Tragedi Kematian Winda Lorenza Gowasa, Mantan Istri Brigadir Iman Syahputra Harefa: Antara Dugaan Bunuh Diri, Pencemaran Nama Baik, dan Pertarungan Kebenaran
TRIBUN-MEDAN.Com - Di sebuah rumah mewah bercat putih di Komplek Bumi Asri, Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara, Minggu (2/8/2026) sore, suasana mendadak berubah mencekam.
Winda Lorenza Gowasa (35), mantan istri Brigadir Iman Syahputra Harefa, ditemukan tewas dengan luka tembak di kepala.
Senjata api yang digunakan adalah revolver milik sang mantan suami.
Polisi menyebutnya bunuh diri. Namun bagi keluarga, kematian Winda penuh kejanggalan.
Baca juga: Babak Baru Tewasnya Winda Lorenza, Penahanan Suaminya Brigadir Imansyah Harefa Diperpanjang
Ketika jasad Winda dibawa ke rumah duka, keluarga terperanjat. Mereka melihat lebam di tubuh, sayatan di tangan, bahkan memar di kelopak mata.
“Kejanggalan muncul saat jenazah dibawa ke rumah duka, banyak luka lebam, maupun sayatan,” kata kuasa hukum keluarga, Paul JJ Tambunan.
Kecurigaan pun menguat: Winda bukan bunuh diri, melainkan korban pembunuhan.
Baca juga: Pengakuan Sepupu Mendiang Winda Sebut Pernah Dijual Mantan Suami, Polda Sumut Lakukan Pendalaman
Penjelasan Dokter Forensik
Dokter forensik RS Bhayangkara, dr Mistar Ritonga, mencoba menjawab.
Ia menegaskan luka tembak Winda adalah luka tembak tempel. Pistol menempel di kulit saat ditembakkan.
Tidak ada tanda kekerasan fisik lain, kecuali bekas sayatan lama di tangan.
Lebam di leher disebut sebagai perubahan warna mayat, sementara memar di mata akibat pecahnya pembuluh darah di kepala.
Penjelasan medis ini berusaha meredam kecurigaan, tetapi bagi keluarga, luka-luka itu tetap menyisakan misteri.
Baca juga: Brigadir Iman Laporkan 3 Akun Medsos Keluarga Mendiang Winda, Tak Terima Dituduh Jual Istri
Residu Senjata dan Pertanyaan Baru
Laboratorium Forensik Polda Sumut menambah lapisan cerita.
Hasil pemeriksaan menunjukkan residu tembakan ada di tangan kanan dan pakaian Winda, tapi tidak ditemukan pada tubuh maupun pakaian Brigadir Iman.
Secara teknis, ini menguatkan dugaan bunuh diri.
Namun bagi keluarga, hasil itu belum cukup menjawab mengapa Winda meninggal dengan begitu banyak luka.
Baca juga: Brigadir Imansyah tak Terima Dituding Jual Istrinya, Laporkan 3 Akun Medsos Keluarga Winda
Narasi Viral dan Laporan Balasan
Kematian Winda tak berhenti di ruang forensik. Sebuah video viral memperkeruh suasana.
Seorang wanita, diduga sepupu Winda, menyebut bahwa Winda pernah dijual oleh suaminya kepada mantan Wakapolda Sumut pada 2020–2021.
Tuduhan itu mengguncang publik, menyeret nama perwira tinggi yang kini menjabat Kapolda.
Merasa nama baiknya dicemarkan, Brigadir Iman melaporkan tiga akun media sosial keluarga Winda ke Polda Sumut.
Laporan teregister dengan nomor LP/B/1481/IX/2026.
“Laporan sudah diterima, dan tetap akan diproses di Siber,” kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry Walintukan.
Polda juga menegaskan akan memeriksa Iman, yang sebelumnya sudah ditempatkan dalam penahanan khusus (patsus) selama 20 hari, diperpanjang 10 hari.
Baca juga: Polda Sumut Soal Pengakuan Sepupu Sebut Winda Lorenza Dijual Suaminya ke Eks Wakapolda
Pertarungan Dua Narasi
Kini publik disuguhi dua narasi yang saling bertolak belakang.
Polisi menyebut Winda bunuh diri, didukung hasil forensik dan labfor.
Keluarga menolak mentah-mentah, menuding ada pembunuhan, bahkan dugaan eksploitasi oleh suami.
Di tengah itu, laporan pencemaran nama baik menambah kompleksitas, memperlihatkan bagaimana tragedi pribadi berubah menjadi pertarungan hukum dan reputasi.
Baca juga: Polda Sumut Angkat Bicara soal Viral Pengakuan Sepupu Winda Lorenza Dijual Suami ke Eks Wakapolda
Dimensi Sosial dan Psikologis
Kasus ini bukan sekadar kriminal. Ia menyingkap lapisan sosial: relasi kuasa dalam institusi kepolisian, stigma terhadap perempuan yang menjadi korban, serta pertarungan keluarga melawan narasi resmi negara.
Winda, seorang ibu dua anak, menjadi simbol betapa rapuhnya posisi perempuan ketika berhadapan dengan kekuasaan dan aparat.
Hingga kini, Polda Sumut menyatakan semua laporan masih berproses.
Autopsi ulang belum dipastikan.
Keluarga menuntut transparansi, publik menunggu kejelasan.
Di balik semua itu, nama Winda Lorenza Gowasa tetap bergema—sebagai perempuan yang kematiannya membuka luka besar, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi institusi yang dituntut menjaga keadilan.
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: Pengakuan Sepupu Mendiang Winda Sebut Pernah Dijual Mantan Suami, Polda Sumut Lakukan Pendalaman
Baca juga: Babak Baru Tewasnya Winda Lorenza, Penahanan Suaminya Brigadir Imansyah Harefa Diperpanjang