MAKALE, TRIBUN-TIMUR.COM - Ratusan siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel, dilarikan ke rumah sakit, Kamis (3/9/2026) pagi, karena diduga keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
SMP Negeri 1 Makale berlokasi di Jl Tritura No 65, Kelurahan Kamali Pentalluan, Kecamatan Makale.
Sedangkan SMPN 2 Makale berlokasi di Jl Pongtiku Km 7, Tobone, Kelurahan Rante, Kecamatan Makale.
Jarak antar dua sekolah ini sekitar 7 kilometer.
Makale adalah ibukota Kabupaten Tana Toraja.
Makale berjarak 196 kilometer dari Kota Makassar.
"Ada tiga rumah sakit di Tana Toraja yang merawat semua korban-korban keracunan, pengaruh makanan MBG," kata Bupati Tana Toraja, dr Zadrak Tombeg SpA.
Dokter spesialis anak itu menyebut, ketiga rumah sakit tersebut, yakni RS Fatimah, RS Sinar Kasih, dan RSUD Lakipadada.
Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah daerah, sebanyak 25 siswa dirawat di RS Fatimah, 41 siswa di RS Sinar Kasih, dan 70 siswa di RSUD Lakipadada.
Sebelum diduga keracunan, para siswa menyantap menu nasi, ayam masak kuning, tempe goreng tepung, sayur tumis (labu siam, wortel dan jagung), serta buah melon, Rabu (2/9/2026).
Namun, kebanyakan siswa baru mengalami keracunan pada Kamis (3/9/26) pagi, saat berada di sekolah.
Ada juga siswa yang mulai merasakan gejala keracunan pada Rabu malam.
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Tana Toraja, Rudy Andi Lolo, mengatakan semua kemungkinan masih didalami.
Pihak pemerintah daerah belum bisa langsung menyimpulkan bahwa ini mutlak akibat makanan MBG, mengingat ada jeda waktu lebih dari 12 jam dari waktu makan hingga munculnya gejala pada (Rabu) malam dan keesokan harinya (Kamis pagi).
"Faktor lain seperti konsumsi makanan di luar sekolah atau kualitas air minum juga sedang diteliti," ujar Sekda Tana Toraja ini
Dia menjelaskan, proses pengujian laboratorium mikrobiologi dan toksikologi oleh BPOM umumnya memerlukan waktu beberapa hari untuk mengidentifikasi apakah terdapat kontaminasi bakteri (seperti Staphylococcus atau Salmonella) maupun zat kimia berbahaya dalam sampel makanan tersebut.
Kasus Keracunan MBG di Sulsel
Peristiwa di Tana Toraja menambah daftar persoalan keamanan makanan dalam pelaksanaan MBG yang pernah muncul di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.
Beberapa bulan sebelumnya, 17 murid SD Negeri 195 Buntu Ampang, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang, mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan MBG.
Kejadian itu berlangsung pada awal April 2026.
Para murid mengalami sejumlah keluhan, antara lain muntah, pusing, lemas dan diare.
Mereka sempat mendapat penanganan di puskesmas terdekat.
Mitra pelaksana MBG di Enrekang kemudian mendampingi para siswa hingga ke rumah masing-masing untuk menjalani pemulihan.
Saat itu, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih dalam proses penyelidikan.
Persoalan serupa juga pernah muncul di Bulukumba.
Di daerah ini, laporan mengenai kualitas makanan maupun siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG muncul dalam beberapa kejadian.
Pada Februari 2026, sejumlah siswa SMAN 6 Bulukumba mendapat perawatan di Puskesmas Tanuntung setelah diduga mengalami keracunan makanan MBG.
Sebelumnya, pada Oktober 2025, dua siswi SMK di Bulukumba juga dilarikan ke RSUD Andi Sultan Daing Raja.
Keduanya dilaporkan mengalami lemas, muntah hingga pingsan setelah mengonsumsi menu berupa nasi goreng, susu dan buah dari program MBG.
Persoalan tidak selalu berujung pada siswa yang jatuh sakit.
Pada September 2025, misalnya, ditemukan pisang dan tempe dalam paket MBG di Bulukumba dalam kondisi disebut berulat.
Beberapa bulan sebelumnya, pada Mei 2025, sebanyak 712 paket makanan di SMPN 2 Bulukumba tidak dikonsumsi siswa karena diduga basi.
Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ketika itu membantah makanan tersebut basi dan menjelaskan kondisi nasi yang basah serta lembek bukan berarti basi.
Sementara pada Januari 2025, sejumlah siswa SD di Bulukumba sempat mengeluhkan mual setelah menyantap menu MBG.
Dinas Kesehatan Bulukumba kemudian menyatakan keluhan tersebut bukan akibat keracunan makanan, melainkan faktor sugesti.(*)