Demo di Yogyakarta, Mahasiswa UGM Diduga Dipukul Ormas, Mata Disemprot Semprotan Merica
Theresia Felisiani September 02, 2026 10:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JOGJA - Aksi demonstrasi di kawasan simpang Gramedia Sudirman Yogyakarta sempat memanas beberapa kali setelah massa aksi mendapat tindakan kekerasan dari sekelompok orang yang diduga organisasi masyarakat (ormas).

Menurut penuturan seorang demonstran, situasi mulai memanas sekitar pukul 19.00 WIB ketika massa aksi mulai dikelilingi oleh pihak kepolisian dan kelompok ormas. 

Mereka melakukan provokasi dengan aksi adu mulut dengan demonstran. 

 

Disemprot Semprotan Merica

Seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tidak ingin disebut namanya mengaku diserang menggunakan semprotan merica (pepper spray) yang mengenai area mata dan sedikit di bagian atas hidungnya.

Pepper spray atau semprotan merica adalah alat pelindung diri kimiawi berbasis gas atau cairan yang digunakan untuk melumpuhkan penyerangan secara sementara.

Bahan utamanaya adalah Oleoresin Capsicum (OC) yaitu ekstra alami dari cabai yang sangat pekat.

Baca juga: Aksi di Yogyakarta Ricuh dan Memanas, 8 Pendemo Cedera, 2 Dibawa ke RS

Efek jika kena pepper spray yakni mata mengalami kebutaan sementara, rasa terbakar dan mata langsung terpejam secara refleks.

Penapasan terganggu, sesak napas, batu-batuk, tenggorokan seperti terbakar.

Kulit rasanya panas dan perih menyengat.

Cara mengatasinya jangan menggosok mata, bilas mata dan area terdampak dengan air bersih dingin, cuci area terdampak menggunakan sabun lembut.

Dilansir dari penjelasannya, pelaku penyemprotan sengaja menyembunyikan identitasnya dengan mengenakan baju putih, kacamata, masker putih, dan topi.

Dalam kondisi pandangan yang terganggu akibat semprotan tersebut dan posisi menunduk, ia kemudian juga dipukuli di bagian kepala oleh pelaku. 

Pelaku Diduga Ormas

Terkait identitas para penyerang, dikutip dari analisis korban, ia sangat meyakini bahwa mereka adalah bagian dari ormas.

Hal ini dikarenakan kelompok tak berseragam tersebut bergerak dari posko yang sama dengan kelompok berseragam 'jaga warga' yang berjaga pada siang harinya.

Pada malam hari, kelompok ini mengubah penampilannya dengan pakaian sipil dan menutupi wajah mereka menggunakan masker. 

​Beruntung, seorang teman yang berada di dekat Zaiba langsung menariknya ke pos medis terdekat. Di sana, tim medis segera memberikan pertolongan pertama dengan menyiramkan air putih ke matanya, lalu mengevakuasinya lebih jauh ke dalam area Universitas Islam Indonesia (UII) Cik Di Tiro.  

NEGOSIASI - Massa dari Aliansi Masyarakat Sipil bernegosiasi dengan warga soal kapan aksi diakhiri, di Simpang Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam. Dua kubu berada di sisi utara dan timur dengan ditengahi barikade polisi.
NEGOSIASI - Massa dari Aliansi Masyarakat Sipil bernegosiasi dengan warga soal kapan aksi diakhiri, di Simpang Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam. Dua kubu berada di sisi utara dan timur dengan ditengahi barikade polisi. (Tribun Jogja/Hendy Kurniawan)

Dilansir dari pengakuan korban mengenai situasi pasca-evakuasi, kelompok ormas itu masih terus berusaha menerobos jalan menuju arah Cik Di Tiro untuk mengintimidasi massa.

Sempat ada satu orang dari pihak ormas yang mencoba merangsek masuk ke area kampus, namun berhasil dihalau oleh tim medis dan pihak kampus, yang akhirnya membuat kelompok ormas tersebut mundur.  

​Saat ini, kondisi mahasiswa UGM tersebut dilaporkan sudah mulai membaik dan stabil berkat penanganan medis yang cepat.

Meskipun demikian, korban menyatakan bahwa ia masih merasakan perih di mata akibat semprotan merica dan rasa sakit bekas pukulan. 

 

Dua Tuntutan Utama yang Diusung Aliansi Masyarakat Sipil saat Gelar Aksi di Simpang Gramedia Jogja

Dua tuntutan utama diusung Aliansi Masyarakat Sipil saat menggelar aksi di Simpang Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, Selasa (1/9/2026).

Aksi yang dimulai sejak sore hari tersebut sempat diwarnai ketegangan antara massa aksi dengan warga.

Namun, ketegangan berhasil diredam oleh aparat kepolisian yang berjaga di lokasi.

Dalam aksinya ini, gabungan aliansi mahasiswa hingga masyarakat sipil itu membawa dua tuntutan utama, yakni turunkan rezim hari ini dan tarik mundur kolonialisme Indonesia dari wilayah periferi jajahannya.

Ketua Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM), Mesa, menilai akar permasalah bangsa ini karena kebijakan yang lahir dari kepemimpinan rezim saat ini.

Kondisi saat ini semakin semrawut dan jauh dari konstitusi. 

“Banyak permasalahan yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Alih-alih kita punya banyak tuntutan, mungkin bisa sampai 200 tuntutan, lebih baik disederhanakan ke akar permasalahannya, yaitu rezim hari ini,” katanya saat ditemui di simpang empat Gramedia, Selasa (1/9/2026) malam.

