TRIBUNMANADO.CO.ID - Musim kemarau bakal kian menyiksa warga Sulawesi Utara.
Bulan September 2026 diprediksi bakal tanpa hujan sama sekali.
Hal ini dibeber Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sulawesi Utara Aris Yunatas dalam kegiatan Gebyar Merah Putih Diskusi Tobat Ekologis dan Tobat Ekosistem di Kelurahan Bailang, Lingkungan II, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, provinsi Sulut, Jumat (28/8/2026) sore.
Kegiatan yang digelar oleh Komnitas Peduli Sungai Cempaka kota Manado ini menghadirkan sejumlah narasumber.
Selain BMKG, hadir pakar hukum dari Unsrat Denny Karwur, Budayawan Bode Talumewo serta pemerhati lingkungan Boyke RompasAris dalam paparannya membeber gambar peta Sulut dimana keseluruhannya berwarna hitam. "Ini artinya memang tidak akan ada hujan sama sekali di bulan September," kata dia.
Ia memprediksi kemarau pada tahun ini bakalan lebih panjang dari tahun 2015 lalu.
Ungkap dia, tiga daerah yakni Bolmut, Bolmong serta Sitaro belum hujan selama dua bulan.
Untuk Manado, kata dia, Otw dua bulan.
"Ini harus diantisipasi oleh kita bersama," kata dia.
Ia menuturkan, upaya sederhana yang dapat dilakukan adalah bijak dalam pemakaian air.
Perilaku hemat air mesti ditumbuhkan di tengah kekeringan saat ini.
"Ayo kita berhemat air," katanya.
Denny Karwur dalam paparannya menekankan tentang pentingnya membangun komunitas masyarakat dan itu harus berkelanjutan.
Sementara Boyke Rompas menuturkan, keadaan saat ini mengingatkan semua pihak berapa pentingnya alam.
"Saatnya kita untuk kembali ke alam karena kehidupan kita ada di sana," katanya .
Kepada NGO NGO dirinya meminta terus bekerja keras menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga alam.
Mereka diminta kokoh dalam sikap dan bekerjasama dengan semua pihak. Bode menerangkan tentang budaya Minahasa yang sangat dekat dengan alam serta menghargai alam.
Pembina Komunitas Peduli Sungai (KPS) Sulawesi Utara, Boy Maleke menyatakan, perlunya pertobatan ekologis agar supaya bangsa terhindar dari bencana.
Menurut dia, peristiwa bencana terus berulang merupakan tanda bahwa belum adanya pertobatan ekologis.
Dirinya mengemukakan metode menabung air sebagai cara untuk bertahan di tengah kemarau panjang yang sementara melanda Sulut. (Art)
Baca juga: Info BMKG: Terjadi Gempa Bumi di Labuan Bajo NTT, Jumat 28 Agustus 2026
(TribunManado.co.id/Art)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini