SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (FH USK) menggelar seminar internasional bertajuk "Exploring Aceh's Special Autonomy, Islamic Law, and Sultanate Heritage" di Aula FH USK, Banda Aceh.
Forum akademis yang diinisiasi oleh International Class Program (ICP) FH USK ini diselenggarakan khusus untuk menyambut kunjungan mahasiswa (student visit) dari Kiel University, Jerman.
Wakil Dekan I FH USK, Muhammad Ya'kub Aiyub Kadir, SAg, LLM, PhD, menyampaikan bahwa kegiatan akademis ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan fakultas.
Selain dirinya, turut hadir Wakil Dekan II Dr Muhammad Insa Ansari, SH, MH, serta Wakil Dekan III Lia Sautunida, SH, MCL, PhD.
Inisiatif akademis lintas negara ini diselenggarakan sebagai bagian dari komitmen nyata FH USK dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Dirangkum Serambinews.com dari berbagai sumber, SDGs merupakan agenda global PBB yang memuat 17 poin arah pembangunan berkelanjutan hingga tahun 2030.
Tujuannya ialah untuk memastikan pemerataan hasil pembangunan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Baca juga: Perkuat Jejaring Global, FH USK Sambut Mahasiswa Kiel University Jerman Lewat Seminar Internasional
Cakupan agenda global ini meliputi berbagai isu strategis dunia, mulai dari pengentasan kemiskinan dan pemenuhan layanan dasar hingga perlindungan lingkungan serta penguatan perdamaian.
Secara spesifik, seminar internasional FH USK ini menyasar tiga pilar utama SDGs sekaligus.
Kegiatan ini mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan forum pembelajaran internasional yang inklusif, serta SDG 16 terkait Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh lewat penguatan kajian hukum dan otonomi daerah.
Selain itu, kolaborasi akademis bersama Kiel University ini menjadi wujud nyata pelaksanaan SDG 17 dalam membangun kemitraan global untuk mencapai tujuan bersama.
Seminar internasional ini menghadirkan dua pembicara utama (keynote speaker) yang memberikan perspektif mendalam lintas disiplin ilmu.
Kedua narasumber tersebut adalah Dekan FH USK Prof Dr Zahratul Idami, SH, MHum, dan akademisi dari Kiel University, Dr Cosima.
Prof Zahratul Idami membawakan materi bertajuk "A Journey from Resistance to Peace in Modern Aceh: Special Autonomy, Sharia Law, Conflict, and Democratization".
Dalam pemaparannya, ia mengulas perjalanan sejarah dan dinamika hukum di Aceh secara komprehensif, mulai dari era kesultanan, masa konflik, hingga lahirnya perdamaian melalui implementasi Otonomi Khusus (Otsus) dan penerapan Hukum Syariat.
Ia juga turut menjelaskan bagaimana dinamika tersebut membentuk proses demokratisasi modern di Aceh.
Baca juga: FKep USK Resmikan Professional Training Center untuk Cetak Perawat Go Internasional
Sementara itu, Dr. Cosima memaparkan materi bertajuk "Cultural Geography and Board Games".
Ia memberikan sudut pandang interdisipliner mengenai bagaimana geografi budaya dapat dipahami lewat pendekatan media interaktif berupa permainan papan (board games).
Pendekatan ini membuka ruang diskusi baru yang menyegarkan bagi para peserta seminar.
Suasana penuh kehangatan dan keakraban tampak menyelimuti jalannya seminar di Aula FH USK.
Para pimpinan fakultas dan penceramah duduk sejajar di meja panel utama.
Penyampaian materi melalui mikrofon yang dibantu dengan layar monitor besar di samping meja utama untuk menampilkan paparan presentasi.
Sesi diskusi berjalan sangat dinamis dan interaktif.
Para mahasiswa dari Kiel University maupun FH USK secara aktif mengajukan pertanyaan seputar pengalaman panjang Aceh dalam menjaga perdamaian, mengelola otonomi khusus, hingga merawat kebudayaannya.
Ya'kub Aiyub mengatakan, penyelenggaraan acara ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan sejarah, hukum syariat, dan warisan kebudayaan lokal Aceh ke panggung dunia.
"Selain memperluas wawasan akademis, program student visit ini diharapkan dapat mempererat kerja sama internasional serta membuka peluang penelitian dan pendidikan berkelanjutan antara FH USK dan Kiel University demi mendukung agenda pembangunan global," imbuhnya.
(Serambinews.com/Yeni Hardika)