TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Persoalan air bersih di Kota Padang, Sumatera Barat, tidak hanya berkaitan dengan kapasitas produksi.
Kondisi jaringan perpipaan yang sudah berusia puluhan tahun juga menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah pasca bencana banjir 2025.
Kepala Balai Cipta Karya Sumatera Barat Maria Doeni Isa mengatakan, sebagian jaringan pipa di wilayah pusat Kota Padang merupakan pipa lama yang dipasang sejak era 1970-an.
Baca juga: Jembatan Anduriang Padang Pariaman Mendesak Dibangun, Anggaran Rp47 Miliar Disiapkan Pemerintah
Kondisi tersebut menyebabkan tingkat kebocoran air cukup tinggi sehingga pemerintah kini melakukan penggantian jaringan pipa secara bertahap.
"Permasalahan penanganan bencana selain masalah airnya, juga penggantian pipa-pipa lama. Tingkat kebocoran air di wilayah pusat cukup tinggi karena pipanya pipa lama," kata Maria saat memantau pembangunan SPAM Palukahan Air Dingin, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Jumat (21/8/2026).
Menurut Maria, pemerintah akan mengganti sekitar 19 kilometer jaringan pipa lama.
Penggantian tersebut mencakup jaringan dari kawasan SPAM Palukahan Air Dingin menuju kawasan By Pass dan sejumlah wilayah di sekitarnya.
"Pipa tahun 70-an ini kami mengganti sekitar 19 kilometer," ujarnya.
Maria mengatakan, pemerintah juga membangun infrastruktur baru untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperbaiki kualitas air yang diterima masyarakat.
Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum mengerjakan peningkatan SPAM Palukahan Air Dingin dengan kapasitas 200 liter per detik.
Proyek tersebut ditargetkan dapat menambah pelayanan sekitar 18.000 sambungan rumah di Kota Padang.
"Yang nanti sebagian akan melayani wilayah pusat dan penambahan jaringan sambungan rumah 18 ribu sambungan rumah di Padang," kata Maria.
Kapasitas 200 liter per detik tersebut diproyeksikan melayani sekitar 200.000 jiwa.
Namun, kebutuhan air di wilayah pusat Kota Padang jauh lebih besar.
Kawasan tersebut mencakup sekitar 600.000 jiwa serta sejumlah fasilitas penting seperti rumah sakit dan kantor pemerintahan.
Karena itu, pembangunan SPAM Palukahan Air Dingin akan dilanjutkan dengan pembangunan SPAM baru di Gunung Pangilun.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mengatakan, pemerintah pusat telah menyiapkan total sekitar Rp700 miliar untuk pembenahan sistem penyediaan air minum Kota Padang.
Sekitar Rp300 miliar dialokasikan untuk SPAM Palukahan Air Dingin, sedangkan sekitar Rp400 miliar disiapkan untuk pembangunan SPAM baru Gunung Pangilun dengan kapasitas 500 liter per detik.
"Jadi total Rp700 miliar sudah ready. Rp300 miliar sudah terpakai sekarang untuk 200 liter per detik, yang 500 liter per detiknya tinggal menunggu tanah," kata Andre.
Menurut Andre, SPAM baru Gunung Pangilun dibutuhkan karena instalasi lama sudah tidak mampu memberikan pelayanan air dengan kualitas yang diharapkan.
Masyarakat selama ini mengeluhkan air PDAM yang keruh.
"Persoalannya PDAM Kota Padang memang bermasalah di bagian instalasinya. Solusinya adalah PDAM Gunung Pangilun kita ganti dengan PDAM baru yang memproduksi 500 liter per detik," ujarnya.
Namun, pembangunan SPAM Gunung Pangilun masih terkendala lahan. Dari kebutuhan 13.000 meter persegi, baru sekitar 5.000 meter persegi lahan yang tersedia.
Pemerintah masih membutuhkan tambahan sekitar 8.000 meter persegi.
Andre mengatakan, pemerintah daerah diharapkan segera menyelesaikan persoalan tersebut sehingga pembangunan dapat dimulai sesuai target.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, pembangunan SPAM Gunung Pangilun ditargetkan mulai dikerjakan pada 2027 dan selesai pada 2028.
Maria mengatakan, ketika SPAM baru, jaringan pipa, dan infrastruktur pendukung lainnya telah selesai, kualitas air di Kota Padang diharapkan memenuhi standar air minum sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan.
"Insya Allah kualitas airnya sampai 2028 diharapkan seluruh Kota Padang kualitas airnya bersih sesuai standar Peraturan Menteri Kesehatan," kata Maria.
Pembenahan tersebut juga diharapkan memperkuat ketahanan Kota Padang menghadapi bencana. Sebab, gangguan infrastruktur air saat bencana dapat membuat masyarakat kesulitan memperoleh air bersih.
"Kita optimistis untuk mencukupi air di Kota Padang ketika ada bencana lagi. Karena saat ini ketika ada bencana, air juga langka," ujarnya.