20 Hari Lebih Kebun Warga di Desa Wailulu-Malteng Masih Terbakar, Kades : Lahan Kami Habis
Mesya Marasabessy September 05, 2026 08:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

MALUKU TENGAH, TRIBUNAMBON.COM -Kebakaran melanda hutan dan lahan di Desa Wailulu,  Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, hingga kini api terus membesar. 

Tepat Sabtu 5 September 2026, terhitung telah 20 hari lebih, kebakaran hutan belum teratasi optimal. 

Kepala Pemerintah Desa Wailulu, Muslim Tounussa, mengakui, sejumlah pejabat pemerintah daerah telah turun ke lokasi beberapa waktu lalu. 

Namun, kehadiran mereka hanya meninjau, dan tidak ada tindakan langsung penanganan kebakaran itu. 

Api bahkan masih terus mengancam kebun-kebun warga. 

“Sampai saat ini belum ada perhatian dari pemerintah daerah kepada Katong (kami). Dong pemerintah daerah tinjau saja, tidak ada penanganan,” ungkapnya kepada TribunAmbon.com melalui telepon WhatsApp pada Sabtu (5/9/2026) malam. 

Baca juga: Tugu Tsunami Ambon Diresmikan, Alat Deteksi EWS Dipasang Pantau Peringatan Bencana Alam

Baca juga: LGJI Amboina Kembali di Gelar, 80 Tim Peserta Ikut, Kalangan Anak Muda Hingga Orang Dewasa 

Kebakaran itu telah terjadi sejak sebelum 17 Agustus 2026.

Bahkan saat ditelepon reporter TribunAmbon.com sekitar pukul 20.00 WIT ini, Kepala Desa Wailulu dan masyarakatnya masih berada di kebun untuk memastikan api tidak kembali menjalar.

Namun kata dia, kondisi saat ini api terus membesar. 

“Saya saat ini masih di kebun bersama warga. Api turun membesar,” terangnya. 

Tantangan tersendiri di sana ialah akses air yang begitu jauh. 

Warga harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mengambil air, guna memadamkan api. 

"Kendala memang air terlalu jauh, bisa sampai satu kilo. Ada yang bawa sampai 20 liter, dong pikul. Jadi susah," katanya.

Walaupun tidak ada korban jiwa dalam insiden kebakaran ini. 

Namun, insiden itu membuat warga alami kerugian cukup banyak karena ratusan hektar kebun menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat hangus terbakar. 

Sejumlah tanaman produktif seperti kelapa, cokelat, pala, dan cengkeh ikut terbakar.

"Kalau mau hitung seluruhnya ribu, karena ini hitung dua negeri," ujarnya.

Sementara itu, penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui. 

Kepala Desa mengharapkan akan ada penanganan 

“Perlu adanya penanganan dari pemerintah daerah. Lahan kami telah habis,” pintanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.