ASEAN Sports Day 2026 di Yogyakarta Dorong Olahraga Jadi Ruang Diplomasi dan Penggerak Ekonomi
Muhammad Fatoni August 24, 2026 07:05 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - ASEAN Sports Day 2026 di Yogyakarta tak sekadar menjadi agenda olahraga bersama negara-negara Asia Tenggara.

Kegiatan yang digelar mulai 31 Agustus hingga 6 September oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI itu diarahkan menjadi ruang perjumpaan masyarakat, promosi gaya hidup sehat, pelestarian olahraga tradisional hingga penggerak pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kemenpora RI, Yayat Suyatna, mengatakan ASEAN Sports Day merupakan bagian dari implementasi ASEAN Work Plan on Sports 2026-2030.

Melalui agenda tersebut, olahraga ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat solidaritas, kebersamaan dan diplomasi antarmasyarakat ASEAN.

“ASEAN Sports Day ini merupakan implementasi daripada ASEAN Work Plan on Sports 2026-2030, di mana menempatkan olahraga itu menjadi bagian penting dari strategis untuk solidaritas, untuk membangun kebersamaan, untuk diplomasi dalam rangka meningkatkan aktivitas gerak masyarakat dan olahraga,” kata Yayat saat konferensi pers di Loman Park Hotel, Yogyakarta, Senin(24/8/2026).

Menurut dia, Yogyakarta kembali dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan karena dinilai memiliki ekosistem yang kuat, mulai dari olahraga, pendidikan, pariwisata hingga kreativitas anak muda.

Yayat bahkan berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi konsep sportainment yang menggabungkan olahraga dengan berbagai potensi daerah.

“Kalau ini dipadukan menjadi sebuah sportainment yang lebih luas, nah ini akan menjadi lebih menarik. Sehingga ketika misalkan orang ingin melihat event olahraga, tapi di dalamnya ada kulinernya, di dalamnya juga ada pariwisatanya, maka Jogjalah tempatnya,” ujarnya.

Ia menilai konsep serupa bisa dikembangkan lebih luas di berbagai kota di Indonesia.

Masyarakat tidak hanya datang untuk berolahraga, tetapi juga menikmati wisata dan produk ekonomi lokal.

Tingkatkan Partisipasi Masyarakat

Di sisi lain, ASEAN Sports Day 2026 juga diarahkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda.

Yayat menyoroti kecenderungan aktivitas fisik yang menurun ketika anak-anak memasuki usia remaja hingga mahasiswa.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama karena aktivitas gerak masyarakat Indonesia masih relatif rendah.

“ASD 2026 dengan berbagai aktivitasnya harapannya ini bisa membangkitkan gelora olahraga masyarakat, khususnya di Yogyakarta dan lebih khusus lagi adalah youth ya, pemudanya, generasi mudanya,” katanya.

Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenpora RI, Akbar Mia, menjelaskan ASEAN Sports Day berawal dari pembahasan pada forum ASEAN Ministerial Meeting on Sports (AMMS).

Agenda tersebut kemudian diarahkan agar setiap negara anggota ASEAN memperingati hari jadi ASEAN pada 8 Agustus melalui kegiatan olahraga.

“Jadi sejatinya ASEAN Sports Day dilaksanakan tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh negara ASEAN,” ujar Akbar.

Karena itu, menurut Akbar, penyelenggaraan di Indonesia memiliki arti penting.

Kegiatan di Yogyakarta menjadi bagian dari wajah Indonesia dalam kerja sama olahraga di tingkat ASEAN.

“Artinya, ini adalah wajah Indonesia yang diwakili oleh Yogyakarta, DIY,” katanya.

Baca juga: PSS Sleman Genjot Kekuatan Fisik di Sisa Waktu Dua Pekan Sebelum Kompetisi

Rangkaian Kegiatan

Akbar menyebut ASEAN Sports Day tahun ini juga dikemas lebih panjang dengan berbagai kegiatan.

Selain agenda olahraga seperti fun run, yoga, jemparingan dan lainnya, terdapat juga Job Fair, Sports Hub, ASEAN Fun Run, Tour de Prambanan hingga workshop pencak silat.

Rangkaian kegiatan tersebut, kata dia, diharapkan tidak hanya berbicara mengenai olahraga, tetapi juga kesehatan dan perekonomian masyarakat.

