Medan Sulit dan Minim Akses, Damkar Toraja Utara Kewalahan Tangani Karhutla
Saldy Irawan August 26, 2026 06:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, RANTEPAO - Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP, Damkar dan Penyelamatan Toraja Utara mengungkap kendala penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Rabu (26/8/2026).

Medan sulit dan minimnya akses jalan menjadi kendala utama petugas dalam menjangkau lokasi kebakaran, terutama di kawasan hutan yang jauh dari jalan raya.

Kondisi ini diperparah cuaca kering dan panas dalam beberapa pekan terakhir yang meningkatkan risiko kebakaran lahan.

Berdasarkan data Bidang Damkar Toraja Utara, sejak Juli 2026 tercatat dua kejadian kebakaran lahan.

Sementara sepanjang Agustus 2026, sudah terjadi empat kebakaran lahan dan satu kebakaran hutan di Kecamatan Nanggala.

Kepala Bidang Damkar Toraja Utara, Semuel Rasinan, mengatakan salah satu kebakaran terjadi di lahan warga di Kondongan, Ba'lele, Kecamatan Rantepao.

Kebakaran tersebut menghanguskan lahan kurang dari satu hektare.

Namun, proses pemadaman berlangsung cukup lama karena titik api tersebar di sejumlah lokasi.

"Lahannya tidak sampai satu hektare, tetapi medannya sulit. Kami harus mencari titik-titik api yang masih muncul lalu memadamkannya satu per satu," kata Semuel, Rabu (26/8/2026).

Kondisi lebih sulit terjadi saat kebakaran hutan di Kecamatan Nanggala, Kamis (20/8/2026).

Lokasi kebakaran berada jauh dari jalan raya sehingga mobil pemadam tidak dapat menjangkau titik api.

Petugas akhirnya melakukan pemadaman secara manual bersama masyarakat.

"Kalau akses jalan tidak ada, kendaraan pemadam sama sekali tidak bisa masuk. Solusinya kami menggunakan tangki karhutla yang dipikul sambil menyemprotkan air ke titik api," jelasnya.

Semuel mengatakan Damkar tetap sigap menangani kebakaran selama lokasi dapat dijangkau kendaraan.

Namun, kebakaran di kawasan hutan tanpa akses jalan membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.

Ia memastikan kebakaran di Tandung, Kecamatan Nanggala, kini telah berhasil dipadamkan dan kondisi lokasi dinyatakan aman.

Selain akses, keterbatasan peralatan juga menjadi kendala.

Pejabat Fungsional Damkar Toraja Utara, Elyas M. Pakiding, mengatakan pihaknya saat ini hanya memiliki selang sepanjang sekitar 225 hingga 250 meter.

"Karena panjangnya satu rol itu hanya 30 meter, jadi kita hanya punya sekitar delapan rol lebih," kata Elyas.

Menurutnya, jumlah selang tersebut masih terbatas untuk menangani kebakaran di area yang luas.

Kebutuhan selang untuk karhutla berbeda dengan kebakaran permukiman. Pada kebakaran permukiman, satu atau dua selang biasanya cukup karena lokasi relatif mudah dijangkau.

Sementara pada kebakaran hutan dan lahan, titik api dapat tersebar dan berada jauh dari kendaraan pemadam.

"Kalau kebakaran hutan, petugas harus menjangkau titik-titik api yang lokasinya tidak merata. Karena itu, kebutuhan selang menjadi lebih banyak dan harus disesuaikan dengan kondisi medan di lapangan," jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.