potensi penyimpanan air di Lampung. Karena itu, BBWS berharap kawasan rawa yang masih tersisa dapat dipertahankan. "Maka kita berharap bisa dipertahankan rawa-rawa yang ada di Lampung ini," imbuh Elroy.

Cadangan Menipis 

Cadangan air di sejumlah bendungan di Lampung semakin menipis memasuki puncak kemarau 2026. Elroy menyebut kondisi paling kritis saat ini berada di Bendungan Margatiga dan Bendungan Jabung.

Dia mengatakan, cadangan air di sejumlah waduk dan bendungan terus menyusut akibat minimnya pasokan air selama musim kemarau. "Cadangan-cadangan air di waduk-waduk ini sudah sangat tipis. Yang sekarang lagi kritis itu di Bendungan Margatiga sama Bendungan Jabung," kata Elroy.

Menurut Elroy, sistem sumber air di Lampung saling terhubung secara kaskade, mulai dari Bendungan Batutegi, Bendungan Sekampung, Bendungan Margatiga hingga Bendungan Jabung.

Kondisi tersebut membuat pengelolaan air di setiap bendungan harus dilakukan secara hati-hati agar pasokan untuk wilayah hilir tetap terjaga. Saat ini, muka air di Bendungan Batutegi telah mencapai batas minimum yang harus dipertahankan untuk menjaga operasional bendungan. "Kalau dialirkan lagi dia kering, nah itu bisa kolaps. Jadi kita harus jaga," ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, Bendungan Sekampung menjadi salah satu sumber air yang masih diandalkan untuk memenuhi kebutuhan irigasi. Namun, cadangan air di Bendungan Sekampung diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar satu setengah bulan ke depan, atau hingga sekitar awal Oktober 2026, jika kondisi pasokan air tidak mengalami perubahan signifikan.

"Yang jadi andalan kita tinggal yang ada dari Sekampung. Itu pun hanya bisa bertahan kira-kira satu setengah bulan ke depan," katanya.

Terbatasnya cadangan air tersebut berdampak langsung terhadap pengaturan pasokan untuk kebutuhan irigasi pertanian. Elroy mengatakan, sejumlah daerah irigasi yang masih mengandalkan aliran sungai juga mulai menghadapi kendala karena debit sungai ikut menyusut selama musim kemarau.

Untuk mencegah kekurangan air semakin meluas, BBWS sebelumnya telah mengingatkan agar rencana tanam disesuaikan dengan ketersediaan debit air. "Rencana tanam itu dikoneksikan dengan balai. Kami sudah memperingatkan, karena cadangan air kita ini terbatas," ujarnya.

Menurut Elroy, pola tanam harus disinkronkan dengan ketersediaan air agar petani tidak telanjur menanam ketika pasokan air tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman hingga masa panen. "Jangan nanam dan telanjur nanam airnya tidak ada. Ini yang pertama, jadi pola tanam mesti kita sinkronkan dengan ketersediaan debit," katanya.

Namun, sebagian lahan sudah terlanjur ditanami. Di Lampung Selatan, sekitar 8.000 hektare lahan disebut terancam mengalami kekurangan air. "Kalau di Lampung Selatan itu sekitar 8.000 hektare. Ini yang terancam," kata Elroy.

Untuk lahan yang sudah telanjur ditanami, BBWS kini mencari sumber air alternatif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencari sungai yang masih memiliki debit cukup untuk kemudian airnya dipompa ke lahan pertanian.

"Ini kita coba ambilkan dari sungai untuk dipompa. Lagi kita cari sungai yang masih ketersediaan debitnya cukup," ujarnya.

Sementara itu, kondisi di Lampung Timur disebut relatif lebih aman karena wilayah tersebut masih tercakup dalam sistem irigasi Jabung. "Kalau Lampung Timur aman, justru dia tercover. Karena memang Lampung Timur itu ada dalam sistem irigasinya Jabung," jelasnya.

