Tekad Pantang Menyerah Antar Imanuddin Wisudawan Tunanetra Cumlaude di UMI
Ari Maryadi August 27, 2026 05:05 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - "Hari ini, saya memang tidak bisa melihat. Tidak bisa melihat toga yang saya kenakan ini dan tidak bisa melihat senyuman orang tua saya,"

Begitu lah ungkapan Muhammad Imanudin (23), saat memberikan kesan di acara wisuda Universitas Muslim (UMI).

Imanuddin adalah satu dari 1.574 wisudawan dan wisudawati yang mengikuti penamatan di kampus 'Ilmu dan Dakwah' UMI.

Prosesi wisuda ini berlangsung di Ballroom Phinisi Hotel Claro, Jl AP Pettarani Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (27/7/2026).

Imanuddin memang tak dapat melihat. Namun, kondisi itu bukan penghalang baginya untuk meraih gelar sarjana di Fakultas Sastra dan Ilmu Komunikasi (FSIK) UMI.

Tangis haru pemuda kelahiran Masamba 9 Februari 2002 ini, tak bisa ia bendung saat mengungkapkan rasa bahagianya.

"Tapi saya, bisa merasakan dengan jelas dan mendengar tepukan dari semuanya," ucapnya terisak sembari mengusap air mata di balik kacamata yang digunakan.

Menurut anak keempat dari lima bersaudara pasangan Kamil dan Nurjannah ini, terlahir sebagai manusia tunanetra bukanlah penghalang menggapai cita-cita.

Baginya menatap masa depan yang lebih baik, harus bertumpu pada ilmu dan mental. Mental kuat yang tidak mudah goyah atau pun menyerah oleh keadaan.

"Satu hal yang bisa saya katakan pada hari ini bahwa. Melihat masa depan itu tidak butuh hanya melihat dengan mata saja untuk mencapai setiap impian," ujar Imanuddin kembali terisak.

"Yang dibutuhkan itu adalah mental, yang dibutuhkan itu adalah ilmu, dan yang dibutuhkan itu adalah keberanian untuk terus maju dan percaya kepada Allah yang selalu ada bersama kita," ucapnya tegar disambut tepuk tangan meriah para wisudawan lain.

Imanuddin mulai perjuangan meraih gelar sarjana di UMI pada 2022 lalu.

Ia mengaku memilih UMI sebagai tempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi karena reputasinya.

"Karena memang ingin ambil jurusan ilmu komunikasi, karena branding UMI bagus juga, jadi saya nda ragu masuk di sini," kata Imanuddin.

Selama empat tahun berproses di UMI, Imanuddin mengaku cukup nyaman. Tak ada perlakuan berbeda apalagi kesana intimidatif yang dirasakan.

Hanya saja kata dia, fasilitas untuk mahasiswa disabilitas masih perlu tingkatkan.

"Tentunya ini dari segi fasilitas untuk kami disabilitas masih ini, masih perlu ditingkatkan lagi. Tapi dalam hal penerimaan untuk kami (kaum disabilitas) itu sudah bagus," ungkapnya. 

Dalam proses penyelesaian skripsi, Imanuddin mengaku mendapati beberapa kendala.

Salah satunya terkait pengambilan foto atau dokumentasi yang ingin dilampirkan dalam skripsi.

Namun kendala itu, kata dia, teratasi oleh teman-teman di sekitarnya.

"Ini saya tulis sendiri, yang bikin terkadang susah itu waktu ada pengambilan foto, sama yang spesifik seperti halaman, itu minta tolong orang," ucapnya.

Di tengah keterbatasan penglihatan yang dialami, Imanuddin punya cita-cita besar.

Ia ingin menjadi sarjana yang berguna bagi bangsa dan negara.

Khususnya dalam hal melayani penyandang disabilitas agar hidup setara dan mendapat fasilitas pendidikan yang mendukung.

"Spesifik memang ada harapan saya ingin membangun seperti akademi di kampung yang nanti bisa menjadi tempat adek-adek, mengembangkan bakat seperti itu," katanya.

Cita-cita itu tumbuh dalam diri Imanuddin saat mengenyam pendidikan di SLB A Yapti.

Sekolah khusus penyandang tunanetra ini berlokasi di Kelurahan Ujung Pandang Baru, Kecamatan Tallo, Utara Kota Makassar.

Ia pun berpesan kepada adik-adiknya, agar tak mudah menyerah pada kondisi.

"Berani saja dulu untuk melangkah, karena kalau kita mau tunggu semua inklusif, semua harus sesuai kebutuhan kita, nda akan maju. Kita harus berani dulu lewati apa yang memang menjadi tantangan. Kita cari jalan keluarnya," imbuh.

Di Jurusan Ilmu Komunikasi FSIK UMI, Muhammad Imanuddin dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,81 (cumlaude).

Sejalan dengan cita-cita Imanuddin, Rektor UMI Prof Dr H Hambali Thalib dalam pidatonya juga menekankan agar para alumni dapat memberikan manfaat bagi sekelilingnya.

Rata-rata IPK lulusan kita 3,73, dan 84,1 persen lulusan berpredikat cumlaude. Itu capaian yang patut kita syukuri," ujar Prof Hambali.

"Tetapi anak-anakku sekalian, 'Cumlaude adalah prestasi akademik. Berdampak adalah  prestasi kehidupan'," lanjutnya.

Capaian akademik dan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat, kata Prof Hambali telah dibuktikan UMI sejauh ini.

"Dan saya senang karena sebagian bukti itu hari ini berada di hadapan kita," ujarnya.

Adapun prestasi yang ditorehkan beberapa fakultas di UMI, lanjut Prof Hambali, diantaranya; Mahasiswa Fakultas Hukum UMI meraih Gold Medali pada kompetisi internasional di Chiang Mai 
University, Thailand.

Kemudian Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer kita lolos student exchange di Kyushu Institute of Technology, Jepang.

"UMI juga menjadi Juara Umum Kontes Robot Indonesia Regional IV 2026, dengan tiga medali emas," ungkapnya 

Setelah itu, ada Tim mahasiswa Fakultas Teknologi Industri yang meraih Best Video and Poster pada Indonesia Chemical Reaction Car Competition 2026.

Selanjutnya, Tim Fakultas Teknik menjadi Juara Umum Civil Fest 
II FKMTSI Wilayah XII Sulselbar.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran meraih Juara 4 Pilmapres tingkat LLDIKTI Wilayah IX. 

"Ini bukan sekadar daftar piala. Ini bukti bahwa mahasiswa UMI mampu bersaing dari tingkat regional, nasional sampai internasional," tegasnya.

Pada kesempatan itu, Prof Hambali juga memuji kehadiran Tim Relawan Medis UMI di medan bencana seperti peristiwa kebakaran di Tallo, Makassar dan Gempa berkekuatan magnitudo 7, 7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Dan saat kita melaksanakan wisuda ini, tim medis Fakultas Kedokteran UMI masih membersamai masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur," ujar Guru Besar Hukum UMI ini.

"Bagi saya: 'Ilmu yang baik bukan hanya ilmu yang memenangkan kompetisi. Ilmu yang baik adalah ilmu yang hadir ketika masyarakat membutuhkan'," lanjutnya.

Selain hari ini, UMI juga akan menggelar wisuda di lokasi yang sama untuk 1292, pada Jumat (28/8/2026) besok.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.