TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Sekitar 600 hektare lahan sawah di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terancam kekeringan.
Tanaman padi yang baru memasuki beberapa pekan masa tanam (MT) 2 tersebut terancam kekurangan air akibat kondisi pengairan.
Untuk menyelamatkan tanaman padi dari ancaman gagal panen, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek bersama sejumlah pihak berupaya mendapatkan tambahan pasokan air.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni dengan membuka aliran air dari Bendungan Tugu.
Tanaman padi yang terancam kekeringan tersebut tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Durenan.
Di antaranya Desa Durenan, Desa Malasan, Desa Sumbergayam, Desa Pakis, dan Desa Karanganom.
Baca juga: Warga Wonorejo Tulungagung Ancam Blokade Kantor Pemkab dan Waduk, Tuntut Perbaikan Jalan 6,6 Km
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek, Imam Nurhadi, mengungkapkan tanaman padi yang terancam kekeringan memiliki usia tanam sekitar 30 hingga 65 hari.
"Jadi, tanaman kita di Desa Durenan yang standing crop-nya usia masih berkisar 30 sampai 65 harian itu terancam kekeringan, termasuk di Desa Malasan, Desa Sumbergayam, Desa Pakis, dan Desa Karanganom," terang Imam Nurhadi, Senin (7/9/2026).
Menurut Imam, kondisi tersebut membuat Dispertapan Trenggalek harus mencari langkah penyelamatan agar tanaman padi tidak mengalami gagal panen.
Selain memanfaatkan bantuan sumur dan pompa air, Dispertapan Trenggalek bersama sejumlah pihak berupaya membuka aliran air dari Bendungan Tugu.
"Kita berupaya penyelamatan 600 hektare terancam kekurangan air. Musim tanam ini, sehingga jalan satu-satunya itu selain penggunaan bantuan sumur, pompa air, kita berusaha membuka Bendungan Tugu," jelasnya.
Aliran Bendungan Tugu Dibuka Setiap 10 Hari
Imam menjelaskan pembukaan aliran Bendungan Tugu merupakan hasil kesepakatan bersama sejumlah instansi.
Kesepakatan tersebut melibatkan Dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, hingga pengelola Bendungan Tugu.
Namun, pembukaan aliran Bendungan Tugu tidak dilakukan secara terus-menerus.
Aliran air dibuka dan ditutup secara berkala untuk menyesuaikan kebutuhan pengairan persawahan di wilayah yang terancam kekeringan.
"Per 10 hari itu kita buka. Tentu saja aliran melalui utama Ngasinan, ini yang masuk sungai di dekat Sumbergayam. Itu kita lakukan 10 hari," bebernya.
Dalam sekali pembukaan, debit air dari Bendungan Tugu yang dialirkan mencapai sekitar 3 meter kubik per detik.
"Kita buka 3 meter kubik per detik. Itu nanti 10 hari dibuka, 10 hari ditutup. Insyaallah tiga kali," imbuhnya.
Satu Kali Pembukaan Bendungan Tugu Sudah Dilakukan
Hingga Senin (7/9/2026), pembukaan aliran Bendungan Tugu untuk membantu pengairan sawah di Kecamatan Durenan telah dilakukan sebanyak satu kali.
Imam menambahkan, aliran air yang dibuka tersebut telah mencukupi kebutuhan pengairan untuk luasan tanaman padi yang terancam kekeringan.
"Sudah satu kali dibuka. Alhamdulillah sudah mencukupi untuk luasan tersebut. Sudah tertutup yang Pakis disedot ke arah Desa Pakis," ujarnya.
Dispertapan Trenggalek berharap pemanfaatan air dari Bendungan Tugu dapat memberikan dampak besar terhadap upaya penyelamatan tanaman padi yang saat ini masih dalam masa pertumbuhan.
"Harapannya dengan pembukaan Tugu ini, saya kira pemanfaatannya luar biasa. Standing crop-nya 600 hektare, kita akan panen. Bendungan Tugu dimanfaatkan benar-benar," ulasnya.
Air Bendungan Tugu Bisa Tekan Biaya Petani
Selain menyelamatkan tanaman padi dari ancaman kekeringan, pemanfaatan air Bendungan Tugu untuk pengairan pertanian dinilai dapat membantu menekan biaya yang harus dikeluarkan petani.
"Manfaatnya luar biasa. Kita bisa mengairi pengairan kita dengan biaya yang minim," bebernya.
Menurut Imam, pengairan tersebut terutama dibutuhkan untuk mendukung tanaman padi yang saat ini memasuki Musim Tanam (MT) 2.
Ia menegaskan ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik hingga memasuki masa panen.
Terlebih, terdapat wilayah yang menerapkan program dari Kementerian Pertanian (Kementan), yakni Pertanian Modern - Advanced Agriculture System (PM-AAS), yang membutuhkan ketersediaan aliran air.
"Yang dialiri MT 2. Butuh air, PMA-AS butuh air, harus benar-benar tersedia," tutupnya.
(Madchan Jazuli/Trenggalek)