Mahasiswa Bacakan Tuntutan di Tugu Muda, Setelah Sempat Diadang Polisi
M Syofri Kurniawan August 27, 2026 05:56 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Semarang Raya (BEM Sera) akhirnya bisa membacakan lima tuntutan di Kawasan Tugu Muda, Kota Semarang, dalam aksi demonstrasi, Rabu (26/8/2026) sore.

Ratusan mahasiswa dari 11 kampus tersebut sempat dihalangi oleh kepolisian untuk membacakan poin tuntutan mereka di Tugu Muda.

Mereka sempat bersitegang dengan aparat sekitar hampir satu jam.

Namun, aparat akhirnya mau membuka tiga lapisan barikadenya di depan Gedung Juang 45 atau depan Maybank, Jalan Pemuda, Kota Semarang.

Mahasiswa akhirnya menerobos ratusan barisan kepolisian lalu berjalan menuju ke Tugu Muda.

Di tempat itu, mereka tak sampai 15 menit untuk membacakan lima tuntutan yang disebut sebagai Panca Tuntutan Rakyat (Pantura) di monumen Pertempuran Lima Hari di Semarang tersebut.

Koordinator Aksi, Majid mengatakan, mahasiswa ingin menyampaikan aksi di Tugu Muda karena saat membacakan tuntutan di depan gedung DPRD dan Pemprov Jateng, tidak pernah ada respons.

Oleh karena itu, mahasiswa ingin kembali untuk melebur dengan masyarakat di kawasan Tugu Muda.

"Kepada masyarakat bahwasanya kami masih bersama mereka. Kemudian pada akhirnya terdengar di telinga yang tuli, telinga pemerintah, dan sampai ke telinga Pemerintah Pusat," kata mahasiswa Undip tersebut.

Dia menyebut, Aliansi BEM Sera kembali turun ke jalan sebagai respon atas melihat tingkah laku dari elite negara yang kian hari membawa arah bangsa ini menjauh dari cita-cita awal kemerdekaan.

"Maka dari itu, kami mahasiswa Semarang menggaungkan Panca Tuntutan Rakyat atau yang kami sebut sebagai Pantura," katanya.

Kelima tuntutan mahasiswa itu meliputi, turunkan harga bahan pokok dan BBM, kembalikan TNI dan Polri ke fungsi utama, evaluasi total program MBG dan hentikan program KDMP, kembalikan kepemilikan tanah ke rakyat dan rehabilitasi segera wilayah terdampak bencana, serta hentikan praktik korupsi KKN di lingkungan pemerintahan.

Para mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut berasal dari Undip, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Politeknik Negeri Semarang (Polines), dan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo. 

Selain itu, para pendemo berasal dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas Semarang (USM), Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang. 

Pagar hidup

Sebelumnya, polisi mengadang pendemo dari BEM Sera yang hendak berjalan kaki menuju Tugu Muda, Kota Semarang, Rabu.

“Pagar hidup” berupa polisi wanita (Polwan) mengadang di depan Gedung Juang 45, Jalan Pemuda, hanya selemparan batu dari Balai Kota Semarang.

Aksi itu dibalas dengan mahasiswa dengan membentuk barisan serupa berupa para mahasiswi yang juga membentuk pagar hidup.

Negosiator mahasiswa dari Unnes, Septia Linasari mengatakan, mahasiswa sudah mengajukan surat izin aksi kepada kepolisian.

Massa yang hadir juga tidak sampai angka ribuan, hanya ratusan mahasiswa.

"Kami tidak ada 1.000 orang, tidak akan membuat kemacetan jalan," ujar Septia dalam negosiasi dengan kepolisian.

Sejumlah ketua BEM perwakilan universitas juga turut menyakinkan para polisi, tetapi para negosiator dari kepolisian mengabaikan permintaan para mahasiswa.

Akhirnya, negosiasi itu berujung buntu hingga pukul 16.40, Ratusan mahasiswa tersebut masih tertahan.

Sementara kepolisian terus berusaha menghadang mahasiswa dengan tiga lapis pasukan barikade.

Lapisan pertama dari para polwan, barusan kedua berupa personel Sabhara berpakaian antihuru-hara.

Lapisan ketiga berupa barisan polisi mengendarai sepeda motor dan mobil water cannon atau meriam air.

Dari barisan negosiator polisi mengungkap, para mahasiswa dipersilakan melakukan orasi, tetapi cukup di Jalan Pahlawan.

"Tugu Muda jalur lalu lintas masyarakat, nanti adanya ratusan mahasiswa akan menganggu aktivitas pengguna jalan," ungkap seorang negosiator.

Sementara teriakan mahasiswa masih terus menggema di jalan tersebut.

"Buka, buka, buka jalannya, buka jalannya sekarang juga," teriak para mahasiswa. (Iwan Arifianto/Reza Gustav/Rezanda Akbar/Budi Susanto) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.