“Harapan kami ini kemudian menjadi tempat di mana tidak hanya menjadi apa ya, bicara olahraga ansich gitu, tapi juga kemudian berbagai aktivitas. Ya, kita mengaktivasi tidak hanya bagaimana masyarakat juga sehat, tapi juga sehat jiwa, sehat juga perekonomiannya,” ucapnya.

Akbar juga menyoroti workshop pencak silat yang menjadi salah satu agenda dalam rangkaian ASEAN Sports Day 2026.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk membahas strategi pengembangan pencak silat agar semakin dikenal di tingkat dunia.

“Bagaimana kemudian pencak silat yang tentu menjadi wajah Indonesia di internasional ini menjadi lebih terangkat,” ujarnya.

Dari sisi pariwisata, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melihat ASEAN Sports Day sebagai peluang untuk memperkuat konsep wellness tourism.

Wellness Tourism

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto, mengatakan olahraga tradisional maupun olahraga rekreasi memiliki keterkaitan erat dengan konsep wisata kebugaran.

“Kami menganggap yang namanya sports, nah khususnya sports tradisional itu adalah dekat hubungannya dengan wellness. Jadi, sports baik yang sifatnya adalah kompetisi maupun yang sifatnya adalah rekreasi maupun yang, apa namanya, seni dan budaya, itu termasuk dalam wellness,” kata Kus.

Menurutnya, konsep wellness tourism tidak hanya berbicara mengenai kesehatan fisik, tetapi juga keseimbangan kehidupan masyarakat, termasuk aspek ekonomi.

“Akhir dari wellness tourism intinya ya satu: keseimbangan. Kita semuanya butuh keseimbangan. Keseimbangan dalam jiwa, raga, dan juga yang penting adalah keseimbangan dalam bentuk dompet,” ujarnya.

Kus mengatakan karena itu rangkaian ASEAN Sports Day juga perlu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Kehadiran berbagai kegiatan pendukung diharapkan membuka peluang bagi pelaku UMKM dan sektor pariwisata.

“Jadi makanya di dalam kegiatan ini nanti bukan hanya raganya saja yang akan disehatkan, tapi juga jiwanya. Kemudian yang utama adalah dompetnya,” katanya.

Di sisi lain, Managing Loman Park Hotel, Handono Putro, menyambut positif dipilihnya hotel tersebut sebagai salah satu lokasi aktivasi ASEAN Sports Day 2026.

Handono mengatakan pihaknya senang dapat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang menyasar masyarakat, terutama generasi muda. 

Salah satu agenda yang menarik perhatiannya adalah olahraga asal Jepang, SpoGomi, yang menggabungkan aktivitas olahraga dengan gerakan memungut sampah.

“Loman sangat senang sekali, ya. Menjadi pilihan untuk nanti menjadi tempat ajang aktivasi dari kegiatan ASEAN Sport Day 2026, ya,” kata Handono.

“Apalagi saya juga dengernya ada yang agak nyentrik kegiatannya itu dari Jepang, olahraga dari Jepang, ya. SpoGomi ya? Olahraga pemungutin sampah. Jadi hotel saya bersih nanti,” ujarnya disambut kelakar.

Menurut Handono, rangkaian ASEAN Sports Day 2026 yang berlangsung lebih panjang menjadi momentum menarik bagi Yogyakarta.

Terlebih, kota ini memiliki karakter sebagai kota pendidikan dengan keberadaan banyak perguruan tinggi dan populasi mahasiswa yang terus berganti.

“Jadi kayaknya memang tepat lah Jogja itu, bahasa saya Jogja itu kan tempatnya belajar ya,” katanya.

Ia menyebut dinamika generasi muda membuat Yogyakarta selalu memiliki energi dan gagasan baru.

Mahasiswa yang datang membawa wawasan baru, sementara mereka yang lulus meninggalkan pengalaman yang kemudian dibawa ke berbagai daerah.

“Di Loman ini memang dikelilingi banyak kampus. Terus saya bilang bahwa Jogja ini fresh blood. Jadi setiap tahun itu ganti-ganti darah. Yang lulus keluar membawa pengalaman, yang masuk mereka membuka wawasan,” ujar Handono.

Karena itu, ia menilai Yogyakarta menjadi tempat yang tepat untuk penyelenggaraan ASEAN Sports Day 2026, terutama karena salah satu sasaran utama kegiatan tersebut adalah generasi muda. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.