Oleh: Baharuddin Moenta
Arsitek Narasi Publik & Digital Reputation Strategist
Dari situlah kesan pertama sering terbentuk. Padahal orang yang dicari mungkin belum pernah kita temui. Inilah dunia baru yang sering tidak kita sadari. Reputasi digital.
Belajar dari Gowa
Polemik yang menimpa Bupati Gowa Hj Sitti Husniah Talenrang beberapa waktu lalu memberi pelajaran menarik.
Saya tidak ingin masuk ke substansi benar atau salah dari berbagai tudingan yang muncul. Itu wilayah hukum, politik, dan proses pemeriksaan yang harus dihormati.
Ada satu hal lain yang jauh lebih penting untuk kita lihat. Betapa cepat sebuah persoalan berubah menjadi jejak digital.
Bahkan pihak Bupati Gowa menyatakan keberatan karena sebagian isu dinilai telah masuk ke ranah pribadi dan melaporkan sejumlah pihak terkait dugaan pencemaran nama baik.
Apa pun akhir dari persoalan itu, satu pelajaran sudah terlihat. Ketika sebuah isu masuk ke ruang digital, ia tidak mudah kembali menjadi percakapan biasa.
Ia bisa dicari. Dibagikan. Dikutip. Direkam. Diunggah kembali. Dan muncul lagi bertahun-tahun kemudian.
Inilah karakter baru reputasi. Ia tidak hanya hidup di ruang sosial. Ia juga hidup di mesin pencari.
Kita sering terlambat. Selama ini kita sibuk membangun banyak hal. Karier. Jabatan. Bisnis. Karya. Organisasi. Relasi. Pengabdian. Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan.
Membangun reputasi digital. Bukan berarti semua orang harus menjadi influencer. Bukan. Seorang profesor tidak harus menjadi selebritas. Dokter tidak harus menjadi TikToker.
Pengusaha tidak harus mengejar viral. Pejabat tidak harus setiap hari membuat konten. Tetapi ketika orang mencari nama mereka, seharusnya ada rekam jejak yang cukup untuk menjelaskan siapa mereka.
Apa yang mereka kerjakan. Apa keahliannya. Apa kontribusinya. Apa gagasannya. Apa yang sudah mereka lakukan.
Reputasi yang baik belum tentu terlihat secara digital. Ini masalah yang sering kita abaikan. Seseorang bisa mempunyai reputasi sangat baik di dunia nyata.
Bukan karena ia tidak punya reputasi. Reputasinya ada. Tetapi belum terdokumentasi dengan baik di ruang digital.
Sebaliknya, seseorang bisa jauh lebih dikenal secara digital meskipun pengalaman dan kontribusinya belum tentu lebih banyak. Mengapa? Karena jejaknya lebih banyak. Lebih konsisten. Lebih mudah ditemukan. Dan lebih sering dibicarakan.
Di sinilah kita harus mulai memahami bahwa reputasi digital telah menjadi bagian dari reputasi seseorang.
Péter Érdi dalam Ranking: The Unwritten Rules of the Social Game We All Play bahkan menempatkan reputasi sebagai semacam mata uang sosial.
Dalam era internet, ia menilai reputasi digital mempunyai peran yang semakin penting, termasuk karena pengaruh mesin pencari dan cara visibilitas dibentuk.
Bukan sekadar personal branding
Di titik ini mungkin muncul pertanyaan. Bukankah ini personal branding? Tidak persis. Personal branding berbicara tentang bagaimana seseorang ingin dikenal. Reputasi digital berbicara lebih jauh.
Apa yang ditemukan orang ketika mencari kita? Apa yang mereka baca? Apa yang mereka lihat? Siapa yang membicarakan kita? Apa yang dikatakan media? Apa yang dikatakan publik? Apakah ada bukti atas klaim kita? Apakah informasi yang muncul konsisten? Apakah rekam jejak kita mudah ditemukan?
Jadi personal branding dan reputasi digital memang berhubungan. Tetapi tidak sama. Kita bisa membangun personal branding sebagai seorang ahli. Publik tetap membutuhkan bukti. Di situlah reputasi digital bekerja.
Dominique Cardon dalam kajiannya tentang digital reputation di Oxford University Press menunjukkan bahwa reputasi digital tidak sederhana. Ia terbentuk secara kontekstual dan relasional melalui berbagai platform, dan tidak mudah direduksi menjadi satu angka atau satu ukuran popularitas.
