Jakarta (ANTARA) - Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mendorong penguatan pengelolaan residu tanaman pertanian (crop residu) di Indonesia melalui pemanfaatan mekanisasi sebagai sumber daya yang menciptakan nilai tambah ekonomi baru bagi petani.

Kepala BRMP Mekanisasi Pertanian Arief Rachman mengatakan sisa tanaman atau residu pertanian seperti jerami padi, batang dan daun jagung serta tebu dapat menjadi peluang penting dalam pembangunan pertanian Indonesia dan memiliki nilai ekonomi dan ekologis tinggi setelah masa panen.

“Kita perlu mendorong perubahan paradigma, yaitu sisa tanaman bukan hanya sekedar limbah, tetapi merupakan sumber daya. Kalau kita mengambil itu sebagai resource, maka kita akan berdaya-upaya untuk mengelola dan memanfaatkannya,” kata Arief dalam acara National Multistakeholder Dialogue bertajuk “Scaling Up Crop Residue Management through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia” di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan residu pertanian yang tidak dikelola justru dapat menimbulkan persoalan, salah satunya melalui praktik pembakaran sisa tanaman yang tidak hanya menyebabkan pencemaran udara tapi juga menghilangkan potensi biomassa yang sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali untuk mendukung produktivitas.

Residu tanaman juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan pakan, bahan organik, kompos, media budi daya, maupun produk bernilai tambah dan keberlanjutan lainnya.

Arief mengatakan pemanfaatan residu tersebut membutuhkan dukungan mekanisasi. Teknologi seperti mesin pencacah, baler, alat pengangkut, pengolah kompos, hingga mesin pemanfaatan biomassa dinilai dapat membuat pengelolaan sisa tanaman lebih cepat, efisien, dan ekonomis.

Namun, Arief menekankan tantangan mekanisasi bukan hanya menyediakan mesin. Teknologi harus tersedia (availability), terjangkau (affordability), sesuai kebutuhan petani, serta dapat digunakan secara berkelanjutan.

Salah satu solusi yang didorong adalah model custom hiring atau jasa sewa alat dan mesin pertanian (alsintan) melalui unit pelaksana jasa alsintan (UPJA) maupun pelaku usaha jasa alsintan. Melalui model tersebut, petani tidak perlu membeli mesin secara individual, tetapi dapat menggunakan layanan mekanisasi sesuai kebutuhan dan membayar berdasarkan pemakaian.

“Model ini berpotensi meningkatkan akses terhadap teknologi, khususnya bagi petani kecil, sekaligus meningkatkan utilisasi alsintan yang tersedia,” katanya.

Arief mengatakan pengembangan mekanisasi pengelolaan residu perlu dibangun dari hulu hingga hilir, tidak hanya mencakup penyediaan mesin, tetapi juga model bisnis, kelembagaan petani, penyedia jasa alsintan, rantai pasok biomassa, hingga kepastian pasar bagi produk yang dihasilkan.

Karena, menurut dia, keberhasilan pengelolaan residu tanaman bukan hanya diukur dari berapa banyak mesin yang didistribusikan, tetapi dari seberapa besar teknologi tersebut memberikan manfaat nyata bagi petani.

Ia berharap pemanfaatan residu berbasis mekanisasi dapat meningkatkan efisiensi usaha tani, menciptakan nilai tambah ekonomi, sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Ia juga mengatakan BRMP Mekanisme Pertanian (Mektan) siap mendukung melalui pengembangan dan pengujian teknologi, penyediaan rekomendasi teknologi sesuai kebutuhan lapangan, serta penguatan kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, dan penyedia jasa alsintan.

BRMP Mektan juga bekerja sama secara regional bersama UN ESCAP-CSAM dalam pengembangan solusi berbasis mekanisasi untuk pengelolaan residu tanaman yang lebih berkelanjutan. Inisiatif tersebut melibatkan Indonesia bersama Kamboja dan Nepal sebagai ruang pertukaran pengalaman dan pembelajaran antarnegara.

Perwakilan UN ESCAP-CSAM Marco Silvestri mengatakan kerja sama regional tersebut bukan sekadar memindahkan teknologi dari satu negara ke negara lain tapi juga saling memahami kebutuhan pertanian yang lebih sesuai dengan wilayah dan tantangan masing-masing.

“Tujuan kerja sama ini bukan sekadar mentransfer teknologi dari satu negara ke negara lain. Kami ingin belajar dari Indonesia, berbagi pengalaman dari kawasan, dan mengidentifikasi solusi yang relevan dengan konteks Indonesia,” ujar dia.

Menurut Marco, itu menjadi kesempatan bagi pemerintah, petani, peneliti, dan sektor swasta untuk saling bertukar pengalaman dan bersama-sama mengidentifikasi solusi praktis.

Dengan dukungan teknologi yang tepat, layanan jasa alsintan yang mudah diakses, serta kelembagaan dan model usaha yang berkelanjutan, residu tanaman diharapkan dapat menjadi sumber daya yang memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan.