Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto: Ajak Anak Muda Bangun Kekuatan Bangsa Mulai dari Budaya Olahraga
Pipit Maulidya August 24, 2026 03:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak generasi muda membiasakan pola hidup sehat melalui olahraga.

Menurut Hasto, olahraga bukan sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran tubuh. Kebiasaan berolahraga juga dapat membentuk kedisiplinan, ketekunan, dan sportivitas yang penting bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Hasto saat berlari pagi bersama anak-anak muda di Lapangan Thor, Surabaya, Senin (24/8/2026).

Dalam kegiatan itu, Hasto berlari bersama Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya sekaligus Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, anggota DPR RI Novita Hardini, serta anak-anak muda yang tergabung dalam Sub Banteng Culture Surabaya.

Suasana olahraga berlangsung santai. Hasto dan rombongan berbaur dengan warga serta komunitas pelari yang memanfaatkan lintasan atletik Thor sejak pagi.

“Menjaga kesehatan itu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana. Bergerak, berolahraga, berlari. Tidak harus selalu kompetitif. Yang terpenting dilakukan dengan gembira, disiplin dan konsisten,” kata Hasto.

Baca juga: Tiga Desainer Jawa Timur Raih Tiket Nasional Fatmawati Trophy 2026

Olahraga Bentuk Karakter Anak Muda

Hasto menilai budaya hidup sehat memiliki arti lebih luas daripada sekadar menjaga kebugaran. Menurutnya, masyarakat yang sehat menjadi salah satu fondasi untuk membangun sumber daya manusia sekaligus masa depan bangsa.

“Kalau anak-anak muda kita terbiasa hidup sehat, mencintai olahraga, sekaligus belajar disiplin dan sportif, kita sedang membangun kekuatan bangsa dari manusianya,” ujarnya.

Hasto yang kerap menjadikan lari sebagai bagian dari aktivitasnya saat melakukan kunjungan ke berbagai daerah mengatakan, olahraga juga dapat menjadi sarana membangun karakter generasi muda.

Dari olahraga, kata dia, seseorang belajar tekun berlatih, menaati aturan, menghormati lawan, serta menerima kemenangan maupun kekalahan dengan sportif.

Pandangan tersebut sebelumnya juga disampaikan Hasto dalam sejumlah kegiatan olahraga, termasuk Soekarno Run di Surabaya dan Banteng Ride and Night Run.

Ia menekankan pentingnya membangun budaya berlatih, disiplin, dan sportivitas di kalangan generasi muda.

THOR Jadi Ruang Olahraga Warga Surabaya

Lapangan Thor dipilih sebagai lokasi lari pagi bukan tanpa alasan. Lapangan yang berada di kawasan Darmo tersebut memiliki sejarah panjang dalam perkembangan olahraga di Kota Surabaya.

Nama Thor berasal dari bahasa Belanda, Tot Heil Onze Ribben atau dalam sejumlah catatan disebut Tot Heil Onzer Ribbenkast. Nama tersebut awalnya merupakan nama klub sepak bola pada masa kolonial yang kemudian melekat pada lapangan.

Lapangan Thor dipindahkan ke lokasi sekarang pada 1937 setelah lapangan sebelumnya di kawasan Karang Menjangan digunakan untuk pembangunan kompleks rumah sakit.

Seiring perkembangan waktu, Thor menjadi salah satu pusat aktivitas atletik di Surabaya. Setelah direnovasi, lintasan atletiknya diresmikan pada 2017 dengan delapan jalur dan panjang lintasan 400 meter.

Kini, Lapangan Thor menjadi salah satu ruang olahraga publik yang dimanfaatkan warga, atlet, hingga komunitas pelari.

“Tempat ini punya sejarah panjang. Namanya saja menarik, THOR, yang sejak dulu berkaitan dengan olahraga. Hari ini tempat bersejarah ini terus hidup karena dipakai masyarakat, atlet dan anak-anak muda untuk menjaga kesehatan dan mengejar prestasi,” ujar Hasto.

Hasto berharap keberadaan ruang olahraga publik seperti THOR terus dirawat dan semakin mudah dimanfaatkan masyarakat.

“Olahraga harus menjadi budaya. Ruang publik yang baik memberi kesempatan kepada siapa saja untuk bergerak, bertemu dan membangun kebiasaan sehat. Kita ingin semakin banyak anak muda yang memilih gaya hidup sehat dan produktif,” katanya.

Menurut Hasto, kehadiran anak-anak muda Sub Banteng Culture juga menunjukkan bahwa kegiatan kepemudaan dapat dibangun melalui aktivitas yang sederhana, sehat, dan menyenangkan.

“Anak muda tidak selalu harus bertemu dalam forum yang formal. Bisa berlari bersama, berolahraga bersama, membangun persahabatan dan kegembiraan bersama. Dari tubuh yang sehat lahir energi positif untuk melakukan hal-hal yang produktif,” ujarnya.

Fasilitas Olahraga Perlu Semakin Dekat dengan Warga

Salah satu pelari Sub Banteng Culture, Eko Wahyono, mengatakan berkembangnya budaya lari di Surabaya perlu didukung dengan semakin banyak fasilitas olahraga publik yang mudah dijangkau masyarakat.

Menurut Eko, selain Thor, sejumlah wilayah Surabaya mulai memiliki jogging track dan ruang publik di sepanjang sisi sungai yang dimanfaatkan warga untuk berjalan kaki maupun berlari.

Fasilitas tersebut, menurut dia, perlu terus diperbanyak dan diperluas ke berbagai wilayah.

“Budaya olahraga akan tumbuh lebih cepat kalau masyarakat mudah menemukan tempat yang aman dan nyaman di dekat tempat tinggalnya. Jogging track di sisi-sisi sungai bisa diperbanyak, dan lapangan olahraga di wilayah bisa terus diperbaiki untuk lari, sepak bola maupun aktivitas warga lainnya. Prinsipnya sederhana: fasilitas olahraga harus semakin dekat dengan warga,” kata Cak Ek, sapaan akrab Eko.

Ia berharap Pemkot Surabaya semakin aktif memanfaatkan ruang publik, kawasan sepanjang sungai, dan lapangan di permukiman sebagai fasilitas olahraga yang aman dan nyaman.

“Kalau di dekat rumah ada jogging track atau lapangan yang layak, anak muda bisa lari, anak-anak bisa bermain, orang tua bisa jalan pagi. Kami berharap fasilitas seperti ini semakin banyak dan merata di seluruh Surabaya. Pemerintah menyediakan ruangnya, kami anak-anak muda ikut menghidupkannya,” ujar Cak Ek.

Bagian dari Rangkaian Kegiatan Hasto di Surabaya

Lari pagi di Lapangan Thor menjadi salah satu rangkaian kegiatan Hasto selama berada di Surabaya.

Sehari sebelumnya, Minggu (23/8), Hasto mengikuti konsolidasi internal PDI Perjuangan Jawa Timur di Vasa Hotel Surabaya. Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan diikuti jajaran partai dari Jawa Timur.

Sementara pada Senin malam, Hasto dijadwalkan menghadiri partai final sekaligus penutupan Soekarno Cup 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya.

Partai final mempertemukan Banteng Jawa Barat melawan Banteng Bali.

Soekarno Cup 2026 melibatkan sekitar 400 talenta muda dari 16 provinsi. Turnamen tersebut digelar sejak 10 Agustus di sejumlah venue di Jawa Timur, dengan Lapangan THOR menjadi salah satu lokasi pertandingan fase penyisihan.

Bagi Hasto, berbagai kegiatan tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni pembangunan manusia, terutama generasi muda, melalui kesehatan, disiplin, kebersamaan, dan sportivitas.

“Politik pada akhirnya juga harus berbicara tentang kualitas manusia Indonesia. Generasi mudanya harus sehat, kuat, punya daya juang, disiplin dan menjunjung sportivitas. Olahraga adalah salah satu jalan yang sangat baik untuk membangun karakter itu,” pungkas Hasto.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.