TRIBUNSTYLE.COM - Kasus siswi asal Karo, Sumatera Utara, yang mengalami gangguan ingatan setelah diduga keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah menjadi sorotan.
Kali ini, analisis seorang dokter bernama Ferry Kusmalingga mengenai hasil pemeriksaan laboratorium sampel makanan dalam kasus tersebut ramai diperbincangkan. Melalui unggahan di akun Threads yang ia posting pada Selasa (8/9/2026), dokter Ferry membuat analisis mengenai apa yang terjadi berdasar pada hasil laboratorium dari empat instrumen yakni nasi, ikan dan saus, melon, serta sampel muntah dari siswa bersangkutan.
Dipantau Tribun Style dari akun Threads @dr.ferrykslg, unggahan yang dibuat dokter Ferry telah dikomentari dan dibagikan ribuan orang.
Ia mengulas sejumlah bakteri yang ditemukan pada makanan dan muntahan siswa, sekaligus mencoba menjelaskan kemungkinan hubungan antara keracunan dengan kondisi medis yang dialami korban.
Dalam utasnya, Dokter Ferry menegaskan bahwa persoalan gangguan saraf hingga amnesia merupakan hal yang kompleks. Ia juga mengingatkan bahwa dirinya tidak memeriksa pasien secara langsung sehingga penjelasannya merupakan kemungkinan medis yang masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Berdasarkan hasil laboratorium yang dianalisisnya, terdapat tiga jenis bakteri yang ditemukan pada sejumlah sampel dalam kasus keracunan MBG di SMA Berastagi, Karo.
Bakteri Bacillus cereus ditemukan pada sampel nasi. Sementara itu, Staphylococcus aureus terdeteksi pada ikan dan saus yang berasal dari sekolah serta sampel muntahan siswa.
Adapun bakteri E. coli ditemukan pada sampel melon. Dalam pemeriksaan yang dibaca Dokter Ferry, tidak ditemukan Salmonella pada sampel yang diperiksa.
Dokter Ferry kemudian menjelaskan karakteristik masing-masing bakteri tersebut. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Staphylococcus aureus.
“Salah satu penyebab keracunan yang sudah jelas karena ditemukannya Staphylococcus aureus dalam sampel,” tulis Dokter Ferry dalam utasnya.
Menurut penjelasannya, bakteri tersebut dapat mencemari makanan melalui tangan penjamah makanan, kulit, maupun hidung. Bakteri kemudian dapat berkembang apabila makanan disimpan dalam kondisi suhu yang tidak tepat.
Yang menjadi persoalan, Staphylococcus aureus dapat menghasilkan enterotoksin yang tahan panas. Artinya, meskipun bakterinya dapat mati ketika makanan dipanaskan, toksin yang dihasilkan belum tentu ikut hilang.
Dokter Ferry menyebut toksin tersebut dapat menyebabkan sejumlah gejala keracunan makanan seperti muntah hebat, mual, kram perut, dan diare.
Selain Staphylococcus aureus, perhatian juga tertuju pada Bacillus cereus yang ditemukan dalam sampel nasi.
Bakteri ini merupakan bakteri pembentuk spora dan kerap dikaitkan dengan makanan tinggi karbohidrat. Menurut Dokter Ferry, risikonya dapat meningkat apabila makanan dimasak dalam jumlah besar, terlalu lama berada pada suhu ruang, atau tidak disimpan dengan benar.
Ia juga menjelaskan bahwa toksin tertentu yang dihasilkan bakteri tersebut dapat bertahan meskipun makanan dipanaskan kembali.
“Bakteri ini dapat menghasilkan toksin yg menyebabkan muntah atau diare akut,” tulisnya.
Sementara itu, temuan E. coli pada melon menjadi perhatian lain, terutama karena beberapa strain bakteri tersebut dapat menimbulkan komplikasi serius.
Dokter Ferry menyebut strain tertentu seperti STEC dapat menyebabkan diare berat atau berdarah, kerusakan sel darah, penurunan trombosit, hingga cedera ginjal akut melalui komplikasi yang dikenal sebagai HUS atau hemolytic uremic syndrome.
Penjelasan tersebut disampaikan ketika ia menanggapi adanya laporan mengenai korban yang mengalami gangguan pada ginjal.
Baca juga: Siswa Korban Keracunan MBG di Karo Alami Gangguan Ingatan, Sempat Dirawat di RSUP Adam Malik
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana kasus keracunan makanan dapat dikaitkan dengan gangguan saraf hingga hilangnya ingatan yang dialami siswi tersebut.
Dokter Ferry menilai jawabannya tidak sederhana. Ia tidak menyimpulkan bahwa salah satu bakteri yang ditemukan secara langsung menyebabkan amnesia, melainkan memaparkan beberapa kemungkinan yang perlu diperiksa lebih lanjut.
“Sebenarnya sangat complex ya. Kemungkinan nya banyak,dan karena saya tidak memeriksa pasien secara langsung, saya coba bahas kemungkinan yang terjadi ya,” tulisnya.
