TRIBUNBANTEN.COM - Titik terakhir komunikasi lima jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Banten, mulai terungkap.
Sebelum tak lagi bisa dihubungi, salah satu jurnalis sempat mengabarkan rencana bertemu di Pulau Sebesi.
Kabar tersebut disampaikan M Bagus Khoirunnas, satu dari lima jurnalis foto yang berada di dalam speedboat Arupadhatu 1, kepada seorang jurnalis di Lampung bernama Abay.
Abay merupakan seorang fotografer dari Jakarta yang tengah mengawal peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau dari wilayah Lampung.
Saat itu, Bagus mengabarkan rombongannya telah lebih dulu berangkat dari wilayah Banten dan berencana bertemu di Sebesi.
Komunikasi tersebut terjadi pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.30 WIB, setelah Abay tiba di Dermaga Canti, Kabupaten Lampung Selatan, sedangkan Bagus berada di wilayah Banten.
Baca juga: Karya Fotonya Sempat Diunggah Presiden, Jurnalis Antara Bagus Khoirunnas Hilang Kontak Liput GAK
Hal itu diungkap oleh Riadi Gunawan (29), jurnalis Lampung yang menemani Abay saat itu.
Riadi menceritakan, Abay menyampaikan kepada Bagus bahwa mereka telah berada di Dermaga Canti dan bersiap menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Sementara itu, Bagus mengabarkan bahwa rombongannya di Banten juga tengah menunggu keberangkatan kapal cepat.
Ditambahkan Riadi, rombongan dari Dermaga Canti masih harus menunggu penumpang sampai kapal penuh.
Sekitar pukul 14.30 WIB, Bagus kemudian mengirimkan kabar melalui WhatsApp kepada Abay.
"Beliau (Bagus) memberi tahu bahwa rombongannya sudah lebih dulu berangkat menggunakan speedboat, dan kami direncanakan untuk bertemu di Sebesi," kata Riadi, berdasarkan kronologi komunikasi yang diketahuinya, Rabu (9/9/2026).
Namun, setelah komunikasi tersebut, keberadaan Bagus mulai sulit diketahui.
Pada sekitar pukul 16.00 WIB, kata Riadi, Abay kembali mengirimkan pesan WhatsApp kepada Bagus. Namun, pesan tersebut hanya menunjukkan tanda centang satu.
Upaya menghubungi kembali dilakukan sekitar pukul 17.00 WIB, tetapi pesan yang dikirimkan masih belum terkirim.
Kemudian sekitar pukul 18.00 WIB, sempat muncul balasan dari Bagus. Meski sempat menerima balasan, pesan-pesan berikutnya yang dikirim Abay tetap menunjukkan centang satu.
Riadi mengatakan, setelah itu belum ada informasi lebih lanjut mengenai keberadaan maupun kondisi Bagus.
"Sampai saat ini, belum ada kabar keberadaan maupun kondisi terbaru dari beliau," ujar Riadi.
Sementara itu Abay saat dihubungi ponselnya menjawab namun belum bersedia memberikan statement.
Kapal cepat Arupadhatu 1 yang membawa rombongan jurnalis dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Kapal tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Kapal itu membawa tujuh orang yang terdiri dari lima jurnalis, satu nakhoda dan satu anak buah kapal (ABK).
Lima jurnalis yang dilaporkan berada di dalam kapal tersebut yakni M Bagus Khoirunnas, fotografer Antara Banten; Ari Basuki, jurnalis Merdeka; Yudhis, jurnalis iNews; Daus, jurnalis Anadolu; dan Donal, jurnalis freelance.
LAPORAN AWAL BASARNAS
Berdasarkan informasi Basarnas Banten, laporan mengenai kapal hilang kontak diterima pada Selasa sekitar pukul 13.55 WIB dari Bayu Antara Banten.
Komunikasi terakhir dengan rombongan tercatat pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.42 WIB
Saat itu, salah satu jurnalis sempat mengirimkan posisi terkini kepada jurnalis di Lampung yang disebut bernama Abay.
Namun, sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan kapal tersebut kemudian terputus.
Titik koordinat komunikasi terakhir berada di 6°14'40.52"S 105°40'49.48"E, atau sekitar 9,98 mil laut dari daratan.
Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian terhadap lima jurnalis yang diduga hilang.
Pada Rabu (9/9/2026), area pencarian diperluas dari wilayah Carita hingga kawasan Gunung Anak Krakatau.
Langkah tersebut dilakukan untuk menemukan keberadaan kapal Arupadhatu 1 beserta seluruh penumpang yang berada di dalamnya.
Hingga kini, pencarian masih menjadi perhatian, khususnya bagi rekan-rekan sesama jurnalis yang menunggu kabar mengenai kondisi M Bagus Khoirunnas dan empat jurnalis lainnya.
Bagi Riadi, komunikasi singkat melalui WhatsApp tersebut menjadi salah satu rangkaian informasi penting yang menggambarkan komunikasi dengan Bagus sebelum akhirnya keberadaan rombongan kapal tersebut tidak lagi diketahui.
PENCARIAN HARI KEDUA
Tim SAR Gabungan mengerahkan berbagai peralatan pencarian, termasuk drone thermal, untuk mencari lima jurnalis yang berada di dalam speedboat yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Memasuki hari kedua operasi pencarian pada Rabu (9/9/2026), sebanyak delapan orang yang berada di dalam speedboat tersebut masih belum ditemukan.
Mereka terdiri dari tiga kru dan lima jurnalis yang tengah melakukan aktivitas peliputan di wilayah perairan Selat Sunda.
Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) selaku ABK, dan Heriyanto (49) selaku pemandu (guide).
Adapun lima jurnalis yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.
Kasubsie Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto, mengatakan operasi SAR hari kedua dimulai pukul 07.00 WIB dengan melibatkan sejumlah unsur SAR dan dukungan berbagai sarana pencarian.
"Tim SAR Gabungan terus mengoptimalkan seluruh unsur, sarana, dan peralatan yang tersedia," katanya saat dikonfirmasi, Rabu (9/9/2026).
Untuk memperluas cakupan pencarian, Tim SAR Gabungan membagi operasi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU).
Masing-masing SRU melakukan penyisiran di area yang telah ditentukan berdasarkan perencanaan dan hasil evaluasi operasi sebelumnya.
SRU 1 menggunakan KN SAR Tetuka 247 dengan rencana penyisiran sejauh 68,3 nautical mile (NM) dan spacing 3 NM.
SRU 2 mengerahkan KAL Anyer dengan total rencana penyisiran 69,5 NM dan spacing 3 NM.
Sementara SRU 3 menggunakan RIB 01 Lampung dengan rencana penyisiran 67 NM dan spacing 1 NM.
Adapun SRU 4 menggunakan RIB 02 Banten untuk menyisir wilayah di sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Selain kapal dan perahu karet, operasi pencarian juga didukung drone thermal yang digunakan sebagai salah satu peralatan untuk membantu menemukan tanda-tanda keberadaan korban di area pencarian.
Pencarian melibatkan personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, USS Pandeglang, Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung, serta unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, Balawista, nelayan, masyarakat, dan unsur terkait lainnya.
Sejumlah sarana yang dikerahkan antara lain KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, RIB 03 Lampung, rescue car, truk personel, drone thermal, serta peralatan SAR air, medis, komunikasi, dan perlengkapan pendukung lainnya.
Kondisi cuaca di lokasi pencarian dilaporkan cerah berawan. Angin bertiup dari arah selatan ke utara dengan kecepatan sekitar 14 knot, sementara tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter.
Tim SAR Gabungan akan terus melakukan pencarian dan mengevaluasi area operasi secara berkala dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, arus laut, serta perkembangan informasi dari lapangan.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna jasa transportasi laut, segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan tanda-tanda keberadaan speed boat atau delapan orang yang masih dalam pencarian.