Baca juga: Muncul Petisi Bubarkan GRIB Jaya usai Dituding Biang Ricuh Demo DPR, 14 Ribu Orang Sudah Tandatangan

Ia menilai janji politik Prabowo-Gibran mulai dari pendidikan gratis, transportasi publik gratis, dan lainnya adalah kebohongan.

Belum lagi dari awal Gibran mencalonkan diri sudah memanipulasi konstitusi.

Pemerintah saat ini, menurutnya, tak ubahnya kolonialisme Belanda.

Negara ini masih dijajah oleh alokasi APBN yang justru difokuskan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan banyak program prioritas yang dipaksakan.

Mesa menilai pemerintah tidak hanya mengambil anggaran rakyat, namun semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Setidaknya ada empat janji kemerdekaan, dimana negara bertugas melindungi, menyejahterakan, dan menderdaskan kehidupan bangsa, serta ikut dalam perdamaian dunia.

“Kita bisa lihat apakah MBG mencerdaskan kehidupan bangsa ketika jsutru anggaran pendidikan untuk KPI-K, untuk beasiswa, gaji dosen, gaji guru diabaikan hanya untuk makanan yang dipaksakan. Apakah Koperasi Desa Merah Putih itu melindungi masyarakat desa, sementara dana desa dipaksa untuk dikeruk, tidak ada sama sekali otonomi desa ataupun keinginan desa yang diakomodir oleh pemerintah pusat,” terangnya.

“Maka itu juga adalah bentuk kolonialisme, itu juga bentuk penindasan, itu juga bentuk keresahan yang timbul dan kita harus suarakan itu juga,” sambungnya.

Baca juga: Pengamat Desak Polisi Usut Tuntas Aktor di Balik Kerusuhan Demo 27 Agustus, Singgung Dalih Ormas

Sementara itu, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Risyad, menjelaskan menghentikan kolonialisme di Indonesia berbicara tentang prioritas negara yang justru meminggirkan rakyat menengah bawah.

“Kolonialisme hari ini berbicara bagaimana pemrintah menagtur tata kelola penanganan bencanya, kemudian mengekstrak sumber daya alam di Indonesia secara serampangan, kemudian berbicara bagaimana akhirnya priorotas negara tidak diraskan oleh masyarakat menegah ke bawah, tetapi kaum elit,” imbuhnya. 

 

8 Pendemo Cedera

Kericuhan pecah saat massa aksi Aliansi Masyarakat Sipil yang sedang melakukan aksi demonstrasi secara damai dipaksa mundur oleh kelompok yang mengatasnamakan warga di penggal selatan Jalan Cik di Tiro, Yogyakarta, Senin (1/9/2026) malam. 

Negosiasi perihal kapan aksi demonstrasi harus diakhiri, berjalan alot dan berakhir buntu. 

Kelompok warga yang sebelumnya dipisahkan oleh barikade polisi di penggal selatan Jalan Cik di Tiro, menghambur ke utara. 

Membuat barisan massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dari berbagai kampus ini menjadi tak beraturan. 

Suasana seketika memanas untuk kesekian kalinya. Teriakan terdengar sahut-menyahut 

Beberapa peserta aksi terlihat terjatuh. 

Ada pula yang terkena semprotan dengan efek yang ditimbulkan adalah mata pedih dan terbatuk-batuk. 

Menggunakan air mengalir, mereka membasuh matanya bergantian dengan peserta aksi lain.

"Medis, medis, ambulans, cepat!" teriak seseorang dari kerumunan. 

Baca juga: Terjaring Saat Kerusuhan Demo di DPR, 25 Anak Putus Sekolah Diupayakan Kembali Belajar

Syahdan, seorang peserta aksi terlihat ditandu ke dalam ambulans untuk dilarikan ke rumah sakit secepatnya. 

Rumah sakit terdekat di utara titik aksi adalah Panti Rapih. Jaraknya tak sampai satu kilometer, persis di selatan kampus UGM Yogyakarta. 

Sebetulnya ada lagi rumah sakit yang lebih dekat, yakni Bethesda. Tapi akses ke sana lumpuh karena jalanan dipenuhi massa. 

Ditemui di selasar kampus UII Cik di Tiro, anggota tim medis Aliansi Masyarakat Sipil, Bao, menjelaskan sejumlah luka-luka yang dialami peserta aksi. Seperti trauma tumpul di kepala, kaki, tangan. 

Ada enam peserta aksi yang sempat mendapat perawatan di selasar UII Cik di Tiro.

"Ada lagi dua mengalami trauma tumpul di kepala yang menghasilkan pendarahan. Itu langsung dievakuasi ke (rumah sakit) Panti Rapih. Total ada delapan. Enam (sempat dirawat) di selasar sini (kampus UII Cik di Tiro) dan dua di lapangan (langsung dibawa ke rumah sakit)," ucap Bao. 

Sekitar pukul 22.00 aksi demonstrasi yang menuntut perbaikan persoalan multidimensi di Indonesia ini terpaksa diakhiri. 

Polisi meminta mereka mundur dengan jaminan pengawalan sehingga tidak ada gesekan lagi dengan kelompok warga.

Sejatinya, aliansi akan bermalam di Simpang Gramedia jika aksi tidak berakhir dengan kericuhan. 

"Kami datang dengan damai, tidak bawa senjata, hanya membawa suara. Kenapa kami yang dibubarkan?" ujar seorang peserta aksi saat terjadi negosiasi dengan aparat kepolisian.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.