TRIBUN-TIMUR.COM, JENEPONTO - Sejumlah remaja putri di Desa Borongtala, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel), diajak menjadi Anemia Fighter.
Bukan sekadar mengetahui apa itu anemia, mereka didorong mengenali kondisi tubuh sendiri, bersedia memeriksa kadar hemoglobin (Hb), serta mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran.
Ajakan tersebut disampaikan Poltekkes Kemenkes Makassar melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) bertema “Glow Up Tanpa Anemia: Gerakan Remaja Putri Sehat, Cerdas, Aktif, dan Bebas Anemia” di Desa Borongtala, Minggu (23/8/2026).
Kegiatan melibatkan tim dosen Poltekkes Kemenkes Makassar, yakni Andi Syintha Ida, Hj Sitti Mukarramah, dan Wirawati Amin.
Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Makassar yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) Interprofessional Education/Interprofessional Collaboration (IPE/IPC) di Borongtala turut terlibat dalam kegiatan.
"Berbeda dari penyuluhan kesehatan pada umumnya, edukasi dikemas melalui permainan, tanya jawab, diskusi dan aktivitas interaktif," kata Andi Syintha Ida melalui rilisnya, Kamis (27/8/2026).
Pendekatan tersebut membuat remaja lebih mudah memahami persoalan anemia sekaligus berani menceritakan pengalaman yang mereka rasakan sehari-hari.
"Pada awal kegiatan, sebagian peserta masih terlihat malu dan kaku," lanjutnya.
Namun, suasana berubah setelah tim mulai mengajak mereka mengikuti permainan dan menjawab pertanyaan ringan.
Remaja kemudian diajak mengenali sejumlah kondisi yang mungkin pernah mereka alami, seperti mudah lelah, mengantuk, pusing, sulit berkonsentrasi hingga merasa tidak bertenaga.
Dari pengalaman tersebut, tim mengarahkan pembahasan pada anemia dan pentingnya menjaga kesehatan sejak usia remaja.
“Glow up itu bukan hanya soal penampilan. Glow up yang sebenarnya adalah ketika kita sehat, punya energi, bisa belajar dengan baik, aktif beraktivitas, dan peduli terhadap kesehatan diri sendiri,” lanjut Andi Syintha Ida.
Permainan hingga Cek Hb
Materi mencakup pengertian anemia, penyebab dan faktor risikonya pada remaja putri, tanda-tanda anemia serta dampaknya terhadap aktivitas dan konsentrasi belajar.
Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai makanan sumber zat besi, pentingnya vitamin C dalam membantu penyerapan zat besi, serta penggunaan TTD sesuai anjuran.
Untuk menguji pemahaman peserta, tim membuat permainan “Mitos atau Fakta” dan “Setuju atau Tidak Setuju”.
Melalui permainan itu, sejumlah anggapan yang berkembang di kalangan remaja mengenai anemia dan TTD diluruskan dengan cara yang lebih ringan.
Ada pula permainan “TTD Detective”. Para remaja diminta memecahkan sejumlah situasi yang berkaitan dengan cara mengonsumsi TTD.
"Mereka diberikan pemahaman bahwa TTD bukan hanya berkaitan dengan penanganan anemia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan anemia pada remaja putri sesuai anjuran program kesehatan," kata Hj Sitti Mukarramah menambahkan.
Dari kegiatan tersebut, muncul respons yang dinilai penting oleh tim Pengabmas.
Sejumlah remaja menyatakan bersedia mengetahui kondisi kesehatan mereka melalui pemeriksaan kadar Hb.
"Mereka juga menunjukkan kemauan untuk mengonsumsi TTD sesuai anjuran," katanya.
Respons itu menjadi bagian penting karena edukasi tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan.
Remaja mulai diarahkan mengambil langkah konkret untuk mengetahui dan menjaga kondisi kesehatannya.
Lima Aksi Jadi Anemia Fighter
Menurut Sitti Mukarramah, Tim Pengabmas kemudian mengenalkan lima aksi sederhana yang dapat dilakukan remaja untuk mencegah anemia.
Pertama, KNOW IT, yakni mengenali anemia dan gejalanya.
"Kedua, EAT IT, dengan memperhatikan makanan bergizi dan asupan zat besi," kata dia.
Ketiga, TAKE IT, yaitu mengonsumsi TTD sesuai anjuran.
Keempat, CHECK IT, dengan memperhatikan kondisi kesehatan dan melakukan pemeriksaan bila diperlukan.
Kelima, SHARE IT, yakni mengajak teman sebaya untuk bersama-sama mencegah anemia.
Lima langkah tersebut membuat isu anemia tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan kesehatan individu, tetapi juga sebagai pengetahuan yang dapat dibagikan antar-remaja.
"Kami berharap para peserta dapat menjadi Anemia Fighter di lingkungan masing-masing dengan saling mengingatkan mengenai pola makan bergizi, konsumsi TTD dan pentingnya pemeriksaan kesehatanm," ujar Mukarramah.
Bukan Sekadar Kegiatan Kampus
Kegiatan di Borongtala juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan dalam situasi nyata di tengah masyarakat.
Sementara bagi masyarakat, kegiatan tersebut membuka ruang interaksi langsung dengan tenaga pendidik dan mahasiswa untuk membicarakan persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan remaja.
Hal itu disampaikan Wirawati Amin.
"Namun, edukasi saja tidak cukup untuk melihat seberapa besar persoalan anemia di wilayah tersebut," katanya.
Langkah berikutnya yang penting adalah mengetahui kondisi riil remaja melalui pemeriksaan Hb serta melihat sejauh mana konsumsi TTD dilakukan secara rutin.
Data tersebut dapat menjadi gambaran bagi sekolah, keluarga, fasilitas kesehatan dan pemerintah daerah dalam menentukan intervensi berikutnya.
Sebab, mencegah anemia pada remaja putri bukan hanya soal kesehatan saat ini. Kondisi kesehatan mereka juga berkaitan dengan kesiapan memasuki usia dewasa dan kesehatan pada fase kehidupan berikutnya.
Melalui gerakan 'Glow Up Tanpa Anemia', para remaja Borongtala diajak memahami bahwa tampil sehat bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang tubuh yang bugar, kemampuan belajar, aktivitas sehari-hari dan keberanian menjaga kesehatan diri.