Ulama Aceh Barat Ingatkan Konser Musik di Aceh Wajib Selaras dengan Syariat Islam
Faisal Zamzami September 08, 2026 08:38 PM

 

 


Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Sa’dul Bahri | Aceh Barat

SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Musik dan hiburan menjadi bagian dari kegiatan masyarakat. Namun, di Aceh, setiap kegiatan yang melibatkan banyak orang diharapkan tetap berjalan seiring dengan nilai agama, adat, dan kekhususan daerah.

Hal itu disampaikan Pengurus Wilayah Himpunan Ulama Dayah Aceh (PW HUDA) Aceh Barat menyusul pelaksanaan konser musik yang digelar PT MIFA di Aceh Barat.

Ketua PW HUDA Aceh Barat, Abu Abdurrahman, Selasa (8/9/2026), mengatakan pihaknya tidak bermaksud menghambat kegiatan hiburan maupun investasi yang berlangsung di Aceh.

Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana setiap kegiatan dapat diselenggarakan dengan tetap menghormati nilai-nilai Islam dan ketentuan Syariat Islam yang berlaku di Aceh.

“Kami tidak anti terhadap investasi maupun kegiatan hiburan. Tetapi, semua pihak yang berkegiatan di Aceh wajib menghormati kekhususan Aceh sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam,” ujar Abu Abdurrahman.

Baca juga: Hasil Audiensi Wali Kota dengan MPU, Pemko Lhokseumawe Cabut Rekomendasi Konser Dewa 19

Ia berharap kegiatan seni, budaya, dan hiburan ke depan dapat direncanakan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk ulama dan lembaga terkait. Dengan demikian, kegiatan yang digelar dapat diterima masyarakat dan tidak menimbulkan keresahan.

PW HUDA Aceh Barat juga berharap penyelenggaraan kegiatan berskala besar di Aceh ke depan diawali dengan komunikasi yang lebih baik antara pemerintah, perusahaan, penyelenggara kegiatan, ulama, dan tokoh masyarakat.

Koordinasi tersebut dinilai penting agar setiap kegiatan yang digelar dapat menyesuaikan dengan kondisi sosial, adat, serta ketentuan Syariat Islam di Aceh.

Abu Abdurrahman mengajak seluruh pihak menjaga keseimbangan antara pembangunan dan nilai-nilai yang menjadi identitas Aceh.

“Mari kita bangun Aceh yang maju secara ekonomi dan investasi, tetapi tetap kuat dalam agama, adat, dan budaya,” pungkasnya.

Sementara itu, Majelis Syuyukh PW HUDA Aceh Barat, Abu Mahmuddin Usman, atau yang akrab disapa Abu Serambi, mengajak perusahaan dan seluruh pihak yang beraktivitas di Aceh untuk ikut mengambil bagian dalam menjaga nilai-nilai agama.

Menurutnya, penerapan Syariat Islam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga keagamaan. Dunia usaha juga dapat berperan dalam menciptakan suasana kehidupan masyarakat yang tetap selaras dengan nilai agama dan budaya Aceh.

“Kami berharap kepada PT MIFA dan siapa pun yang beraktivitas di Aceh untuk dapat terlibat aktif dalam menerapkan Syariat Islam,” katanya.

Abu Serambi menilai keberadaan perusahaan di Aceh tidak hanya diharapkan memberikan manfaat dalam bidang ekonomi dan pembangunan. Perusahaan juga diharapkan dapat menjadi mitra masyarakat, ulama, dan pemerintah dalam menjaga nilai agama serta budaya setempat.

“Kita sangat menghargai investasi dan kontribusi perusahaan terhadap pembangunan daerah. Namun, kami berharap kontribusi tersebut juga diwujudkan dalam bentuk kepedulian terhadap penerapan Syariat Islam,” ujarnya.

Ia mengatakan kemajuan ekonomi dan kehidupan keagamaan tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya justru dapat tumbuh bersama jika seluruh pihak memiliki komitmen yang sama.

“Kita ingin Aceh maju, investasi berkembang, dan masyarakat sejahtera. Tetapi semuanya harus berjalan dalam bingkai Syariat Islam,” kata Abu Serambi. (sb)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.