Artinya, jumlah pengikut bukan reputasi. Jumlah likes bukan reputasi. Viral bukan reputasi.
Reputasi adalah kepercayaan. Dan di era digital, kepercayaan itu semakin sering dibentuk oleh informasi yang ditemukan secara digital.
Jangan menunggu krisis
Ini bagian yang menurut saya paling penting. Banyak orang baru memikirkan reputasi ketika sedang menghadapi masalah.
Ketika orang mulai mencari namanya. Padahal saat itu kita sedang berlari mengejar keadaan.
Sehingga ketika seseorang mencari nama kita, ia tidak hanya menemukan satu peristiwa. Ia menemukan cerita yang lebih utuh tentang siapa kita. Inilah yang saya sebut sebagai kebutuhan untuk membangun Digital Reputation Management.
Kontribusi harus ada. Kemudian semuanya didokumentasikan, dikomunikasikan, dan dikelola dengan baik di ruang digital.
Reputasi digital adalah investasi
Kita sering menganggap dokumentasi sebagai pekerjaan kecil. Padahal dokumentasi bisa menjadi aset. Sebuah seminar yang kita lakukan hari ini mungkin hanya berlangsung dua jam.
Tetapi jika terdokumentasi dengan baik, ia bisa ditemukan lima tahun kemudian. Sebuah gagasan yang kita sampaikan dalam sebuah forum mungkin hanya didengar puluhan orang.
Inilah nilai reputasi digital. Ia mengubah pengalaman menjadi jejak. Mengubah karya menjadi bukti. Mengubah rekam jejak menjadi aset. Dan aset itu bekerja ketika kita sedang tidak berada di ruangan.
Sekarang ada satu perubahan lagi
Teknologi bahkan mulai memungkinkan reputasi digital dianalisis secara lebih sistematis. Penelitian terbaru telah mengembangkan pendekatan berbasis data, natural language processing, dan analisis sentimen untuk mengukur persepsi yang terbentuk di ruang digital.
Artinya, reputasi digital perlahan bergerak dari sekadar istilah komunikasi menjadi sesuatu yang bisa dipantau, dianalisis, dan dikelola.
Siapa yang membutuhkannya?
Hampir semua orang yang reputasinya memiliki nilai. Politisi. Pejabat publik. Pengusaha. Profesional. Dokter. Akademisi. Pemimpin organisasi. Tokoh masyarakat. Pimpinan perusahaan. Bahkan institusi.
Mereka tidak harus terkenal. Justru orang yang sedang membangun karier dan kepercayaan membutuhkan reputasi digital sejak awal. Karena reputasi tidak dibangun ketika dibutuhkan.
Reputasi dibangun sebelum dibutuhkan. Seorang calon pemimpin seharusnya membangun rekam jejak sebelum masa kampanye. Seorang pengusaha seharusnya membangun kredibilitas sebelum mencari investor.
Seorang profesional seharusnya membangun otoritas sebelum membutuhkan klien. Seorang akademisi seharusnya mendokumentasikan gagasannya sebelum ingin dikenal luas. Begitu pula seorang pejabat. Reputasi digital seharusnya dibangun ketika keadaan normal. Bukan ketika krisis datang.
Kita sedang memasuki era baru
Selama ini kita mengenal public relations. Kemudian personal branding. Lalu social media management. Sekarang kita perlu melihat satu wilayah yang lebih luas. Digital Reputation Management.
Ia mempertemukan komunikasi, media, konten, data, mesin pencari, media sosial, dan teknologi. Tetapi pusatnya tetap satu.
Kepercayaan. Karena pada akhirnya orang tidak membeli produk hanya karena iklan.
Orang tidak memilih pemimpin hanya karena poster. Orang tidak memilih profesional hanya karena gelar.
Apakah ia menemukan karya kita?
Kontribusi kita? Gagasan kita? Prestasi kita? Atau justru sesuatu yang sama sekali tidak menggambarkan siapa kita? Pertanyaan itu sederhana. Tetapi jawabannya semakin penting.
Sebab sebelum orang bertemu kita, mereka mungkin sudah lebih dulu bertemu dengan jejak digital kita. Dan jejak itu, sadar atau tidak, sedang berbicara tentang reputasi kita.(*)