TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Badung menunjukkan tren penurunan hingga Agustus 2026.
Setelah sempat mencapai angka tertinggi pada awal tahun, namun dari beberapa bulan terakhir cenderung menurun.
Berdasarkan data yang diperoleh pada Rabu 2 September 2026, jumlah warga yang terkena DBD tercatat 63 kasus pada Januari, kemudian turun menjadi 57 kasus pada Februari dan 44 kasus pada Maret.
Namun kasus kembali meningkat pada April dengan 51 penderita, sebelum mengalami penurunan cukup signifikan pada Mei yang hanya mencatat 26 kasus.
Baca juga: Bali Waspada DBD: Angka Kasus Capai 1.167 Pasien, 2 Meninggal, Wilayah Gianyar Paling Rawan
Pada Juni, kasus kembali naik menjadi 40 kasus, namun kemudian turun menjadi 31 kasus pada Juli dan kembali menurun menjadi 28 kasus pada Agustus 2026.
Meski secara umum kasus DBD di Badung menunjukkan tren penurunan, namun penyebaran kasus di sejumlah wilayah di Badung masih menjadi perhatian.
Bahkan Kecamatan Kuta Selatan tercatat sebagai salah satu wilayah dengan jumlah penderita paling tinggi.
Pada Januari dan Februari, wilayah ini masing-masing mencatat 22 kasus. Angka tersebut bahkan meningkat menjadi 25 kasus pada April, dan bulan Agustus, Kuta Selatan masih mencatat 15 kasus.
Baca juga: DBD di Denpasar Tunjukkan Tren Penurunan, Hingga April 2026 Tercatat 96 Kasus
Direktur Utama RSD Mangusada Kabupaten Badung dr. I Wayan Darta mengatakan kasus DBD di Badung mulai mengalami penurunan.
"Kasus DBD ini memang seperti siklus tahunan. Sehingga demam berdarah memang bulan Agustus September Oktober dan Desember kasusnya mulai turun," jelasnya.
Turunnya kasus DBD di Badung dari beberapa bulan terakhir juga dikarenakan mulai meningkatnya kesadaran masyarakat melaksanakan pola hidup bersih dan sehat.
Turunnya kasus juga dibuktikan dengan minimnya pasien yang dirawat di RSD Mangusada dengan diagnosa DBD. Bahkan pada bulan Agustus 2026 pihaknya mencatat hanya dua pasien dengan diagnosa DBD.
"Kalau di RS bulan kemarin hanya ada 2 pasien yang dirawat dengan diagnosa DBD. Sementara bulan ini masih nihil," ucapnya.
Lebih lanjut terkait dengan kemunculan kasus dominan di Wilayah Badung selatan, dr Darta mengaku kemungkinan karena jumlah penduduk padat.
Bahkan sebagian besar juga banyak penduduk pendatang yang belum tentu terjangkitnya di Wilayah Badung selatan.
"Bisa saja, ada warga yang sudah kena DBD diluar, namun karena bekerja di wilayah Badung selatan, dan diperiksa di puskesmas Kuta Selatan, dia masuk data penderita di Badung," imbuhya sembari berharap masyarakat tetap harus melakukan pola hidup sehat dan menjaga lingkungan sekitar tetap bersih untuk terhindar dari penyakit, baik DBD maupun yang lainnya. (*)