Salah satu kemungkinan yang ia soroti adalah dehidrasi berat. Muntah dan diare secara terus-menerus dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan.
Dalam kondisi berat, tekanan darah dapat turun dan aliran darah menuju organ-organ penting ikut berkurang. Jika aliran darah ke ginjal menurun, kondisi tersebut juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya cedera ginjal akut.
Untuk keluhan yang berkaitan dengan otak dan sistem saraf, Dokter Ferry menyebut kemungkinan syok atau sepsis juga perlu diperiksa.
“Untuk infeksi saraf otak,perlu diperiksa kembali kemungkinan adanya syok / sepsis,” tulisnya.
Dengan demikian, berdasarkan analisis tersebut, gangguan ingatan tidak serta-merta dapat disebut sebagai efek langsung dari bakteri yang ditemukan dalam makanan. Diperlukan evaluasi medis lebih mendalam untuk mengetahui mekanisme sebenarnya yang terjadi pada pasien.
Dokter Ferry juga mengingatkan bahwa pemeriksaan laboratorium yang dibahasnya hanya mencakup beberapa jenis bakteri, yakni Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.
Karena itu, ia menilai masih terdapat kemungkinan penyebab lain yang belum teridentifikasi dari panel pemeriksaan tersebut.
Keracunan massal, menurutnya, juga dapat berkaitan dengan virus, bakteri lain, parasit, toksin tertentu, kontaminasi bahan kimia, pestisida, maupun logam.
Artinya, temuan tiga bakteri tersebut menjadi bagian penting dalam penyelidikan, tetapi belum dapat digunakan untuk menyimpulkan seluruh penyebab kondisi medis yang dialami korban.
Baca juga: Siswa di Karo Diduga Alami Hilang Ingatan Usai Santap Menu MBG, Ikan Tongkol Disebut Pahit dan Keras
Di bagian akhir utasnya, Dokter Ferry berharap kasus tersebut menjadi perhatian serius dan mendorong evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, termasuk standar dapur.
“Semoga BGN segera menindak dan mengevaluasi serius program ini. Satu kasus keracunan sudah terlalu banyak, saya berharap tidak ada lagi kasus seperti ini,” tulisnya.
Ia juga mengingatkan orang tua agar mengajarkan anak untuk mencuci tangan sebelum makan serta tidak mengonsumsi makanan yang sudah berubah bau atau rasanya.
“Jangan makan makanan yang sudah berbau / rasa nya sudah aneh,” pesannya.
Analisis tersebut pun kembali membuka perhatian terhadap pentingnya keamanan pangan dalam penyediaan makanan untuk anak-anak. Namun, untuk memastikan penyebab gangguan ingatan dan kondisi medis lainnya pada siswi tersebut, pemeriksaan langsung serta evaluasi medis dan laboratorium secara menyeluruh tetap diperlukan.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Medan Donal Simanjuntak merespon soal siswa Asal Kabupaten Karo, Sumut Febiona Purba (16) yang diduga mengalami gangguan ingatan setelah keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya beberapa waktu lalu.
Dikatakan Donal, hingga saat ini pihak BGN selalu mendampingi pasien beserta keluarganya untuk penyembuhan Febiona sejak awal perawatan.
Donal mengatakan, ia tak bisa merinci kondisi pasien. Menurutnya, kondisi pasien hanya bisa dijelaskan oleh dokter yang menangani.
Meski begitu, kata Donal, ia pastikan seluruh penanganan pasien akan ditanggung jawabi oleh pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah setempat.
"Bersama pemda kita sudah melakukan penanganan pelayanan kesehatan pada tingkat pertama di RS di Kab. Karo, kemudian dengan pertimbangan teknis medis perlu dirujuk ke RS di Medan (RS Haji Medan dan RS Bina Kasih Medan)," ucapnya kepada Tribun Medan, Selasa (8/9/2026).
Dikatakannya, untuk Febiona sendirian sebelumnya sudah ditangani dengan baik dan bisa kembali ke rumah.
'Selanjutnya sudah ditangani dengan baik termasuk pemeriksaan medis lengkap dan sudah pulang,"katanya.
Namun, lanjutnya, pihak rumah sakit memberikan jadwal kontrol ke RS Adam Malik. Untuk itu, Febiona kembali mendatangi rumah sakit.
"Namun dokter penanggung jawab masih memberikan jadwal kontrol kepada pasien. Hari ini pasien atas nama Febiona Purba melaksanakan kontrol ke RS Adam Malik sekaligus mendapatkan hasil pemeriksaan medis dari dokter," jelasnya.
Ditegaskannya, Dari awal siswa yang diduga keracunan MBG, terus didampingi pihaknya hingga hari ini.
"Pada prinsipnya kantor BGN tetap mendampingi pasien selama kontrol termasuk jika membutuhkan tindakan medis jika dibutuhkan berdasarkan rujukan dokter penanggung jawab," jelasnya. (Tribun Style)