Bandara Soetta Kembali Ditutup, Dosen ITB Jelaskan Bahaya Abu Vulkanik Masuk ke Mesin Pesawat
Rr Dewi Kartika H September 08, 2026 12:11 AM

TRIBUNJAKARTA.COM - Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, kembali ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Penutupan operasional Bandara Soetta diperpanjang hingga pukul 24.00 WIB, Senin (7/9/2026).

Perpanjangan penutupan dilakukan untuk memberikan waktu kepada pengelola bandara dan maskapai membersihkan fasilitas penerbangan dari paparan abu vulkanik, termasuk runway, taxiway, apron, hingga pesawat.

Abu vulkanik menjadi salah satu ancaman serius bagi keselamatan penerbangan karena tidak hanya dapat mengganggu fasilitas di bandara, tetapi juga berisiko masuk ke dalam mesin pesawat.

Dosen Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Santoso, menjelaskan alasan abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami masyarakat.

Mesin Pesawat Bekerja pada Suhu Sangat Tinggi

Imam menjelaskan, bagian dalam mesin pesawat memiliki komponen logam yang berputar dan bekerja pada lingkungan dengan temperatur sangat tinggi.

Menurutnya, suhu di dalam mesin pesawat dapat mencapai sekitar 1.700 derajat Celsius.

Masalahnya, logam yang digunakan pada komponen tersebut memiliki batas ketahanan temperatur yang lebih rendah.

“Ibu-ibu, ketika naik pesawat, di kanan kiri ada mesin pesawat yang berputar, kan? Itu di dalamnya suhunya bisa mencapai 1.700 derajat Celsius. Di dalamnya ada logam yang berputar. Logam ini titik lelehnya sekitar 1.300 derajat Celsius,” kata Imam dikutip TribunJakarta.com dari Instagram, pada Senin (7/9/2026).

Karena komponen logam tersebut harus tetap bekerja pada temperatur yang sangat tinggi, diperlukan lapisan pelindung.

“Gimana biar enggak rusak? Dia dilapisi oleh keramik,” ujarnya.

Keramik tersebut berfungsi sebagai pelindung sehingga panas yang sangat tinggi di dalam mesin tidak langsung merusak komponen logam.

“Keramik ini namanya zirconia yang distabilkan dengan yttria. Keramik ini titik lelehnya di atas 2.000 derajat Celsius. Oleh karena itu, logam tadi yang berputar akan terlindungi dari suhu 1.700 derajat tadi karena ada lapisan pelindung atau coating ini,” jelasnya.

Abu Vulkanik Bisa Meleleh di Dalam Mesin

Persoalan muncul ketika abu vulkanik masuk ke dalam mesin pesawat.

Abu tersebut dapat meleleh dan kemudian menempel pada lapisan pelindung komponen mesin.

“Tapi bila ada abu vulkanik yang masuk ke dalam mesin pesawat terbang, dia akan meleleh,” kata Imam.

Ia menjelaskan, lelehan abu vulkanik tersebut dapat menempel pada coating atau lapisan keramik yang melindungi komponen logam.

“Abu vulkanik yang meleleh ini akan menempel pada coating ini. Ketika dia menempel dalam kondisi meleleh, dia bisa menutupi pori-pori sehingga bisa mengganggu proses pendinginan pada turbin,” jelasnya.

Gangguan pada lapisan tersebut menjadi persoalan karena sistem pendinginan pada komponen turbin diperlukan agar komponen dapat tetap bekerja pada kondisi temperatur ekstrem.

Selain mengganggu proses pendinginan, lelehan abu vulkanik juga dapat bereaksi dengan lapisan keramik.

“Selain itu, lelehan ini bisa bereaksi dengan keramik ini dan melarutkan atau menarik keluar yttria, sehingga zirconia akan kehilangan kestabilannya dan kekuatannya ketika mendingin,” ujar Imam.

Ketika temperatur kembali turun, kerusakan pada lapisan pelindung tersebut dapat semakin parah.

“Ketika mendingin, zirconia tadi bisa mengalami perubahan struktur dan ekspansi, sehingga lapisan keramiknya bisa retak dan akhirnya terkelupas atau rontok,” lanjutnya.

Kenapa Abu Vulkanik Bisa Meleleh?

Imam menjelaskan, abu vulkanik memiliki berbagai kandungan mineral dan oksida, di antaranya silika, alumina, serta Fe2O3.

“Berikutnya adalah kenapa abu itu titik lelehnya rendah. Abu itu di dalamnya ada silika, ada alumina, dan juga ada Fe2O3,” katanya.

Menurut Imam, silika maupun alumina dalam kondisi murni memiliki titik leleh yang tinggi.

“Kalau dia silika murni, Al2O3 murni, dia titik lelehnya tinggi, sekitar 1.700 derajat Celsius,” jelasnya.

Namun, abu vulkanik bukanlah silika atau alumina murni. Di dalamnya terdapat berbagai senyawa lain, termasuk Na2O dan CaO.

Keberadaan senyawa tersebut dapat menurunkan temperatur leleh campuran material silikat.

“Tapi bila di dalam abu vulkanik itu ada Na2O, ada CaO, dia bisa menurunkan titik leleh silika tadi yang awalnya sekitar 1.700 derajat Celsius bisa menjadi sangat rendah, misalnya bisa sampai mencapai sekitar 800 derajat Celsius,” ujar Imam.

Dengan kondisi tersebut, abu vulkanik yang masuk ke lingkungan mesin pesawat dengan temperatur sekitar 1.700 derajat Celsius dapat mengalami pelelehan.

“Oleh karena itu, ketika abu tadi masuk ke dalam mesin pesawat terbang yang suhunya 1.700 derajat Celsius, otomatis abu tadi akan meleleh, akan bereaksi dengan keramik yang melindungi logam tadi, dan keramik ini bisa rusak,” kata dia.

Penjelasan tersebut menunjukkan mengapa paparan abu vulkanik menjadi persoalan serius bagi penerbangan.

Lelehan tersebut kemudian dapat membentuk endapan pada komponen mesin, mengganggu sistem pendinginan, serta merusak lapisan pelindung yang menjaga komponen logam dari panas ekstrem.

Karena itu, penutupan bandara ketika terdapat sebaran abu vulkanik bukan sekadar persoalan jarak pandang atau kebersihan landasan pacu.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.