TRIBUN-MEDAN.com - Seorang pria mengaku menyesal setelah mengabaikan istrinya yang sedang hamil karena sibuk merawat wanita lain yang merupakan selingkuhannya.
Penyesalan itu semakin dalam setelah ia mengetahui bahwa sang istri harus pergi ke rumah sakit untuk melahirkan dan sempat meminta bantuan kepada pria lain karena suaminya tidak kunjung mengangkat telepon.
Dikutip dari Eva.vn Rabu (26/8/2026), kejadian ini terjadi di Tiongkok. Kisah tersebut bermula setelah pria itu dan istrinya menjalani rumah tangga selama hampir tiga tahun.
Istrinya kemudian hamil anak pertama. Pada awal kehamilan, pria tersebut mengaku sangat antusias menyambut kehadiran buah hati mereka.
Ia bahkan berusaha mengatur pekerjaannya agar dapat menemani istrinya setiap kali menjalani pemeriksaan kehamilan. Namun, seiring berjalannya waktu, sikapnya berubah.
Pria tersebut mengaku mulai menjalin hubungan dengan wanita lain yang dikenalnya ketika bekerja dengan seorang rekan bisnis. Wanita itu berusia lima tahun lebih muda darinya dan disebut sangat cantik.
Hubungan mereka awalnya hanya sebatas bertukar pesan untuk menanyakan kabar dan bertemu untuk minum kopi setelah jam kerja. Namun, hubungan tersebut semakin dekat ketika kondisi istrinya yang sedang hamil membuatnya lebih banyak berada di rumah.
Pria itu mengaku mulai larut dalam suasana baru bersama wanita tersebut. Meski demikian, ia sempat meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya tidak menelantarkan keluarga.
Ia tetap memberikan uang untuk kebutuhan rumah tangga. Berbagai perlengkapan bayi juga dibelinya. Ketika istrinya membutuhkan pemeriksaan dan dirinya sedang sibuk, ia memilih memesankan kendaraan untuk mengantar istrinya.
Belakangan, ia menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak dapat menggantikan kehadiran seorang suami, terutama ketika istrinya memasuki masa akhir kehamilan.
Sang istri bahkan sudah berkali-kali mengingatkannya agar selalu memperhatikan telepon karena bayi mereka dapat lahir kapan saja. Namun, pria tersebut mengaku hanya mengiyakan tanpa benar-benar memedulikannya.
Situasi kemudian berubah ketika wanita yang menjadi selingkuhannya menelepon dan mengatakan bahwa dirinya mengalami demam tinggi. Mendengar suara wanita tersebut yang terdengar lemas, pria itu langsung pergi menemuinya.
Ia membawakan bubur dan obat, kemudian tinggal untuk merawat wanita tersebut. Ketika malam tiba dan demamnya masih tinggi, ia memutuskan membawanya ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.
Karena sibuk mengurus administrasi di rumah sakit, pria tersebut tidak memperhatikan telepon genggamnya.
Setelah wanita tersebut diterima dan diperiksa dokter, ia turun untuk membeli air minum. Saat melewati area IGD, ia tiba-tiba melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Sosok tersebut ternyata adalah istrinya.
Sang istri berada di atas kursi roda dengan kondisi perut yang sudah besar dan wajah terlihat pucat. Namun, perhatian pria itu justru tertuju kepada seseorang yang berada di samping istrinya.
Seorang pria mengenakan jas tampak mendampingi istrinya. Pria tersebut terlihat rapi dan mengenakan jam tangan mewah. Ia beberapa kali menanyakan kondisi sang istri, memberikan air minum, serta membetulkan selimut yang menutupi kaki wanita tersebut.
Tidak jauh dari mereka, terdapat seorang pria lain yang membawa ponsel dan tas. Pria itu terlihat seperti seorang asisten.
Melihat kondisi tersebut, pria yang datang ke rumah sakit bersama selingkuhannya mengaku terkejut sekaligus diliputi rasa cemburu. Ia kemudian menghampiri pria tersebut dan bertanya mengenai identitasnya serta alasan berada di rumah sakit bersama istrinya.