Meski demikian, kondisi Bendungan Jabung yang disebut kritis tetap menjadi perhatian BBWS karena sistem irigasi tersebut berkaitan dengan pasokan air untuk wilayah Lampung Timur.

Elroy pun mengingatkan petani agar tidak melakukan penanaman baru dalam waktu dekat. Langkah tersebut merupakan bagian dari mitigasi untuk mencegah tanaman mengalami kekurangan air di tengah periode kemarau. "Yang pertama jangan nanam dulu. Karena kemungkinan curah hujan akan makin kecil," katanya.

BBWS menyarankan penanaman berikutnya dilakukan sekitar akhir November, dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi curah hujan dan ketersediaan air. "Akan mulai nanam saran kami mungkin di sekitar akhir November," ujarnya.

Selain mengatur pola tanam, BBWS juga terus menghitung neraca air agar pengambilan air dari sungai tidak menimbulkan kekeringan baru di wilayah hilir. "Kalau kita ambil dalam jumlah besar, maka di hilir akan kekeringan. Nah ini mesti kita cari solusi," kata Elroy.

BBWS juga menyiapkan alternatif sumber air melalui sumur bor atau Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) untuk membantu memenuhi kebutuhan air di tengah terbatasnya pasokan dari bendungan dan sungai.

Di sisi lain, BBWS berharap curah hujan kembali meningkat sehingga waduk-waduk yang cadangan airnya mulai menipis dapat terisi kembali dan mendukung kebutuhan irigasi. "Kita berharap curah hujan ini cukup tinggi beberapa waktu ini bisa ngisi waduk-waduk kita supaya bisa kita bantu operasikan untuk kebutuhan irigasi," ujarnya. 

Salurkan Air Bersih

Menghadapi puncak kemarau tahun ini, Elroy mengatakan, pihaknya menyiapkan posko untuk menerima laporan masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air. Setiap laporan yang masuk akan ditindaklanjuti dengan distribusi air apabila memungkinkan dilakukan pada hari yang sama. "Kalau itu, kami standby. Kami ada posko yang di mana aduannya kami langsung tindak lanjuti kalau bisa hari itu juga," kata Elroy, Kamis (20/8/2026).

Dalam sehari, BBWS mendistribusikan sekitar 5.000 hingga 10.000 liter air bersih kepada masyarakat. Distribusi dilakukan ke dua sampai tiga lokasi dalam sehari. Hal itu telah berlangsung selama kurang lebih satu bulan.

"Kita per hari itu sekitar 5.000 sampai 10.000 liter per hari. Jadi ini satu hari bisa dua sampai tiga lokasi. Itu kita lakukan selama satu bulan ini," ujarnya.

Wilayah dengan permintaan air bersih cukup tinggi berada di Bandar Lampung dan Lampung Selatan. Penyaluran dilakukan dengan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta unsur pemerintah lainnya.

"Yang paling banyak sekitar Bandar Lampung, Lampung Selatan. Itu yang permintaannya cukup tinggi. Kita pokoknya bekerja sama sama BPBD. Ya kalau ada permintaan, kita langsung kirim," katanya.

BBWS juga meminta dukungan Balai Cipta Karya serta penyedia jasa di sekitar wilayah terdampak agar ikut membantu distribusi ketika terdapat permintaan. Namun, di lapangan masih terdapat kendala berupa keterbatasan tempat penampungan air.

Elroy mengatakan sebagian warga masih menggunakan jeriken ketika menerima pasokan air dari mobil tangki. "Waktu kita drop air, itu penampungannya enggak ada. Jadi masih mengandalkan jeriken, nah itu kan butuh waktu lama," ujarnya.

Karena itu, BBWS meminta pemerintah desa menyiapkan bak penampungan di lokasi yang membutuhkan bantuan. "Kita berharap di daerah yang meminta, saya sudah minta kepala desa paling siapkan mungkin bak begitu, supaya banyak yang bisa kita layani," kata Elroy. 

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.