Alasan Kelelawar Tetap Sehat dengan Virus di Tubuhnya
Nasywa Fakhirah September 07, 2026 10:30 PM

Liputan6.com, Washington D.C - Para ilmuwan sudah sejak lama tertarik dengan satu pertanyaan tentang kelelawar, yaitu bagaimana mamalia yang bisa terbang ini membawa virus yang mematikan di dalam tubuhnya padahal mereka jarang sakit parah.

Dikutip dari Science Daily, Senin (7/9/2026), sebuah studi yang diterbitkan di Science Advances menemukan bahwa keluarga kelelawar terbesar di dunia memiliki dua salinan gen yang berbeda yang berperan dalam produksi antibodi. Protein khusus ini membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan infeksi. Semua mamalia lain yang diketahui hanya memiliki satu set gen seperti itu.

Penemuan ini memberikan arah berpikir baru tentang evolusi sistem kekebalan tubuh dan bagaimana bermacam jenis hewan merespons penyakit.

"Kami belum pernah melihat hal ini di mamalia sebelumnya," tutur profesor madya bidang ekologi dan biologi evolusioner di Fakultas Sains dan Teknik Universitas Tulane sekaligus koresponden studi tersebut, Hannah Frank.

"Hal ini benar-benar merubah pemahaman kita tentang bagaimana sistem imun mamalia dapat terorganisasi dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang menarik tentang alasan di balik keberhasilan evolusioner kelelawar dan cara mereka merespons virus," lanjut dia.

Penemuan ini dilakukan pada kelelawar vesper, sebuah kelompok yang mencakup lebih dari 500 spesies yang hidup di setiap benua kecuali Antartika. Para ilmuwan sudah lama tertarik pada keberhasilan evolusi yang luar biasa dari kelelawar-kelelawar ini dan sistem antibodi mereka yang tak biasa mungkin bisa menjadi salah satu alasannya.

Antibodi adalah protein berbentuk huruf Y yang terbentuk dari dua rantai protein berat dan dua rantai protein ringan. Pada manusia dan mamalia lainnya yang sudah diketahui, rantai berat diproduksi menggunakan satu set gen.

Perbedaan Antibodi di Kelelawar Vesper

Virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang ditularkan ke babi atau hewan pembawa lainnya. (Foto: Unsplash/Waldemar)
Virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang ditularkan ke babi atau hewan pembawa lainnya. (Foto: Unsplash/Waldemar)

Frank dan para rekannya menemukan bahwa kelelawar vesper berbeda. Mereka memiliki dua sistem gen rantai berat yang terpisah, yang berpotensi memberi mereka cara lain untuk menghasilkan beragam antibodi yang lebih luas.

Para peneliti mempelajari sistem kekebalan tubuh kelelawar biasanya lebih fokus pada sistem imun bawaan. Frank berkata temuan baru ini menunjukkan kenapa sistem kekebalan adaptif, bagian yang bertanggung jawab dalam memproduksi antibodi, juga layak untuk diteliti lebih mendalam.

"Kami berpikir penemuan ini adalah potongan teka-teki yang penting," tutur Frank.

"Penemuan ini belum secara utuh menjelaskan kenapa kelelawar menjadi reservoir virus yang sangat efektif, tapi mengungkapkan adanya keragaman sistem imun tubuh yang belum diketahui sebelumnya serta membuka arah penelitian yang benar-benar baru," jelas dia.

Frank menjelaskan, kelelawar memiliki peran ekologis yang penting sebagai penyerbuk, penyebar biji, dan pengendali hama alami. Mereka juga merupakan inang alami untuk banyak virus.

Mempelajari bagaimana kelelawar bisa hidup bersama virus tersebut tanpa jatuh sakit pada akhirnya bisa membantu para peneliti memahami respons kekebalan pada spesies lain dengan lebih baik. Pengetahuan ini juga bisa berkontribusi pada pengembangan strategi yang lebih baik untuk mengurangi risiko penularan penyakit pada spesies lain.

“Kami sudah belajar banyak sekali tentang sistem imun dengan mempelajari manusia dan tikus laboratorium,” ucap Frank.

“Tapi alam liar lebih bervariasi dari itu. Setiap kami mempelajari spesies yang memiliki cara berbeda untuk berevolusi, kami punya kesempatan untuk menemukan sesuatu yang sangat baru," tutup dia.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.