Sang istri kemudian menatap suaminya. Alih-alih menyambut kedatangannya, wanita itu justru bertanya apakah suaminya akhirnya mengetahui bahwa dirinya berada di rumah sakit.
Setelah itu, sang istri dibawa perawat menuju ruang bersalin.
Pria yang mengenakan jas kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Menurut keterangannya, sore itu sang istri pergi ke minimarket dekat rumah untuk membeli beberapa barang.
Saat berada di sana, tiba-tiba air ketubannya pecah. Dalam keadaan panik, sang istri langsung berusaha menghubungi suaminya.
Namun, tidak satu pun panggilan tersebut dijawab.
Ia terus menelepon berkali-kali, tetapi tetap tidak berhasil menghubungi suaminya. Karena tidak berani menunggu lebih lama dalam kondisi tersebut, ia akhirnya meminta bantuan kepada pria yang kini berada di rumah sakit bersamanya.
Ketika tiba di lokasi, pria tersebut melihat sang istri hampir tidak mampu berjalan sendiri. Ia kemudian segera membawanya ke rumah sakit. Ia juga meminta asistennya membantu mengurus proses administrasi serta menghubungi keluarga.
Mendengar penjelasan tersebut, pria itu langsung memeriksa telepon genggamnya. Ia mendapati lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab dari istrinya.
Saat itu, ia terdiam dan menyadari bahwa istrinya benar-benar membutuhkan dirinya ketika berada dalam kondisi darurat.
Meski demikian, masih ada satu hal yang membuatnya penasaran. Ia mempertanyakan alasan istrinya meminta bantuan kepada pria tersebut ketika mengalami keadaan darurat.
Jawabannya ternyata membuatnya semakin terkejut.
Pria yang membantu istrinya tersebut merupakan cinta pertama sang istri. Keduanya pernah menjalin hubungan beberapa tahun sebelumnya, kemudian berpisah secara baik-baik. Setelah berpisah, masing-masing menjalani kehidupan sendiri, tetapi tetap mempertahankan hubungan sebagai teman dekat.
Pria tersebut kini diketahui merupakan pimpinan sebuah perusahaan. Sementara itu, pria yang mendampinginya di rumah sakit memang merupakan asistennya.
Sang istri sebenarnya sudah pernah menceritakan mengenai hubungan masa lalunya tersebut kepada suaminya. Namun, karena belum pernah bertemu secara langsung, sang suami tidak mengenali pria itu ketika melihatnya di rumah sakit.
Situasi kembali menjadi rumit ketika wanita yang sebelumnya dirawatnya di rumah sakit datang dan memanggil namanya. Pria yang merupakan cinta pertama istrinya kemudian melihat keduanya dengan tatapan dingin tanpa mengatakan apa pun.
Setelah kedua orang tua dari pihak keluarga tiba dan berkumpul di rumah sakit, pria tersebut berpamitan. Ia kemudian meninggalkan rumah sakit bersama asistennya.
Pada malam harinya, anak pertama pria tersebut dan istrinya lahir dengan selamat.
Pria itu mengaku merasakan kebahagiaan sekaligus penyesalan ketika melihat bayinya dibawa keluar oleh perawat. Di saat istrinya mengalami pecah ketuban, panik, dan berulang kali menghubunginya, ia justru sedang sibuk merawat wanita lain.
Setelah kondisi kesehatan sang istri stabil, wanita tersebut memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Pria itu mengaku telah meminta maaf dan berjanji untuk mengakhiri hubungan di luar pernikahan. Namun, sang istri mengatakan bahwa dirinya tidak bisa melupakan alasan mengapa ketika ia sangat membutuhkan suaminya, pria tersebut justru tidak mengangkat telepon.
Setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, sang istri membawa anak mereka pulang ke rumah orang tuanya.
Pria tersebut akhirnya menyadari bahwa orang yang menyebabkan rumah tangganya berakhir bukanlah cinta pertama istrinya. Menurut pengakuannya, kehancuran keluarganya terjadi karena kesalahannya sendiri.
Ia pun menyadari bahwa penyesalan tersebut datang setelah semuanya terlambat.
(cr31/tribun-medan.com)